AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MELAKUKAN INTEROGASI SAKSI


__ADS_3

Sebelum Afei menerobos kedalam ruang tamu, dua orang penjaga yang berjaga di ruang tamu juga roboh duluan di terjang peluru yang menembus tembok.


Jadi saat paman Fei memasuki ruang tamu posisi sudah aman, paman Fei memimpin di tengah bersama Ahong, sedangkan dua orang masing masing bergerak menyusul dari sisi kiri dan kanan.


Memasuki ruang tengah paman Fei dan Ahong langsung melepaskan tembakan kearah dua orang yang berada di dekat sofa.


Melihat kedatangan Paman Fei dan Ahong, kedua orang itu baru saja mau meraih senjata mereka.


Tapi tubuh mereka sudah di terjang peluru hingga roboh terguling.


Melihat hal itu dua orang yang berjaga di tangga dan dua orang yang berjaga di lantai dua langsung mengarahkan senjata mereka menembaki Paman Fei dan Ahong.


Paman Fei dan Ahong langsung melompat menghindar sambil bergulingan berlindung di balik sofa ruang tamu.


empat orang rekan paman Fei, yang bergerak dari kiri dan kanan langsung melepaskan tembakan kearah dua orang di tangga dan dan orang yang berada di lantai dua.


Dua orang musuh yang satu muncul dari dapur dan yang lainnya muncul dari kamar mandi, sangat terkejut mereka segera mengarahkan senjata mereka untuk menembak kearah keempat rekan paman Fei .


Tapi sebelum sempat melepaskan tembakan, tubuh mereka telah roboh di terjang oleh peluru dua orang sniper, yang pelurunya menembus jendela dan tembok.


Setelah keadaan lantai bawah aman, paman Fei dan Ahong segera bergerak menuju lantai dua, di mana kamar John dan Seno berada.


Begitu rombongan paman Fei sampai di lantai dua, mereka langsung di sabut dengan terjangan dua orang bersenjata belati biru yang gerakannya sangat gesit.


Sebelum peluru sempat di lepaskan, mereka sudah berhasil menyerang duluan dengan belati ditangan mereka.


Paman Fei dan Ahong masing masing berhasil menangkis serangan belati yang di lepaskan.


Tapi dua diantara keempat rekannya kurang beruntung bagian paha perut dan leher mereka terkena serangan cepat dua orang itu.


Sehingga tubuh kedua orang itu ambruk tewas ditempat.


Melihat hal itu, paman Fei dan Afei dengan sigap menembakkan peluru membombardir kedua orang tersebut.


Tapi kedua orang itu sangat lincah, mereka melompat kesana kemari dengan gesit.


Lalu sambil bergulingan mereka kembali mendekati paman Fei dan Ahong untuk melakukan serangan jarak dekat.


Empat sabetan belati berhasil Paman Fei dan Ahong tangkis, tapi dua tendangan kearah dada mereka bersarang telak.


Paman Fei dan Ahong terpental meringkuk menahan sakit.


Sebelum mereka berdua sempat berbuat sesuatu, kedua orang itu sudah melompat untuk menyarangkan belati di tangan mereka kearah Pama Fei dan Ahong.


Tapi sebelum niat kedua penyerang itu berhasil, tubuh mereka berdua sudah terpental rubuh keatas lantai tak bergerak lagi.

__ADS_1


karena kening mereka berlubang di tembus oleh peluru, yang di lepaskan oleh snipers rekan paman Fei.


Aman dan Ahong saling pandang, mereka berdua menghela nafas lega.


lalu memberikan kode tanda jempol kearah dua orang snipers rekan mereka.


Hari ini bila tidak ada kedua snipers itu, nyawa mereka mungkin sulit di pertahankan lagi.


Kedua musuh itu terlalu kuat buat mereka, bila bertarung secara head to head.


Kecepatan pergerakan dan setiap serangan mereka, yang selalu di arahkan ke pembuluh darah, itu sangat mengerikan.


Paman Fei menatap kearah dua rekannya yang tewas dengan perasaan bercampur aduk.


