
Setelah Violin menentukan pilihannya, Andi tinggal mengurus pembayaran nya saja dan segala keperluan administratif nya bersama seorang salesman mobil tersebut.
Dia membantu mengantar Andi ke kasir, mengurus pembayaran hingga selesai.
Setelah semuanya beres, salesman itupun bertanya dengan penuh hormat ke Andi,
"Maaf Pak Andi, mobilnya mau diantar atau di bawa pulang sendiri langsung..'
"Antarkan saja, alamatnya sesuai dengan alamat di data administrasi tadi saja ."
ucap Andi singkat.
"Baik pak Andi siap, kira kita jam terbaik pengantarnya jam berapa ya pak,..?"
tanya salesman itu sambil mengisi data pengantaran kendaraan.
"Jam 9 pagi besok bisa,..?"
tanya Andi balik.
"Ohh bisa sekali pak, nanti saya akan mengaturnya semuanya."
ucap salesman itu sambil tersenyum ramah.
"Ada hal lain lagi ?"
tanya Andi kurang tenang.
Karena dia sempat melihat ada dua orang om om sedang berusaha mendekati dan mengajak ngobrol Violin.
Dan Violin terlihat sedikit terganggu dengan kehadiran kedua om om itu.
"Ohh tidak pak, semua sudah beres.."
jawab salesman itu sambil mengulurkan tangannya bersalaman dengan Andi.
Andi menyalaminya dengan sedikit agak terburu-buru, dan berkata,
"Baiklah terimakasih ,..permisi ."
Andi melangkah dengan cepat meninggalkan salesman tersebut langsung berjalan cepat kearah Violin.
Di saat bersamaan seorang SPG pura pura tidak melihat jalan, karena sedang sibuk bermain HP.
Dia tiba-tiba berjalan maju menyelonong menghadang jalan Andi, sehingga mereka berdua bertabrakan.
"Ahhh,..!"
jerit tertahan SPG itu pura pura kaget.
Tapi sebelum HP ditangannya dan dirinya terjatuh, Andi sudah menyambut pinggang nya.
sambil menahan HP-nya yang jatuh dengan ujung sepatunya, mencungkil nya keatas, lalu ditangkap oleh tangan Andi yang lainnya.
"Anda tidak apa-apa nona..?"
tanya Andi sopan sambil membantu SPG yang sedang memeluknya untuk bangkit berdiri.
SPG itu sambil melemparkan senyum manis dan wajah tersipu malu berkata,
"Terimakasih banyak pak, maaf aku.."
Belum selesai ucapan nya, Andi sudah menyerahkan HP ditangannya ke SPG itu dan berkata,
"Maaf aku sedang terburu-buru permisi.."
Tanpa memperdulikan reaksi SPG itu, Andi sudah berlalu dari hadapan SPG cantik itu.
"Pak tunggu,..!"
ucap SPG itu sambil menyusul Andi dan berkata,
"Maaf sama pak siapa ya ?"
__ADS_1
"Nama ku Andi,.. maaf aku harus segera kesana."
"Ini kartu nama ku, bila ada hal lainnya, nanti hubungi saja kesini.."
ucap Andi sambil memberikan kartu namanya agar tidak banyak bertele tele.
"Namaku Celine pak Andi.."
ucap SPG itu sambil tersenyum manis kepada Andi .
Dia memegang kartu nama pemberian Andi erat-erat dengan sangat antusias..
Andi sendiri tidak terlalu menanggapinya Karena dia sudah berlari cepat kearah Violin.
Di mana terlihat salah satu Om Om itu sedang mengulurkan tangannya ingin memegang tangan Violin.
Tapi sebelum tangan itu berhasil menyentuh tangan Violin, tangan pria itu sudah di sambut tangan Andi yang meremasnya dengan kuat.
"Aduhhh,..!"
jerit Om Om itu kesakitan.
"Lepaskan..!!"
teriak Om Om itu dengan wajah pucat menahan rasa sakit.
"Ada yang bisa saya bantu pak ?"
tanya Andi sambil melepaskan pegangan tangannya dan menatap pria itu sambil tersenyum mengejek.
Andi merangkul bahu Violin kedalam pelukannya dan berkata,
"Dia istriku, apa ada yang bisa kami bantu..?"
