AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PEMBICARAAN DENGAN RIO


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Andi Viona tertegun, dia pun menyadari kecerobohannya yang terbawa perasaan dan suasana.


Untungnya Pria yang sedang bersamanya adalah Andi, laki-laki yang mencintai nya dengan tulus tanpa pamrih.


Semua yang di lakukan dan dipikirkan nya hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan Viona saja.


Demi Viona dia bahkan sudah melupakan dirinya sendiri, yang ada di pikirannya hanya demi Viona dan Viona saja.


Kata-kata Andi membuat Viona semakin kagum dan menghargai Andi, dia semakin merasa berat harus kehilangan pria seperti Andi.


Viona tidak bisa menahan diri untuk maju memeluk Andi dan menangis terharu dalam pelukan Andi.


Untuk sekali ini, Andi tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Viona meluapkan perasaan nya.


Setelah Viona sudah lebih tenang Andi baru berkata,


"Vi bila suatu hari nanti aku tidak berada di sisi mu, kamu harus berjanji pada ku."


"Janji..apa..di ?"


tanya Viona terisak.


"Selalu tersenyum dan hiduplah dengan bahagia, tidak boleh menangis..kamu bisa kan..?"


"Emangnya kamu mau kemana ? bukan kah kita masih sekampus dan masih selalu bisa bertemu dan bersama-sama..?"


tanya Viona cemas dan merasa tidak rela.


Viona menghentikan tangisnya, dia menatap Andi lekat-lekat, ingin mencari jawaban dari mulut dan mata Andi.


Andi Tersenyum dan berkata,


"Ini cuma seandainya saja..kamu mau kan berjanji untuk ku.."


"Tidak ..aku tidak mau berjanji, sebelum kamu menjelaskan dengan jujur rencana mu.."


Andi menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku berencana setelah kamu dekat dengan Rio, aku akan keluar dari kampus P dan pindah dari kota B ini ke kota J."


"Aku ingin mencari pekerjaan sambil kuliah malam.."


"Kenapa di... ? kenapa harus seperti itu..?"


ucap Viona dengan airmata bercucuran berderai membasahi pipinya.


Andi menarik Viona kedalam pelukannya dan berkata,


"Aku akan jelaskan semuanya, tapi kamu tidak boleh bersedih atau menangis..atau aku pasti tidak sanggup menjelaskan semuanya hingga tuntas.."


Viona memeluk Andi dengan erat dan mengangguk, dia hanya mengangguk tidak mau bersuara takut suara tangisnya akan terlepas dan tidak akan bisa dia tahan.


"Begini Vi dengan aku pergi, Rio akan merasa nyaman dan tenang..."


"Sehingga kemungkinan besar, dia tidak akan berpikir untuk berbuat macam-macam dengan mu.."


"Karena dia yakin kamu cepat lambat pasti akan menjadi miliknya."

__ADS_1


"Jadi dia tidak perlu mendapatkan nya dengan cara memaksa, dia akan menunggu mu menyerahkan diri dengan sukarela."


"Dia pasti tidak ingin kamu membencinya, dia pasti menginginkan yang sebaliknya."


"Selain itu ada kemungkinan dia akan terus membantu ayah mu, mengulur jatuh tempo hutang ayah mu.."


"Dengan kepergian ku, kamu akan mendapatkan manfaat yang sangat besar, ketimbang kehadiran ku yang hanya akan mengacau."


"Tanpa manfaat yang jelas.."


"Alangkah lebih baik lagi bila dia bisa menunggu mu, hingga kalian tamat dan menikah dengan resmi."


"Apalagi jika dia bisa dengan tulus mencintai menyayangi dan membahagiakan mu, maka kepergian ku dan mundurnya diri ku ini, akan terasa lebih sempurna."


"Lalu bagaimana dengan perasaan mu, perasaan kita..?"


tanya Viona sedih


"Aku akan mengalah,


asal bisa melihat mu bahagia, aku pun akan turut bahagia."


"Tentang perasaan kita bila kamu dan dia sudah bahagia lupakan saja aku, jangan karena aku malah membuat kalian tidak bahagia.."


