AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MENOLONG SARAH


__ADS_3

Rio yang nafasnya sudah memburu, keringat membasahi baju celana rambut dan wajah yang sedikit pucat bisa terlihat jelas oleh Sarah.


Kunci Permainan olahraga adalah fisik dan stamina, bila itu sudah terganggu sehebat apapun Permainan nya akan sulit di lanjutkan.


Di babak kedua ini Rio dan Viona tidak berhasil memberikan perlawanan yang berarti.


Mereka harus menyerah kalah dari Tomy dan Sarah.


Melihat kondisi Rio yang sudah seperti handuk basah, sudah dapat di tafsir, dia dan Viona sudah pasti akan tersingkir di babak ketiga nanti


Tidak akan ada harapan lagi, kini yang tersisa hanya semangat pantang menyerah dari Rio, nafsu besar tenaga gak ada.


Begitu babak ketiga di mulai, Rio beberapa kali jatuh pontang panting bergulingan di lapangan mengejar bola.


Viona tidak bisa bantu banyak, karena tugasnya hanya menjaga bola pendek sama seperti Tomy.


Kini Permainan terlihat lebih seperti Sarah menyiksa Rio, hingga akhirnya point' Tomy dan Sarah 8 Rio dan Viona 0.


Mereka kembali bertukar lapangan, Sarah yang melihat lapangan banyak basah oleh keringat Rio.


Dia meminta panitia agar lapangan di lap kering.


Beberapa petugas pembersih lapangan bergerak cepat membersihkan lapangan.


Setelah itu pertandingan kembali di mulai, memasuki point' 10. 0. Rio yang melihat bola yang diangkat oleh Tomy sedikit nanggung.


Dia melompat untuk memberikan Smash keras.


Melihat hal ini Tomy menundukkan kepalanya kebawah menghindar jadi sasaran Smash Rio.


Sarah bersiaga menangkis dengan bergerak mundur.


Tapi di tengah udara Rio tidak melakukan Smash melainkan memotong bola sehingga bola berputar cepat menuju bagian pinggir lapangan tapi agak sedikit di belakang garis pendek.


Sarah yang bergerak mundur terpaksa terburu-buru bergerak maju, untuk mengambil bola tersebut agar bisa di kembalikan ke arah kanan belakang.


Tapi karena terburu-buru, Sarah terpeleset oleh bekas lantai yang masih basah, karena bekas keringat Rio sebelumnya belum kering.


"Aihhh...! aduh...!"


Jerit Sarah kaget Kemudian dia terlihat terduduk memegangi lututnya meringis kesakitan.


Sepasang matanya yang indah kini bercucuran air mata, Sarah terlihat berusaha menahan sakit sambil menggigit bibir bawahnya hingga sedikit berdarah.


Airmata dan keringat membasahi wajahnya yang cantik, putih halus dan sangat mulus.


Rio dan Viona berdiri mematung di tempat melihat apa yang terjadi dengan Sarah.


Beberapa Panitia lomba berlari mengerubungi Sarah, mereka hanya mengerubungi tapi tidak tahu harus berbuat apa.


Ketua panitia buru-buru mengeluarkan HP nya menelpon rumah sakit terdekat meminta ambulance secepatnya.

__ADS_1


Tidak ada yang berani menyentuh atau membantu Sarah apalagi memindahkan nya ke pinggir lapangan yang lebih nyaman.


Kondisi Sarah cukup parah, tadi dia terpeleset kaki depan nya, sehingga pergelangan kaki depan nya terkilir.


Tapi yang parah kaki belakangnya, lututnya membentur lantai dan terlepas dari sambungan nya.


Rio sering ikut bela diri mix Martial Art sedikit banyak dia mengerti hal itu, tapi dia tidak berani ambil resiko menolong Sarah.


Takut salah-salah dia akan membuat Sarah menjadi cacat seumur hidup.


Andi ikut menghampiri dari belakang, Kemudian dia berkata,


"Permisi tolong beri jalan dan semua nya tolong agak mundur."


Mereka yang tidak tahu harus berbuat apa, mereka bergerak mundur, memberi jalan kepada Andi.


Sebagian dari mereka mencibir mengejek Andi dari belakang, mereka meremehkan Andi dan tidak percaya Andi bisa berbuat apa-apa.


