
"Agar bisa kalahkan ko Ahong dengan mudah.."
ucap Andi yang sudah membaca rencana busuk si Ginting.
Ahong menoleh kearah Andi dan berkata,
"Ini masalah aku dengan nya, tidak ada hubungannya dengan mu."
"Terimakasih sudah mengingatkan ku, aku akan hati-hati kamu tenang saja."
ucap Ahong lalu dia membalikkan badannya, siap naik keatas Ring.
Tapi Andi tanpa banyak bicara, langsung mendahului Ahong melompat ringan keatas ring.
"Hei Ginting ku dengar kamu adalah jagoan baru yang belum pernah kalah."
"Tadinya aku sempat menjadi pengagum mu,.tapi setelah bertemu aku pun jadi tahu."
"Sikap mu tidak segentle nama mu."
"Kalau kamu berani menerima tantangan dari ku, mungkin aku akan kembali percaya, kamu memang layak jadi juara.."
"Bagaimana kamu berani ?"
ucap Andi sambil tersenyum mengejek.
Ahong yang sudah hampir naik keatas ring, terpaksa menghentikan langkahnya.
Karena Andi terlanjur mendahuluinya.
"Kamu ini siapa bocah..?"
"Apa hak mu menantang dan bicara dengan ku, apa kamu pantas ?"
ucap Ginting sambil tertawa mengejek memandang rendah ke Andi.
Andi tetap tenang dan berkata,
"Aku bukan siapa-siapa, soal hak tentu setiap orang punya hak, karena mulut ini mulut ku, bukan mulut mu."
"Jadi aku bebas berbicara, soal pantas tidak pantas harus setelah kita selesai bertarung batu akan tahu."
"Yang jelas kamu juga gak bakalan rugi melawan ku, bagaimana bila kita bertaruh, bila aku kalah, aku akan bayar 100 juta ke kamu."
"Bila kamu kalah kamu yang bayar 100 juta ke aku."
"Kamu kan sekarang jagoan terhebat saat ini, jangan bilang kamu tidak berani melawan ku karena gak punya uang untuk bertaruh dengan ku.."
ucap Andi sambil tertawa merendahkan Ginting.
"Bedebah pintar kali kau bicara, seperti cewek saja.."
"Tunjukkan uang saldo mu dulu, kalau ingin bertarung dengan ku."
"Bila tidak lupakan saja.."
ucap Ginting mulai kesal.
Andi tersenyum tenang dan berkata,
"Kamu tunggu sebentar..'
Andi mengeluarkan HP nya menelpon Viona,
Begitu telpon di angkat dan terdengar suara Viona.
Andi pun berkata,
__ADS_1
"Vi kamu di mana ? sedang sibuk tidak ?"
"Aku di kos, gak sedang sibuk,. kenapa di...?"
tanya Viona heran.
"Vi boleh tolong kirim 100 juta ke rekening ku sekarang, ?"
"Engg, boleh sebentar ya, HP nya aku matikan dulu ya..?"
jawab Viona cepat.
"Ok.makasih Vi..maaf merepotkan mu.."
ucap Andi sedikit tidak enak.
"Gak papa di,.. santai aja.."
ucap Viona tenang.
Beberapa saat kemudian HP Andi berbunyi, Andi melihat saldo di rekeningnya sudah masuk transferan dari Viona.
Andi berjalan mendekati Ginting dan berkata,
"Ini saldo ku, bagaimana percaya sekarang..?"
"Gak usah sombong, pake duit wanita buat bertaruh dasar tidak punya malu."
ucap Ginting keki.
"Gak masalah uang ku berasal darimana, sekarang giliran aku yang ragu."
"Jangan jangan kamu gak punya lagi duitnya, sehingga dari tadi cuma banyak bacot."
ucap Andi sambil tertawa mengejek.
ucap Ginting marah.
Andi tetap bersikap tenang, menanggapi sikap Ginting yang mulai bergerak siap menyerang nya.
'Tunggu dulu sebaiknya uang kita masing-masing di awasi oleh pihak netral, uang ku ada di HP, uang mu mana..?"
tanya Andi.
Ginting dengan kesal mengambil HP nya dan berkata,
"Sama uang ku ada di sini juga, nih pegang lah."