"Lain cerita bila dia menyia-nyiakan mu, aku pasti akan kembali untuk mu, biarkan aku yang mengobati luka di hatimu dan akan menemani mu melewati sisa hidup kita.."


"Tidak... tidak..itu sangat-sangat tidak adil buat mu.. tidak boleh seperti itu.."


ucap Viona menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Airmata mulai kembali runtuh membasahi pipinya.


"Vi kamu dengarkan aku,... hidup ini dari awal memang sudah tidak adil.."


"Bila adil tidak akan pernah ada miskin kaya, pejabat tinggi dan rakyat jelata.."


"Bila kita menantang arus, itu hanya akan membuat kita tenggelam dan mati konyol.."


"Kita harus berusaha mencari jalan, agar kita bisa mendapatkan keadilan, caranya adalah berusaha pantang menyerah."


"Membuat diri kita kuat berkuasa, sehingga keadilan akan ada di pihak kita."


Viona terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Selain menatap Andi dengan sedih, menyesal dan dipenuhi rasa bersalah.


Andi tersenyum dan berkata,


"Jangan menatap ku seperti itu, ingatlah aku hanya memenuhi janji ku saja.."


"Kamu masih ingatkan janji ku ?"


tanya Andi sambil berusaha tersenyum.


Viona mengangguk.


"Apa..?"

__ADS_1


tanya Andi.


Viona mengangkat kepalanya menatap Andi sambil mengigit bibirnya perlahan dia berkata,


"Akan selalu memaafkan apapun kesalahan ku, dan tidak pernah akan marah dengan apapun kesalahan yang kulakukan.."


Andi mengangguk sambil tersenyum berkata,


"Nah itu ingat, ayo hapus airmata mu, sekarang sudah pukul 11.30, cuci muka mu kita harus segera ke kampus.."


Viona mengangguk tak berdaya, apa yang di katakan oleh Andi sangat realistis, dia ingin membantah tapi tidak bisa .


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah berjalan keluar dari kost Andi sambil bergandengan tangan menuju kampus.


Selepas kuliah Viona tidak lagi melihat Andi menunggunya di depan kelas, melainkan tergantikan dengan Rio, yang sedang tersenyum menantinya dengan sebungkus bunga ditangan.


Begitu Viona berjalan kearah Rio, Rio langsung maju menghampiri Viona dan berkata,


"Vi maafkan sikap ku kemaren yang tidak terpuji itu , bila perlu aku akan meminta maaf pada Andi.."


"Maukah kamu memaafkan ku, dan menemani ku meminta maaf kepada Andi."


Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak perlu, ayo kita ke kantin saja ngobrolnya.."


Selesai bicara Viona langsung membalikkan badannya berjalan menuju kantin.


Di kantin kampus terlihat Viona duduk saling berhadapan dengan Rio.


"Rio katakanlah dengan jujur apa yang sebenarnya kamu harapkan dan inginkan dari ku.?"


tanya Viona langsung tanpa basa-basi


Mendapatkan pertanyaan terus terang tanpa basa-basi, membuat Rio terkejut sehingga salah tingkah tidak tahu mau jawab apa.


Rio menundukkan kepalanya menghindari tatapan tajam Viona.


Setelah perasaannya tenang, dia baru mengangkat kepalanya menatap Viona dan berkata,


"Aku ingin kamu menjadi kekasih ku.."


"Hanya itu..?"


tanya Viona singkat.


Rio meski terkejut di tantang secara terang-terangan begitu, tapi dia tentu tidak mau kalah.


Dia membalas tatapan Viona dan berkata,


"Aku menginginkan mu, aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya.."


Viona tersenyum dingin dan berkata,


"Boleh saja aku menjadi kekasih mu, tapi hubungan kita hanya sebatas kekasih, saling berpegangan tangan berpelukan tidak lebih.."


Rio tidak mau kalah gertak dia pun berkata,

__ADS_1


"Kalau aku ingin lebih.."


"Boleh saja nikahi aku secara resmi, tapi tidak saat ini, tunggu aku menyelesaikan kuliah ku dulu, setelah itu terserah..."


__ADS_2