AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PEMBICARAAN BERTIGA


__ADS_3

Ketenangan Andi terusik, Rio telah membuka luka lama dan sakit hati Andi yang terpendam selama ini .


Kini semua emosi dan kekecewaan nya meledak seketika.


Andi langsung menunjukkan aslinya, dengan sekali hentakan, pegangan Rio pada tubuhnya terlepas.


Andi langsung memberikan sebuah hadiah tinju keperut Rio, yang membuat Rio langsung jatuh terjungkal.


Sebelum wasit sempat mencegah.


Andi sudah duduk di atas perut Rio, kedua tangan Rio terjepit oleh kaki Andi.


Rio dalam masalah besar, dengan wajah beringas Andi hendak menyarangkan tinjunya menghabisi nyawa Rio.


Dengan satu kali pukulan itu, Rio pasti tidak akan tertolong lagi.


Karena dalam kemarahan nya, Andi tanpa sadar sudah mengerahkan Fu Mo Se San Cang dalam pukulan nya.


Tubuh awam seperti Rio tidak akan mampu menahan pukulan dahsyat seperti ini.


Melihat perubahan sikap Andi, Viona yang sangat mengenal Andi, tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres pada Andi.


Viona tidak punya pilihan lain, dan dia tidak memiliki waktu untuk berpikir lebih banyak dan menimbang lebih jauh.


Demi keselamatan Rio,


dia buru-buru berteriak kearah Andi


"Andi ku mohon,..! jangan..!"


Mendengar teriakkan suara Viona, seperti air dingin yang menyiram kepala Andi.


Andi menoleh sekilas kearah Viona sambil tersenyum sedih, di dalam hati Andi berpikir,


apa yang mau dia marah dan kesal kan.


Ucapan Rio memang benar, lihat saja sikap Viona saat ini.


Andi lalu dengan sekuat tenaga menyarangkan tinjunya ke bawah.


Tinjunya mengeluarkan sinar berkeredep, sebelum menghantam kebawah.


"Brakkk.."


Viona menjerit kecil dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak berani melihat.


Tinju Andi meluncur deras kebawah, tapi bukan kepala Rio yang jebol, melainkan lantai di sebelahnya yang jebol, hingga melesak kedalam.


Rio tidak mau sia sia kan situasi ini, dia langsung meronta dengan tenaga pinggang dan hentakan tangan nya.


Berusaha melepaskan diri dari kuncian Andi, tanpa kesulitan dia berhasil merubah posisi.

__ADS_1


Kini bergantian dia yang duduk diatas tubuh Andi, sambil mengunci sepasang tangan Andi dengan kedua kakinya.


Rio bisa dengan mudah merubah posisi, adalah karena Andi memang sengaja mengalah padanya.


Bila tidak dengan kemampuannya, jangan harap, dia bisa melepaskan diri dari kuncian Andi.


Kini Andi yang terbaring pasrah dengan tatapan mata putus asa.


Sedangkan Rio terlihat sangat bersemangat.


Dengan Sadis dan tanpa ampun Rio memborbardir wajah dan kepala Andi dengan hujan tinjunya sekuat tenaga.


Andi tidak melakukan perlawanan, dia membiarkan Rio sepuas hati menghajarnya, hingga akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri.


Melihat keadaan Andi, wasit buru-buru menghentikan pertandingan tersebut.


Saat mendengar suara sorak Sorai para penonton yang mendukung Rio, Viona baru berani melihat kearah arena.


Di luar perkiraan nya, yang kini terkapar pingsan tak berdaya di arena bukan lah suaminya, melainkan Andi lah yang pingsan tak bergerak di sana.


Viona terduduk dengan wajah pucat, menatap kearah Andi yang tergeletak tidak bergerak, dengan perasaan di penuhi rasa bersalah.


Saat tim medis datang dan menggotong tubuh Andi, yang diam tak bergerak pergi dari arena.


Viona baru tersadar, dia buru-buru berlari mengejar kearah para medis yang sedang membawa Andi ke mobil ambulance.


Viona tidak lagi memperdulikan suaminya, yang sedang menikmati kemenangannya, dan sedang di kelilingi oleh orang orang yang turut bergembira atas kemenangan Rio.


