
Menjelang subuh saat mendengar suara rintihan kecil Viona, Andi langsung membuka matanya.
Melihat kearah Viona, melihat Viona yang terlihat berkeringat di keningnya, tubuhnya bergetar hebat, seperti orang mengigil.
Nafasnya satu satu terputus putus, bibirnya terus merintih menahan sakit.
Andi langsung bertindak sigap menelpon ambulance, menyambar tas perlengkapan darurat Viona.
Lalu dia segera menggendong Viona yang masih terbalut selimut tebal keluar dari dalam kamar.
Darah terlihat menetes netes dari balik selimut jatuh keatas lantai.
Pemandangan di kasur tempat Viona tidur juga sangat mengerikan penuh dengan bercak darah.
Rupanya Viona mengalami pendarahan hebat di tengah malam, kondisinya drop dengan sangat cepat.
kedatangan suara mobil ambulance yang berisik, membuat seisi rumah menjadi terbangun.
Andi sendiri ikut duduk didalam mobil ambulance dengan wajah pucat dan berlinang airmata.
Dia hanya bisa terus berdoa agar Viona bisa selamat melewati kondisi ini sambil menggenggam jemari Viona dengan lembut.
Viona sendiri sudah kehilangan kesadarannya, hidung dan mulutnya tertutup oleh alat bantu pernafasan.
Nafasnya tidak teratur, tekanan darah nya juga tinggal 40, sehingga dia sudah lemas kehilangan kesadarannya.
Keluarga Viona yang kaget dan terbangun karena bunyi rame rame di halaman rumah.
Mereka dengan panik langsung bergerak menyusul mobil ambulance itu menuju rumah sakit.
Violin mengendarai mobil Maybach nya membawa Rina dan Dody di mobilnya.
Sedangkan Papa dan Mama Viona menggunakan mobil Innova mereka sendiri.
Kedua mobil itu bergerak mengikuti mobil ambulance di depan nya.
Akhirnya mobil itu berhenti di RS KD, yang merupakan RS kanker terbesar se-kota J.
Begitu mobil ambulance tiba, team medis terlihat sudah siap disana.
Dengan terburu-buru mereka segera mendorong Viona masuk kedalam ruangan ICU.
Andi hanya bisa ikut sampai didepan pintu ruang ICU dan terpaksa melepaskan pegangan tangannya, membiarkan Viona di bawa .asuk kedalam ruangan tersebut.
Sebelum melepaskan pegangan tangannya Andi sempat mencium kening dan pipi Viona sambil berbisik,
"Kamu harus bertahan sayang demi aku, demi cinta kita.."
Viona yang terbaring diam di sana, bulu matanya sempat bergerak gerak lemah, ada sebutir airmata yang mengalir keluar dari sudut matanya, dan bergulir kebawah.
Di detik detik Andi harus melepaskan pegangan tangannya Andi pun berteriak,
__ADS_1
"Viona kamu harus bertahan...aku menunggumu di sini...!!"
Setelah pintu ruang ICU tertutup Andi pun jatuh terduduk diatas lantai menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Andi sebenarnya sudah mempersiapkan diri lama, untuk bisa menerima kenyataan seperti hari ini, yang cepat lambat pasti akan tiba.
Tapi tidak tahu mengapa, saat hal.itu tiba, Andi tetap sulit mengendalikan diri nya, untuk tidak bersedih hati.
Ternyata saat menghadapi nya langsung perasaan itu sangat menyakitkan.
Di mana dia tidak bisa berdaya apapun selain melihat dan melepas Viona pergi dari sisinya.
Kini Andi hanya bisa duduk menangis di sana, sambil berdoa di dalam hati agar Viona bisa tertolong dan bisa di perpanjang usianya.
Violin Mama Viona dan Rina, mereka juga berdiri menangis sedih disana tanpa suara.
Papa Viona meski tidak menangis, tapi sepasang matanya merah dan basah, airmata juga terus jatuh bercucuran.
Setelah perasaannya sudah jauh lebih tenang, Violin lah yang pertama duduk di samping Andi.
Dia dengan lembut merangkul dan membenamkan kepala Andi kedalam pelukannya, membiarkan Andi menangis sepuasnya di sana.
