
Mereka belum pemberkatan, resepsi juga belum, Andi ingin memberikan penghargaan yang terbaik buat Violin.
Untuk Violin yang begitu tulus mencintai dirinya dan sudah berkorban begitu banyak demi cinta mereka.
Andi hanya ingin memberikan yang terbaik untuk nya.
Andi bahkan berencana, bila Violin setuju karena Violin juga belum masuk kerja.
Andi ingin mengajak Violin berkeliling ke seluruh manca negara, untuk menikmati masa masa kebersamaan mereka sepuasnya.
Andi ingin memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk membalas semua hutang perasaannya terhadap Violin, sehingga tidak akan pernah ada rasa sesal di antara mereka.
Sama seperti hubungan nya bersama Viona, semua berakhir tanpa ada rasa sesal lagi.
Hingga tengah malam Violin terbangun dari tidurnya, karena merasa Andi sedang tidak berada di sampingnya.
"Kak Andi,..! Kak Andi,..! kak Andi,..! kakak ada di mana ? kak,..!"
teriak Violin ketakutan.
Karena kamar mereka gelap gulita, sesaat kemudian pintu kamar terbuka.
Andi berjalan masuk kedalam kamar dengan membawa sebatang lilin ditangannya.
Melihat kedatangan Andi, violin langsung melompat turun dari kasurnya, lalu menghambur kedalam pelukan Andi dan berkata,
"Kakak jangan tinggalin lagi kak, Lin gak mau,.. Lin takut kak.."
Andi tersenyum dan menciumi kepala Violin dengan lembut dan berkata,
"Maaf sayang,.. tadi lampu padam.."
"Jadi kakak tadi pergi keruang bawah untuk menghidupkan genset."
"Tapi karena selama ini kakak lalai, gak rutin panaskan tuh mesin.."
"Jadi saat ngedadak mau di pakai , malah gak nyala.."
"Untung kemaren kamu ada ambil lilin waktu kita belanja, sehingga kita tidak perlu gelap gelap an.."
ucap Andi menjelaskan dengan lembut.
Violin masih memeluk Andi dengan erat dan berkata,
"Gak papa kak,.. kini Lin udah tenang.."
"Lin gak takut gelap kok kak, Lin cuma takut kakak gak berada di samping Lin.."
ucap Violin manja.
Andi tersenyum dan berkata,
"Aku adalah suami mu, emang aku mau sama siapa melewatkan sisa hidupku, bila tidak bersama mu..?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku juga tidak bisa hidup tanpa mu.."
"Kamulah satu satunya wanita yang paling ku cintai di dunia ini.."
"Tanpa kamu, hidupku tidak akan berarti lagi sayang.."
ucap Andi sambil menciumi kening Violin dengan lembut.
"Gombal ahh kakak, tapi sangat enak di dengar, Lin suka kak.."
ucap Violin sambil tersenyum bahagia.
Andi menatap Violin dengan serius dan berkata,
"Tidak Lin, kakak gak ngegombal, itu tulus dari perasaan kakak yang terdalam."
__ADS_1
Violin mengeratkan pelukannya dan berkata,
"Kini Violin semakin nyaman kak.."
"Kamu lapar tidak sayang, bagaimana bila kakak masakan mie instan untuk mu..?"
"Gak lah kak, udah malam takut gemuk, nanti baju pengantinnya gak muat.."
ucap Violin dengan wajah penuh sesal.
"Sereal aja gimana, ? atau mau susu WRP ? kemaren aku lihat kamu ada ambil itu.."
ucap Andi.
"Bolehlah kak, WRP aja,.susu low fat dan gula soalnya, tapi bisa bikin kenyang karena ada gandum nya juga.."
ucap Violin kembali bersemangat.
"Ok kakak akan buatkan kedapur, mau ikut atau tunggu di kamar...?"
tanya Andi sambil melihat Violin.
Sebenarnya Andi juga sudah bisa menebak jawaban Violin, dia hanya ingin memastikan nya saja.
"Aku ikut saja kak, biar langsung minum di dapur saja.."
"Biar gak ribet.."
ucap Violin cepat.