Ginting melemparkan HP nya kearah Ahong, Ahong memegang dan memeriksanya sejenak, kemudian mengangguk kearah Andi tanda ok.
Tapi sesaat kemudian Ahong berteriak panik dan khawatir ke Andi,
"Di...! kamu jangan gila, cepat turun dia bisa membunuh mu."
Andi tersenyum kearah Ahong untuk meyakinkan Ahong.
Andi melakukan tindakan sama, dia melemparkan HP nya kearah wartawan yang datang karena di undang Ginting.
Lalu Andi berdiri diam menunggu Ginting, yang terus bergerak mengelilingi Andi , bersiap melepaskan pukulannya, bila Andi lengah.
Sambil bergerak mengelilingi Andi, dia tertawa dan terus mengejek andi.sesuka hati.
Andi seolah olah tidak perduli, dia hanya terus bergerak mengikuti, arah pergerakan Ginting.
Yang berputar-putar mengelilingi nya.
Ginting mulai maju mendekati Andi memberikan jab jab pancingan, sambil melayangkan tendangan keras kearah paha Andi.
__ADS_1
Andi melangkah mundur menghindar, sehingga tendangan tersebut dan jab jab ringan Ginting menemui tempat kosong.
Ginting terus maju mendesak dan menutup jalan Andi, hingga punggung Andi membentur tali pembatas.
Saat itulah Ginting maju merangsek, memberikan beberapa pukulan kombinasi kearah Andi.
Tapi dengan aneh semua pukulan dan tendangan nya, tidak ada yang mengenai sasaran.
Tiba-tiba di saat dia sedang asyik melepaskan pukulannya secara bertubi-tubi kearah Andi.
Andi mendadak muncul di hadapannya, memberikan sebuah pukulan kearah tenggorokan, sedikit di bawah jakunnya berada.
"Uffhh...!!"
terdengar suara Ginting yang tidak menyangka Andi yang terlihat terdesak dan kepepet.
Bisa balik memberikan serangan dadakan yang begitu cepat dan tiba-tiba datangnya.
Ginting merasa lehernya seperti di patuk ular beracun, sesaat dia merasa mati rasa tidak bisa bernafas, kemudian pandangan matanya menjadi gelap.
Ginting terlihat menggunakan kedua tangannya memegang lehernya sendiri.
Tubuhnya jatuh bertekuk lutut di hadapan Andi, lalu perlahan-lahan roboh kesamping, dengan sepasang mata mendelik keatas.
Semua orang terbelalak kaget tidak menyangka semudah itu, Ginting roboh di tangan Andi.
Wasit pertandingan karena terkejut sesaat lupa memberikan hitungan KO buat Ginting.
Baru saat Andi menepuk bahunya, mempersilahkan wasit boleh mulai berhitung.
Wasit segera tersadar, dia buru-buru menjatuhkan diri di samping Ginting.
Memukul mukul lantai, sambil berteriak,
"Satu ...Dua...... Tiga .. dan seterusnya hingga hitungan Angka ke 10."
Si Ginting tetap tidak mampu bangun dari pingsannya, wasit segera memberi kode pertandingan segera di hentikan.
Ahong dengan tanpa ragu segera mentransfer uang Ginting kedalam rekening Andi sebesar 100 juta.
Setelah itu dia memberi kode ok ke Andi,. dengan tatapan bangga.
Kini Ahong yakin Andi adalah asset berharga, buat Sasana TAH miliknya.
Andi berjalan menghampiri wartawan yang menjadi teman Ginting, tapi kini sikap wartawan itu berubah 180°.
Dengan tersenyum ramah dia langsung mengembalikan HP Andi.
Lalu dengan gaya sok akrab dia langsung mewawancarai Andi, yang langsung di rekam oleh rekannya.
"Anak muda boleh kita tahu siapa nama mu, ? dan dari mana anda berasal?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Namaku Andi, aku berasal dari kampung tak terkenal, di sebut pun kalian tidak bakalan tahu."
"Baiklah..."
jawab wartawan itu.
Kemudian kembali bertanya,
"Berapa umurmu, darimana ilmu beladiri mu berasal dan siapa guru mu..?"
Andi menoleh kearah Ahong dan berkata,
"umurku 22, Ilmu beladiri ku berasal dari dia dan aku adalah muridnya.."
__ADS_1
Ahong sedikit terkejut mendengar jawaban Andi.