Dia sendiri sambil merangkul dan membelai kepala Andi dengan lembut.
Dia juga bercucuran air mata sambil berusaha menahan suara tangisnya dengan sebelah tangan menutupi mulutnya sendiri.
Mama Viona dan Rina akhirnya menangis dalam pelukan ayah Viona.
Beberapa waktu kemudian team medis pun keluar dari dalam ruangan ICU.
"Kami semua sudah berusaha, persiapkan lah diri kalian merelakan kepergian nya."
"Berbicara lah dengan nya, untuk yang terakhir kalinya.."
ucap salah satu dokter itu, berbicara dengan wajah prihatin.
Andi langsung menghambur kedalam kamar ICU tempat Viona berbaring.
Dia langsung berlutut di samping Viona, sambil memegang tangan dengan lembut
Viona bereaksi menggenggam tangan Andi dengan erat, seolah olah tidak mau dan tidak rela melepaskan Andi.
Melihat Viona sepertinya ingin berbicara, Andi pun melepaskan alat bantu pernafasan yang menutup hidung dan mulut Viona.
Lalu dia menempelkan telinganya didepan bibir Viona, terdengar lah suara yang sangat lemah dan suara yang terputus putus.
"Andi,.. maafkan,.. aku,.."
"Aku,.. tidak,..bisa,..temani kamu,..lagi.."
"Meski aku,..aku,.."
__ADS_1
"Pa,..pa,..Ma,..ma...aku,..aku,.."
ucap Viona sambil menatap kearah kedua orang tua nya.
Sesaat kemudian matanya pun mendelik keatas, sepasang matanya tertutup rapat, mulutnya sedikit terbuka menghembuskan nafas terakhir nya.
Kepalanya pun terkulai lemah ke sisi Andi, genggaman tangannya yang erat perlahan-lahan terlepas dari tangan Andi.
"Viona,....!!!!"
Dengan serentak semuanya berteriak sambil menangis sedih.
3 hari kemudian terlihat seorang pria tinggi tegap, berbadan sedang padat berisi, mengenakan kacamata hitam membawa seikat bunga mawar putih di tangan.
Pria itu wajahnya sangat tampan dan keren, hanya saja wajahnya terlihat diliputi kesedihan mendalam.
Dia berdiri menghadap kearah sebuah rak yang memajang sebuah guci keramik berukuran sedang.
Didepan guci itu, ada sebuah bingkai foto yang di dalamnya berisi sesosok wajah seorang gadis,
yang sangat cantik, sedang tersenyum manis penuh kebahagiaan.
Pria itu terus menatap foto itu sambil berdiri termenung seorang diri di sana.
Bagaikan patung hidup yang diam tidak bergerak di sana.
Setelah beberapa jam berlalu, di mana mulai banyak orang yang datang dan pergi.
Akhirnya pria itu sambil menghela nafas sedih, meletakkan bunga di tangan nya didepan bingkai foto tersebut, juga meletakkan sebotol juice alpukat di sana.
"Beristirahatlah dengan tenang, di sana."
"Kamu sudah tidak perlu merasakan penderitaan,.sedih, sakit, terluka, seperti dulu dulu lagi.."
"Biarkan semuanya, aku yang menanggungnya untuk mu.."
"Satu hal yang perlu kamu tahu,.. dari awal hingga akhir,..AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU..."
"Bila ada kehidupan mendatang aku tetap ingin bersama mu.."
"Kamu istirahatlah dengan tenang, kapan kapan aku baru kembali melihat mu.."
ucap pria itu sambil tersenyum penuh kepedihan mendalam..
"Kak Andi kamu di sini rupanya,.."
"Aku berkeliling kemana mana, ternyata kamu ada di sini.."
ucap seorang gadis lain yang juga mengenakan gaun hitam topi hitam dan kacamata hitam.
__ADS_1
Gadis ini sangat cantik, tidak kalah cantik dengan gadis di dalam bingkai foto.
Bila di teliti, wajah mereka sangat mirip, hanya saja yang ini lebih anggun percaya diri dan senyum nya lebih lembut penuh perhatian.