Dia lalu menghampiri jasad mereka, Paman Fei menggunakan telapak tangannya, membantu menutup mata kedua rekannya, yang tewas dengan sepasang mata terbuka.


Setelah itu paman Fei baru memberi kode kepada dua rekannya yang lain agar mencari John dan Seno.


Dia sendiri bersama Ahong menyusul di belakang.


Tak lama kemudian John dan Seno masing masing diseret keluar dari dalam kamar mereka.


Di bawah todongan senjata, tangan kedua orang itu di borgol oleh paman Fei, kepala mereka juga di tutup dengan kain.


Sambil bergerak meninggalkan tempat itu, paman Fei mengeluarkan Hpnya melakukan panggilan telepon.


Begitu tersambung terdengar paman Fei berkata dengan singkat,


"Bertemu di tempat lama.."


Setelah itu dia pun mematikan ponselnya, melanjutkan terus bergerak meninggalkan tempat itu bersama rekan undangannya yang hanya tersisa 8 orang, diluar Ahong tentunya.


Sementara itu dua orang pengawal yang ditugaskan paman Fei menjaga Nicole dan Berry.


Setelah mendapatkan telpon dari paman Fei, mereka buru-buru menghampiri Berry dan Nicole yang sedang asyik makan daging domba bakar.


"Nona Nicole, maaf mengganggu, kita harus segera pergi ke lokasi lain.. sesuai permintaan paman Fei.."


ucap pengawal itu sedikit tidak enak hati.


Tapi diluar dugaan, Nicole dan Berry langsung menghentikan makan mereka, setelah mengelap bersih tangan mereka dengan handuk kecil yang tersedia di atas meja.


Kedua orang itu langsung buru buru meninggalkan rumah makan daging domba tersebut, berjalan sedikit terburu buru menuju mobil.


Beberapa saat kemudian kedua pengawal itu membawa Nicole dan Berry menuju sebuah pabrik penyulingan arak yang sudah terbengkalai.

__ADS_1


Nicole dan Berry tanpa banyak bicara mereka mengikuti kedua pengawal itu masuk kedalam pabrik tua itu.


Di dalam pabrik tua itu terlihat dua orang pria berperut buncit, sedang duduk terikat di atas kursi.


Di kelilingi oleh paman Fei dan beberapa rekannya yang bersenjata lengkap.


Kedua pria itu terlihat ketakutan celana mereka berdua sudah basah.


Nicole yang mencium bau tak sedap, dia buru-buru menggunakan tangannya menutup hidung.


Melihat kehadiran Nicole di sana wajah kedua orang itu langsung berseri seri dan buru-buru berkata,


"Nona,..Nona Nicole,.. tolong kami,..kami tidak bersalah,.. kami tidak tahu apa apa..!


"Nona Nicole,.. anda orang besar berjiwa besar, tolong maafkanlah orang kecil seperti kami..!"


"Kami benar-benar tidak tahu apa apa, kami hanya menjalankan perintah saja..!"


teriak kedua orang itu sahut sahutan dengan wajah panik ketakutan.


Nicole menatap mereka berdua sejenak lalu berkata,


"Asalkan kalian mengakui semua perbuatan kalian dengan jujur, dan bersedia menjadi saksi di persidangan.


Menunjukkan siapa orang yang menyuruh kalian,. siapa otak perencana di balik semua yang kalian lakukan.."


"Aku pasti akan menjamin keselamatan kalian."


"Bila tidak kalian akan tahu sendiri akibatnya.."


ucap Nicole dingin.


Kedua orang itu saling pandang,.lalu mereka berkata,


"Nona ampunilah kami nona, kami benar tidak tahu apa apa, dirumah kami masih punya anak kecil istri dan orang tua yang menunggu kami untuk nafkahi.."


Nicole tersenyum dingin dan berkata,


"Baiklah bila kalian tidak tahu apa apa, ya sudah.."


"Paman Fei tolong kerjakan dengan rapi dan bersih,.."


setelah berpesan, Nicole langsung memberi kode ke Berry.


Berry menganggukkan kepalanya, lalu dia pun melangkah pergi menyusul Nicole.

__ADS_1


__ADS_2