"Ok yuk kita ke bawah,.."
ucap Andi sambil mengangkat lilinnya agak tinggi.
Sehingga penerangannya menjadi lebih luas.
Setiba di dapur, Andi menyalakan beberapa lilin lagi sebagai penerangan.
Sehingga dapur pun menjadi terang benderang.
"Di luar masih hujan ya kak ?"
tanya Violin sambil menatap kearah luar jendela yang gelap gulita.
"Ya sayang,.. malah semakin lama semakin deras hujannya."
"Sepertinya hujan badai di luar sana.."
ucap Andi sambil membuatkan susu menggunakan air panas dari dispenser.
"Ini sayang minumlah biar hangat tubuh mu.."
ucap Andi sambil meletakkan susu buatannya, di hadapan Violin.
"Makasih ya kak,..kakak sendiri gak lapar kah,..?"
tanya Violin sambil minum susunya dan menatap kearah Andi.
Andi tersenyum dan berkata,
"Tidak apa-apa, kakak makan buah aja cukup.."
Andi membuka kulkas mengambil sebuah apel merah langsung mengigit dan mengunyahnya begitu saja.
Mereka berdua duduk berhadap-hadapan di bawah penerangan cahaya lilin.
"Jadi teringat saat kita dulu makan malam bersama di cafe V ya.kak.?"
ucap Violin sambil sedikit melamun dan tersenyum mengenang momen momen bahagia saat itu.
__ADS_1
Andi tersenyum dan berkata,
"Kamu benar, memang sedikit mirip."
"Perbedaannya hanya terletak pada perasaan nya saja.."
ucap Andi sambil sedikit termenung.
"Apa bedanya perasaannya kak,..?"
tanya Violin penasaran.
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Di sana dulu aku masih sedikit bingung dengan perasaanku sendiri.."
"perasaan macam apa kak ?"
tanya Violin semakin penasaran.
"Perasaan suka, perasaan ingin selalu berdekatan, tapi juga ada perasaan takut, ragu dan banyak pertimbangan terutama perbedaan usia kita, dan status mu saat itu."
ucap Andi jujur sejujurnya.
Violin mengangguk puas dan berkata,
"Lalu sekarang bagaimana. ?"
Andi langsung mengangkat wajahnya menatap Violin dengan lembut dan berkata,
"Sekarang perasaan ku sudah sepenuhnya terjerat dalam jaring cinta mu, aku sudah tidak bisa berpikir terlalu banyak.."
"Selain sepenuh hati sekuat tenaga mencintai mu dan menyayangi mu dengan sepenuh hati.."
"Di pikiran ku hanya satu, aku ingin kamu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.."
"Aku tahu hal itu mudah di ucapkan, tapi sulit dilaksanakan.."
"Tapi aku akan berusaha semampu ku, untuk mewujudkannya."
ucap Andi setulus hati.
Violin menggenggam tangan Andi dan berkata,
"Terimakasih kak, aku percaya pada kakak, aku sangat yakin kakak pasti mampu mewujudkannya untuk ku.."
"Karena kakak adalah pria yang paling baik dan paling bertanggungjawab, yang pernah aku kenal selama ini."
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Lin, kakak tetap lah manusia biasa yang penuh kekurangan, tapi kakak akan selalu dan selalu berusaha memperbaiki nya.."
"Agar bisa selalu membahagiakan mu."
Tiba-tiba lampu pun menyala, sehingga ruangan yang tadinya agak sendu dan romantis, kini menjadi normal kembali.
"Kak Lin pengen nonton TV, nonton film romantis,.. kakak temani Lin nonton ya kak.."
ucap Violin penuh harap.
Karena sejak kecil hingga besar, dia melihat mamanya hanya menonton tertawa dan menangis sendiri.
Papanya ogah menemani, hal ini membuat Violin sejak kecil sudah berharap suatu hari nanti.
Suaminya akan bersedia temani dia nonton film seperti itu, jangan seperti papanya yang tidak pernah bersedia menemani mamanya, menonton film seperti itu.
Andi mengangguk dan berkata,
"Ayo kakak temani kamu menonton sampai puas.."
__ADS_1