
"Lin kakak menghubungi Andi benar-benar tidak bermaksud dan menyangka akan ada kejadian seperti ini.."
"Alasan kakak menghubungi Andi, sebenarnya hanya ingin memenuhi tanggung jawab kakak, sebagai seorang istri yang baik buat suami kakak.."
"Kakak tidak punya maksud lain, untuk hal ini kakak berani bersumpah, apalagi sampai berakhir seperti ini.."
Violin menyentuh tangan kakaknya dengan lembut sambil menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum penuh pengertian.
Viona kembali menghela nafas sedih kemudian melanjutkan berkata,
"Suami kakak sedang dalam masalah dengan ayahnya, akibat dia menolak menikah dengan putri relasi bisnis ayahnya, dan lebih memilih menikahi kakak.."
"Suami kakak akan kehilangan semua pekerjaan dan fasilitas nya, ayahnya memberi syarat kecuali Rio menceraikan kakak menikahi putri relasi bisnis ayahnya, atau memenangkan pertandingan itu.."
"Bila tidak Rio akan kehilangan seluruh haknya dan akan di usir dari rumah ayahnya..."
"Sebagai seorang istri, kakak tentu tidak bisa diam melihat hal itu terjadi."
"Makanya kakak menghubungi Andi, kakak benar' benar tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini.."
ucap Viona kembali menangis sedih..
"Kakak benar benar tidak menyangka keadaan Andi menjadi begitu lemah, setelah kami berpisah.. bila tahu tentu kakak tidak akan pernah pergi menemui nya.."
"Andi maafkan aku,.. aku lah yang mencelakai mu.."
ucap Viona sedih sambil memukul dadanya sendiri yang kerempeng.
Violin buru-buru maju mencegahnya dan berkata.
"Sudahlah kak jangan bersedih lagi, ini bukan salah kakak.."
"Ada satu hal yang kakak tidak ketahui, sebenarnya kak Andi tidak lah selemah itu.."
"Bila bukan karena kak Andi sudah pernah alami cidera parah di kepala nya di underground, hingga masuk rumah sakit beberapa waktu lalu.."
"Kapan itu ?"
tanya Viona sambil menatap Violin dengan kaget.
Violin menghela nafas panjang dan berkata,
"Tepat tanggal nya aku lupa, yang jelas saat itu bertepatan dengan besok paginya kakak menerima transferan 35 M, untuk melunasi hutang ayah.."
"Malam itu adalah pertandingan terakhir kak Andi yang sangat berat, kak Andi memaksakan diri untuk menang.."
'Akhirnya kak Andi memang berhasil, tapi saat sedang mandi kak Andi pingsan, dan harus di larikan kerumah sakit."
Violin menghela nafas pelan baru kembali melanjutkan.
"Setelah di lakukan tindakan operasi di bagian kepala kak Andi berhasil tertolong.."
"Tapi dokter mengingatkan aku dan Berry, kak Andi tidak boleh mengalami benturan lagi di kepalanya dalam kurun waktu 2 bulan pasca operasi."
"Bila tidak, minimal lupa ingatan parah ada kemungkinan kehilangan nyawa.."
"Begitulah peringatan dari dokter, saat melawan Ginting di One Pride kemarin kak Andi memang baik baik saja."
"Karena sebelum Ginting berhasil melukai kak Andi, Ginting keburu ko duluan.."
"Bila dihitung hitung kembali harusnya luka itu seharusnya bukan masalah lagi.."
__ADS_1
"Karena dari waktu itu hingga saat ini harusnya sudah 3 bulan...."
ucap Violin menutup ceritanya dengan penuh rasa heran.
Viona tiba tiba berkata dengan mata terbelalak.
"Benar pasti karena itu,.. tidak salah lagi..pasti karena insiden itu,..saat itu Andi pasti belum sampai 2 bulan pasca operasi.."
"Kini ditambah kejadian hari ini..pasti dua kejadian inilah yang menjadi pemicu nya.."
ucap Viona dengan wajah pucat sambil menatap Violin.
"Apa maksud kakak, apa yang sebenarnya terjadi kak..?"
tanya Violin menatap kearah kakak nya dengan penuh penasaran.
Viona dengan tatapan mata kosong berkata,
"Malam itu Andi datang ke pabrik tempat ku bekerja menemui ku."
"Bertepatan dengan itu, aku juga ada janji dengan Rio, untuk melanjutkan pembicaraan pembahasan masalah pernikahan kami, yang belum tuntas di malam sebelumnya."
"Akhirnya terjadilah keributan di depan pabrik, aku di bawa pergi oleh Rio, sedangkan Andi di keroyok dan di pukulin kepalanya oleh para satpam pabrik.."
ucap Viona menceritakan situasi saat itu dengan wajah penuh penyesalan.
"Tunggu,.. tunggu...tunggu... berdasarkan kekuatan dan kemampuan kak Andi, bagaimana para satpam pabrik itu bisa menyentuh, apalagi memukuli kak Andi.."
tanya Violin sambil menatap kakaknya penuh curiga..