Dia langsung berlari menghampiri sekelompok para medis yang sedang membawa Andi menuju mobil ambulance.


Dari awal dia hanya berpikir Andi dan Rio akan bersandiwara kemudian memberikan kemenangan ke Rio.


Dia benar-benar tidak menyangka akan berakhir seperti ini.


Tapi langkah Viona di hentikan oleh ko Ahong dan Berry yang mencegatnya dan berkata,


"Buat apa kamu kemari, seharusnya kamu pergi kesana turut merayakan kemenangan suami mu yang tidak tahu malu.."


"Bukankah ini yang kamu inginkan darinya..?"


ucap Berry sambil menahan emosi.


Viona sambil bercucuran air mata terus menggelengkan kepalanya dan berkata.


"Tidak aku.. tidak.."


Tapi dia tidak bisa berkata apa-apa selain terus bercucuran air mata, menatap kearah para medis yang sedang menaikkan Andi ke dalam mobil ambulance.


Viona sangat sedih dan merasa bersalah, hingga tidak tahu mau bicara apa terhadap Ko Ahong dan Berry.


Di sisi lain Violin yang baru sampai dan turun dari mobil taksinya, Dia langsung melihat ada mobil ambulance di lapangan parkir tersebut, dan beberapa petugas medis sedang menggotong dan memasukkan seseorang kedalam mobil tersebut.

__ADS_1


Dia lalu buru-buru berlari menghampirinya, mencoba melihat siapa pasien yang di masukkan kedalam mobil tersebut.


Tapi begitu dia melihat siapa yang yang sedang terbaring di sana dengan wajah sepucat kertas.


Dengan histeris Violin langsung menubruk kearah Andi, memanggil manggil namanya sambil menangis.


Berry yang mendengar suara jerit tangis wanita, dia pun menoleh kearah asal suara tersebut.


Begitu melihat itu adalah Violin, Berry buru-buru berkata,


"Ko kamu urus di sini, aku kesana dulu.."


Ko Ahong mengangguk kecil, kemudian dia kembali menoleh dan menatap Viona dengan wajah dingin.


"Simpan lah airmata munafik mu itu, aku sungguh heran apa yang di lihat oleh Andi dari mu.."


"Sehingga dia begitu bodoh, rela melakukan apa saja demi dirimu.."


"Andi di kehidupan masa lalunya, pasti banyak sekali berhutang pada mu, sehingga dalam kehidupan ini harus bertemu dengan mu.."


ucap ko Ahong dingin.


Viona tidak bisa berkata apa-apa selain terus menangis sedih.


Dia tidak bisa menghampiri Andi karena di cegat oleh ko Ahong di sana.


Dia hanya bisa terus melihat hingga mobil ambulance itu pergi membawa Andi.


Dia lalu buru-buru berlari kearah mobilnya yang parkir tidak jauh dari sana.


Viona langsung mengendarai mobilnya mengejar kearah mobil ambulance itu pergi.


Sementara itu Berry yang buru buru menghampiri Violin, langsung memberi tahu para medis, dia dan Violin adalah keluarga Andi.


Sehingga dia dan Violin diijinkan ikut mendampingi Andi di dalam mobil ambulance tersebut.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Violin terus memanggil manggil nama Andi sambil menangis.


Sedangkan Berry yang tidak mampu mencegahnya, hanya bisa duduk diam di sisinya sambil berdoa untuk kesembuhan Andi.


Andi yang dalam keadaan setengah sadar, saat mendengar suara tangisan di sampingnya.


Akhirnya dia perlahan-lahan sadar dan membuka matanya,


"Lin jangan sedih dan menangis kakak tidak apa-apa kamu jangan khawatir.."


ucap Andi pelan.


Violin dan Berry sangat terkejut, mereka sangat gembira melihat Andi sudah sadar.


"Kakak apa..apa.. yang kamu rasakan saat ini..?"

__ADS_1


tanya Violin menghentikan tangisannya dan menatap Andi dengan cemas.


"Kakak tidak apa-apa, kamu tenang saja.."


__ADS_2