Om Om yang tangan nya diremas Andi masih terus berdesis, menahan nyeri ditangan nya, dengan di bantu tangan lain nya memijit mijit pelan.
Sedangkan Om Om yang satu lagi buru buru menggeleng kan kepalanya dan melangkah mundur menjauh kemudian membalik badannya meninggalkan tempat tersebut.
Si Om Om yang tangannya masih kesakitan, mempelototi Andi sejenak, kemudian segera berlalu menyusul temannya.
tanya Andi lembut.
Violin tersenyum dan berkata,
"Ada kakak, mana mungkin aku bisa ada apa apa.."
"Gimana kak sudah beres ?"
tanya Violin.
Andi tersenyum mengangguk dan berkata,
"Sudah, mobil mu nanti di antar kerumah besok pagi.."
"Ayo kita pulang sekarang..?"
tanya Andi.
Violin mengangguk dan berkata,
"Boleh,. tapi apa gak sebaiknya drop rice cooker raksasa ke rumah mama dulu..?"
"Ohh ya,.. Untung kamu ingetin, kita mampir ke tempat mama aja dulu.masih sejalan kok.."
ucap Andi cepat.
Violin mengangguk dan berkata,
"Hayu atu kalau gitu.."
Andi tersenyum dan mengangguk pelan, lalu mereka berdua bergandengan tangan meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian mobil Andi pun sampai di halaman depan rumah mama Violin.
__ADS_1
"Ma,.. Pa,.. aku pulang..!"
teriak Violin gembira saat masuk kedalam rumah.
Mama dan papa Violin yang sedang makan siang berdua sedikit kaget mendengar suara teriakan putri mereka.
Mereka buru-buru keluar dari dapur, untuk memastikan siapa tamu yang datang.
Melihat yang datang benar adalah Violin putri mereka bersama Andi yang sedang menggendong sebuah kotak gede.
Mereka langsung tersenyum lebar, papa Violin langsung berkata,
"Kalian tiba tepat waktu, ayo gabung kedalam, kita makan sama-sama.."
Violin sambil tertawa gembira berkata,
"Kebetulan kami juga belum makan dari pagi, yuk kak Andi kita ikutan makan.."
"Kakak kan paling suka dengan masakan mama.."
Andi tersenyum, lalu berkata,
"Pa,.. Ma,.. apa kabar,.. ? maaf datang datang cuma nebeng makan.."
"Ma ini ada rice cooker raksasa cocok buat mama, di kami gak ke pake yang sebesar ini.."
ucap Andi.
"Kabar kami baik, itu barangnya taruh dulu..nak berat.."
"Yuk kita makan sambil ngobrol di belakang sana ."
ucap Mama violin sambil tersenyum gembira dan maju menarik Andi ikut dengan nya menuju dapur.
"Nak duduklah, biar mama yang bantu ambilkan untuk mu ."
ucap mama Violin setelah mereka tiba di meja makan.
"Gak apa apa ma,.. mama makan aja dulu,.. Andi bisa ambil sendiri kok ma.."
ucap Andi merasa tidak enak hati.
Violin sambil tersenyum berkata,
"Udah jangan berebut lagi, mama papa lanjutkan aja makannya.."
"Urusan Andi biar jadi tanggung jawab ku saja.."
ucap Violin sambil tersenyum gembira.
Sekali ini Andi gak banyak bantah lagi, dia langsung duduk manis, membiarkan Violin yang membantu nya, mengambil makanan untuk nya.
"Di,. bila gak ke pake rice cooker gede itu, terus kenapa kamu beli..?"
tanya mama Violin heran.
"Ini ma,.. itu hadiah kami berdua main ke pasar malam, jadi itu gak beli ma.."
ucap Andi menjelaskan.
Papa Violin tersenyum dan berkata,
"Pas sekali lah, mama mu memang sudah lama mengincar barang itu, biar bisa masak yang banyak sekali jalan buat nasi catering.."
Mendengar penjelasan Andi, mama Violin pun tersenyum senang dan berkata,
"Makasih ya nak, kamu memang paling ngertiin Mama.."
"Sana sama ma,.."
ucap Andi sambil tersenyum.
"Oh ya di,.. kalian berdua jadikan Sabtu ini pemberkatan, apa semua nya sudah siap ? apa ada yang papa mama perlu bantu ?"
__ADS_1
tanya papa Violin serius.