Viona menatap kearah Violin dengan wajah sedih dan penuh perasaan bersalah, lalu berkata,
"Kakak mengatakan hubungan kami telah berakhir, kakak minta dia pergi.."
"Kakak waktu itu, berpikir dengan cara itu bisa membuat Andi pergi, membuat Andi membenci kakak, dan melupakan kakak.."
"Tapi kakak tidak menyangka hal itu justru mencelakai nya, karena setelah mendengar ucapan kakak, Andi bukannya pergi.."
"Andi malah berdiri diam terpana ditempat, membiarkan para satpam itu memukulinya tanpa melakukan perlawanan.."
Mendengar penjelasan kakaknya Violin menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan tangannya dan sepasang mata nya terbelalak lebar menatap kakak nya dengan tatapan tak percaya.
"Akhh..!! kenapa kakak tega melakukan hal itu padanya, akhh..! kakak... kakak sungguh kelewatan..kakak telah melukainya luar dan dalam seperti itu.."
ucap Violin sambil menggelengkan kepalanya.
Dia benar benar sulit mempercayai nya, bila tidak mendengar langsung dari mulut kakak nya sendiri.
"Maafkanlah aku di... maafkan kakak Lin...semua karena kakak, kakak' lah yang mencelakainya secara tidak langsung.."
ucap Viona sambil menutupi mukanya dan menangis sedih.
Di dalam sela sela tangisnya, Viona bergumam sendiri,
"Kakak sungguh pembawa sial..kakak selalu jadi sumber masalah baginya.."
"Bila tidak mengenal kakak, tentu Andi tidak perlu mengalami semua penderitaan ini..'
ucap Viona sedih bercucuran air mata, dia benar-benar semakin merasa bersalah dan menyesal.
Sesaat setelah perasaan nya sudah lebih tenang Violin pun berkata,
__ADS_1
"Lalu bagaimana selanjutnya kak ? kak Andi waktu itu jadinya gimana ?"
tanya Violin penasaran.
Viona kembali termenung kemudian berkata,
"Mungkin yang menolong Andi adalah James, kakak kurang tahu, kakak cuma tahu mobil kami di cegat di jalan oleh anak buah James.."
"Saat kakak bangun dari pingsan, Andi sudah duduk disebelah kakak, menjaga dan menunggui kakak.."
"Hanya itu yang kakak tahu Lin.."
Violin mengangguk dan berkata
"Pantas saja,.ini menjadi masuk akal sekarang, pasti karena pukulan para satpam pabrik itulah kak Andi jadi begini sekarang.."
"Karena Lin sangat yakin bila cuma beberapa pukulan Rio malam ini sudah pasti bukan masalah bagi kak Andi..."
ucap Violin penuh keyakinan.
"Kak Andi sudah melalui begitu banyak pertandingan berat, bila tidak sedang cedera, pasti kakak ipar tidak akan sanggup melukainya.."
Viona menatap kearah Violin, lalu berkata,
"Lin sebenarnya apa yang terjadi dengan Andi..di kota J.."
"Mengapa dia harus berbohong pada kakak, dan memilih mengikuti pertandingan berbahaya seperti itu..?"
"Padahal dari awal kakak sudah pernah memintanya untuk tidak melakukan hal itu dan dia sudah menyanggupinya, kenapa dia harus bohong dengan ku..?"
ucap Viona kecewa sambil menangis sedih.
"Dia memaksa melakukan hal itu, bukannya sama saja ingin mencari mati.."
ucap Viona kesal bercampur sedih.
Melihat reaksi kakaknya, Violin pun melanjutkan berkata,
"Menurut kakak apa kak Andi punya pilihan lain, ? dengan sifat kak Andi yang tidak ingin kehilangan kakak."
"Sekaligus tidak ingin melihat kakak bersusah hati mengkhawatirkan kondisi kami di sana..Apa kak Andi juga punya pilihan..?
ucap Violin memberikan pembelaan atas sikap yang di ambil oleh Andi..
"Kak asal kakak tahu kondisi keluarga kita saat itu, benar-benar sangat parah kak, aku Rina dan Doddy sudah menunggak SPP hingga 6 bulan dan kami sudah terancam akan di keluarkan dari sekolah bila tidak sanggup bayar.."
"Sedangkan ibu sudah berhutang dengan warung dan warga sekitar komplek hingga 200 juta lebih.."
"Bila kak Andi saat itu tidak terjun ke under ground mencari uang membantu keluarga kita.."
"Kakak pikir kami bisa seperti saat ini ? hidup mapan dan normal..?"
Mendengar beberapa penjelasan dari pertanyaan Violin, Viona hanya bisa terduduk lemas sambil termenung dan terus menghela nafas sedih dan penuh penyesalan..
Sesaat kemudian Viona kembali berkata dengan pelan,
"Lalu apa yang terjadi sepanjang Andi terjun ke Underground ?"
Violin menghela nafas sedih kemudian berkata,
"Apalagi yang bisa terjadi selain terluka dan terluka berulang kali...keluar masuk rumah sakit seperti keluar masuk rumah makan.."
__ADS_1