
"Tapi kak Andi sudah berpesan pada kami, agar tidak menyalahkan mu, ini semua adalah kemauannya sendiri.."
"Dia akan lakukan apapun asalkan kamu bahagia."
"Ingat lah dia hanya akan puas dan bahagia bila kamu bahagia.."
"Jadi tolong jangan kecewakan harapan terakhirnya kak Andi.."
"Kamu adalah kakak ku, kamu lebih tua dari ku, tentu saja bukan pada tempatnya, aku memberimu nasehat."
"Anggap saja yang tadi itu adalah membantu kak Andi menyampaikan pesan.."
Viona mengangguk kecil, sambil mencoba tersenyum menatap Adiknya, dia menghapus air matanya yang tidak putus mengalir.
Melihat kondisi kakak nya yang begitu kurus dan sangat tidak terawat.
Diam diam Violin bisa mengerti, mengapa Andi sempat berkata, kakaknya hidupnya sudah cukup menderita dan menyedihkan.
Mereka jangan lagi menambah nambah kesedihannya, dengan melemparkan semua kejadian ini sebagai kesalahan nya.
Sambil menghela nafas panjang, Violin berkata,
"Kedepannya jaga lah diri kakak baik baik, pulang lah, jangan terlalu bersedih dan banyak pikiran,.disini ada kami yang akan urus kak Andi."
Violin kemudian berdiri dari duduknya, menepuk pundak kakaknya dengan lembut.
Lalu dia membalikkan badannya, hendak berlalu meninggalkan kakaknya.
Tapi tiba-tiba Viona menahan tangan nya dan berkata dengan lembut.
"Lin kamu pasti tahu banyak tentang Andi di kota J, maukah kamu menceritakan semuanya pada kakak..?"
Violin menatap kakak nya kemudian berkata,
"Buat apa kak.? kakak toh sudah milih orang lain, dan meninggalkan nya dengan kejam.."
"Lalu saat ini bila tahu pun apa gunanya kak..?"
ucap Violin berusaha menahan emosi dan perasaan nya.
"Please Lin, kakak tahu kakak banyak salah padanya, setidaknya biarkanlah kakak tahu, agar kakak bisa mengenang semua perjuangan nya demi kakak.."
"Biarlah itu menjadi kenangan indah terakhir buat kakak.."
"Bukannya kenangan terindah kakak adalah tidur bersama kakak ipar, hingga hamil kemudian menjadi istrinya.."
"Lalu membiarkan kak Andi hidup merana sendirian dengan hati penuh luka.."
ucap Violin sengit tidak bisa menahan diri..
Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Lin duduklah kakak akan ceritakan hal ini pada mu, selain Andi kamu lah orang kedua yang ingin kakak beritahukan mengenai persoalan memalukan dan menyakitkan ini.."
Violin akhirnya duduk di sisi kakaknya, dan menyimpan kembali emosi nya, berusaha bersikap tenang dan sabar.
"Lin kakak akan bercerita pada mu, agar kelak kamu bisa mengingat baik baik, dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama seperti kakak..'
"Lin kakak hanya mencintai Andi dan kakak sangat sangat mencintai nya..demi Andi kakak rela memberikan semua milik kakak padanya.."
"Bahkan sebelum menikah pun kakak rela, tapi Andi menolaknya."
"Dia tidak ingin memberikan kesulitan kepada kakak, dia ingin menjaganya hingga malam pernikahan kami.."
"Dia ingin kakak bahagia sepenuhnya.."
"Andi adalah pria yang begitu sempurna di mata kakak..apa kamu paham..?"
ucap Viona sambil menatap adiknya.
Violin menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Itu aku sudah tahu, kak Andi memang adalah pria yang sangat baik hati.. dan hebat.."
"Kak Andi kalah dari nya, bukan karena kalah kemampuan, tapi kak Andi kalah karena terlalu percaya pada kakak, terlalu lembut hatinya, dan terlalu mencintai kakak.."
Viona mengangguk dan berkata,
"Kamu benar sekali Lin, yang kamu katakan sangat tepat, kakak lah yang paling berdosa, dan bersalah padanya dalam hal ini.."
"Sebaliknya terhadap Rio kakak tidak pernah mencintai nya bahkan sangat jijik padanya.."