Ada yang bahkan dengan sadis nyeletuk,


"Kesempatan nih punguk merindukan bulan bisa terwujud, sudah dapat pegang gratis, kalau cacat dituntut tanggungjawab ngawinin Sarah pun tetap Untung dia."


Celotehan sempat mengundang bisik-bisik dari yang lainnya.


Tapi Andi tidak perduli dengan ucapan mereka sama sekali, dengan tenang dan fokus, dia menghampiri Sarah dan berjongkok didepan Sarah.


Andi menatap Sarah yang sedang meringis bercucuran air mata, Andi kemudian berkata,


"Sarah kondisi mu saat ini bila menunggu ambulance datang, ada kemungkinan kamu tidak bisa bermain bulutangkis lagi kedepannya."


Sarah terlihat ragu dia menatap wajah dan mata Andi yang lembut dan sangat tenang penuh percaya diri.


Akhirnya Sarah menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu.


"Sarah kamu jangan takut dan khawatir, bila terjadi sesuatu aku akan menjaga dan merawat mu sampai kamu sembuh."


Seseorang kembali nyeletuk dari belakang,


"Benarkan cuma nyari kesempatan dia.."


Suasana kembali ramai, Andi hanya menghela nafas tak berdaya, kemudian dia dengan hati-hati memegang betis Sarah yang putih mulus dan berkulit halus dengan tangan kirinya.


Sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk memegang pergelangan kaki Sarah kemudian dia berkata,


"Sarah kamu sudah bermain badminton sejak umur berapa ?"


Sarah agak bingung dengan pertanyaan Andi tapi dia tetap menjawabnya,


"Aku main badminton sejak 5 tahun, awalnya cuma ikut papa jalan-jalan kelapangan badminton."


Andi mengangguk sambil meraba-raba pergelangan kaki Sarah dengan lembut mencari posisi yang tepat.

__ADS_1


Sarah merasa sedikit geli wajahnya menjadi merah menahan malu.


Dia melirik melihat ekspresi Andi, tapi dia melihat Andi tetap tenang dan tidak menunjukkan ekspresi cabul genit ataupun mencari kesempatan.


"Sarah ada kejadian lucu apa gak ? selama kamu berlatih badminton bisa cerita tidak ?"


Sarah terlihat berpikir sejenak kemudian sambil tersenyum dia berkata,


"Ada, teman ku pernah secara tidak sengaja mengambil bola dengan sekuat tenaga di sebelah kanan, tapi bola yang di pukul nya, bukannya kembali kelapangan lawan."


"Tapi dengan deras menghantam lubang pantat temannya yang sedang berjaga didepan dengan pantat nungging."


Sampai di sini Sarah tertawa terbahak bahak tapi hanya sesaat kemudian dia menjerit kecil.


"Aduh..!"


Andi tersenyum melihat keterkejutan Sarah barusan.


Andi melihat sekeliling dan bertanya,


"Tolong es batu dan handuk lembut untuk kompres ada ?"


"Ada-ada"


jawab ketua panitia cepat, lalu berlari pergi mengambilnya.


Tak lama kemudian ketua panitia kembali membawa sebuah bungkusan handuk berisi es batu.


Dia langsung menyerahkan nya pada Andi, Andi menerimanya dan berkata,


"Terimakasih.."


Lalu Andi menyerahkannya kepada Sarah dan berkata,


"Sarah kamu kompres disekitar pergelangan kaki mu yang terkilir, selama 10 menit."


"Setelah itu kamu boleh coba menggerak-gerakkan pergelangan kaki mu kembali . ."


Sarah menerima bungkusan kompresan tersebut, kemudian mulai mengompres sendiri.


Sesekali dia melirik kearah Andi dengan tatapan penuh kagum dan berterimakasih.


Sarah bisa merasakan pergelangan kakinya, kini sudah jauh lebih baik tidak sesakit tadi lagi.


Wajah Sarah sedikit merah saat teringat Andi menyentuh betis dan pergelangan kaki dengan lembut tadi.


Andi kini terlihat sibuk memperhatikan posisi tempurung lutut Sarah yang bergeser.


Sesaat kemudian Andi berkata,


"Sarah sekarang pergelangan kaki mu sudah beres, tinggal lutut mu lagi."

__ADS_1


"Sarah terus terang ini akan jauh lebih sakit, jadi kamu harus mempersiapkan diri ya.."


Sarah mengangguk kecil sambil mengigit bibir bawahnya.


__ADS_2