"Andi bagi kakak adalah pria yang paling sempurna dan paling baik, sedangkan Rio adalah pria yang jahat licik rendah dan sangat menjijikkan..'
"Tapi kenyataan tidak sesuai harapan, kejadian malam laknat itu telah merubah seluruh kehidupan kakak Lin.."
"Akibat terlalu lemah, kurang tegas, karena tidak enak hati dengan teman kerja, kakak menerima ajakan teman teman pergi karaoke."
"Kakak malam itu di jebak oleh atasan kakak dan hampir menjadi mangsanya.."
"Tapi meski lolos dari mulut buaya kakak malah masuk kedalam mulut macan."
"Di malam itu juga, setelah Rio menolong kakak dari tangan atasan kakak..kakak telah dinodai secara paksa oleh Rio.."
ucap Viona sambil menangis sedih dan menutupi wajahnya dengan sepasang tangannya.
Setelah perasaannya sudah lebih tenang Viona baru menurunkan sepasang tangannya.
Hingga bisa terlihat dengan lebih jelas wajah penyesalan dan kesedihannya.
Sesaat kemudian sambil menghela nafas sedih, Viona melanjutkan berkata,
"Setelah kejadian itu, kakak benar'benar tidak punya muka untuk berhadapan dengan Andi.."
__ADS_1
"Apalagi saat kakak menyadari akibat kejadian malam itu kakak telah hamil.."
"Kakak dengan sangat terpaksa harus menghindar dari menjauhi Andi..."
"Andi begitu sempurna dan sangat kakak cintai, bagaimana mungkin kakak tega menyeretnya menanggung hal yang sangat memalukan itu.."
"Kakak tidak bisa Lin,..meski dia bersedia menerimanya dengan rela. "
"Kakak tetap tidak bisa menghadapi perasaan bersalah kakak padanya, apalagi harus menyeret nya kedalam masalah memalukan itu.."
ucap Viona sambil menghapus sisa airmatanya.. dan menengadahkan wajahnya keatas, mencegah airmata nya kembali runtuh.
Dia terdiam Sesaat hingga akhirnya kembali berkata,
"Makanya kakak memilih menyakitinya sementara waktu, daripada menyakiti nya seumur hidup.."
"Ini semua demi kebaikannya Lin, apa kamu paham..? demi kebahagiaan dan masa depannya, kakak tidak punya pilihan lain selain mengalihkan hidup kakak yang hancur ini mengikuti tawaran Rio.."
ucap Viona dengan nada sedih dan tak berdaya.
Violin mengangguk dan menatap kakaknya dengan kasihan.
Setelah menenangkan perasaan nya, Viona baru kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah memilih Rio, tentu tanggung jawab kakak sekarang sebagai seorang istri adalah, berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya, dan berusaha mencintai nya.. menerima semua kelebihan dan kekurangannya,.."
"Kamu paham kan posisi kakak Lin.."
Violin mengangguk, kemudian dia maju merangkul kakaknya, mereka berdua berangkulan sambil menangis bersama.
Kini Violin mulai mengerti situasi yang di hadapi oleh kakaknya, dia membayangkan bila dia ada di posisi kakaknya.
Mungkin dia juga hanya bisa mengambil jalan seperti kakaknya saat ini..
Bila kakak nya sudah tamat kuliah punya titel ada kerjaan tetap.
Mungkin membesarkan anak seorang diri itu bisa saja, dengan cara pergi kekota lain menjauhi Andi dan Rio.
Semua itu mungkin saja bisa kakaknya lakukan, agar tidak perlu mengingat semuanya dan menanggungnya seorang diri.
Tapi posisi kakak saat ini berbeda tidak punya kerja, masih kuliah dan belum tamat..
Sehingga menerima tawaran Rio adalah pilihan yang tidak punya pilihan..batin Violin dalam hati.
Sesaat kemudian setelah lebih tenang Viona pun melepaskan pelukan Violin dan berkata,
"Mungkin ini semua sudah takdir perjalanan cinta kakak dan Andi hanya bisa sampai sini saja."
"Siap atau tidak siap, suka atau tidak suka kami harus belajar menerima kenyataan.."
ucap Viona sambil menghela nafas sedih.
__ADS_1