
"Dengan mudah kamu memilih pergi dengan pria egois tidak punya perasaan itu."
"Lalu kamu dengan tega menyakiti perasaannya, tidak sampai di situ saja, kamu bahkan dengan tega menuduhnya melakukan hal rendah dengan sahabat mu.'
"Apa kamu tidak merasa kamu seperti maling sedang teriak maling."
ucap Santi sedikit emosi.
Setelah memenangkan nafas dan emosinya dia baru melanjutkan berkata,
"Aku hari ini akan katakan terus terang pada mu, Aku akui Aku memang menyukai Andi dan juga telah jatuh cinta padanya sejak lama."
"Kenapa ? karena Andi adalah pria yang sangat pantas untuk dicintai, Tapi demi persahabatan kita selama ini aku memendam dan menahannya."
"Lagipula aku tahu betul sampai kapan pun perasaan Andi hanya untukmu saja."
"Ada satu hal yang ku pelajari dari Andi dan tak pernah ku lupakan."
"Itu adalah mencintai seseorang bukan harus memilikinya, bisa melihat dia bahagia kita pun merasa turut bahagia, itu baru cinta tulus sejati."
"Mulai hari ini kita jalan masing-masing, kamu jalan jalan terang mu, biar aku jalan di jalan kegelapan ku."
"Kamu pikir dan berbuat lah dengan benar, sampai jumpa."
Sambil menghapus airmatanya, Santi melempar kunci motornya ke depan Viona.
Lalu dia berlalu dari tempat itu tidak jadi mengikuti perkuliahan.
Moodnya sudah hilang oleh tuduhan Viona yang sangat menyakitkan.
Sia-sia mereka bersahabat selama ini, ternyata di mata Viona dia adalah sahabat yang bisa menikamnya dari belakang.
Viona juga tidak bisa berkonsentrasi, meski orang nya duduk di dalam kelas, tapi hati dan pikirannya sedikitpun tidak berada di sana.
Dia termenung memikirkan setiap kata-kata sahabatnya yang menusuk perasaan dan sangat pedas.
Tapi dia harus akui semua itu adalah fakta, fakta nyata yang tidak mungkin bisa dia bantah.
Dia telah memandang orang lain rendah karena menganggap orang sama rendah seperti dirinya.
Viona tiba-tiba membereskan alat tulisnya menutup Loose leaf nya, kemudian dia bergegas meninggalkan ruang perkuliahan.
Meminta ijin dengan dosen pengajar dengan alasan sakit perut kurang enak badan.
Begitu keluar dari kelas perkuliahan, Viona berlari dengan buru-buru menuju lapangan parkir.
Viona mendengar suara Rio yang sedang memanggilnya dari belakang, tapi dia tidak mau menoleh ke belakang sama sekali.
Dia malah mempercepat langkahnya, dia mengambil kendaraan nya menggunakan kunci remote control agar bisa mengetahui di mana letak kendaraan yang di carinya.
Begitu ketemu Viona langsung membawa kendaraan Honda Scoopy miliknya dan Santi meninggalkan kampus.
Viona membawanya dengan buru-buru menuju kost Andi, dia pernah mendengar dari Mia dan Eva di mana letak kost Andi.
__ADS_1
Dengan kira-kira dia membawa kendaraan nya menuju tempat itu, Viona akhirnya menemukan sebuah kost sederhana yang seperti di ceritakan oleh teman-temannya.
Viona membawa kendaraan nya memasuki halaman kost tersebut, Viona memarkir motornya.
Lalu dia berjalan dengan ragu-ragu menghampiri pintu masuk ke kost itu yang terbuka lebar.
Di ruang tamu kost tersebut Viona melihat beberapa pria muda sedang asyik bermain kartu.
Viona pun melongokkan kepalanya ke dalam dan berkata,
"Permisi...!"
Ya jawab orang-orang itu kompak, mereka benar-benar mengalami surprise hari ini.
Kost mereka yang terkenal jelek dan selalu di jauhi oleh mahasiswi manapun.
Kini dalam satu hari bisa di datangi oleh dua orang gadis cantik ini benar-benar aneh bin ajaib.
Kalau ini musim ujian, mereka gak heran dan maklum, karena meski kost mereka jelek tapi kost ini langganan private anak-anak kampus baik pria maupun wanita bila mendekati hari ujian.
Ada yang pinjam catatan, ada juga yang khusus datang buat belajar secara private.
Tapi saat ini tidak sedang musim ujian, musim ujian masih jauh kost mereka malah berturut-turut didatangi cewek cantik.
Begitu melihat wajah Viona ke 6 pria yang sedang duduk bermain kartu itu langsung bengong.
"Maaf, apakah Andi kost di sini ?"
Mereka bahkan tidak menjawab dan mendengar pertanyaan Viona, mereka hanya melongo menatap Viona seperti orang terhipnotis.
Viona tersenyum melihat aksi ke 6 pria di hadapannya.
Viona gak heran, dia sudah terbiasa dengan tatapan kagum pria yang melihatnya.
Karena dia tahu dia memang memiliki wajah dan bentuk tubuh yang sangat menarik, terutama kaum pria.
"Hellooo...!"
ucap Viona sambil melambaikan tangannya didepan wajah orang-orang itu.
Mereka akhirnya tersadar, Apek kengkeng segera berdiri dengan gayanya yang sok imut dia berkata,
"Ohh bidadari kamu jauh-jauh dari langit turun ketempat jelek ini, apakah ingin bertemu dengan pria yang paling tampan sedunia."
"Kamu sangat beruntung kebetulan pria tersebut tepat sedang berada di hadapan mu."
ucapan nya yang narsis langsung mengundang tawa dari rekan-rekannya yang ada di sana.
Hoeekk...! Hoeeekk..!"
Johnny chipmonk pura-pura mau muntah melihat aksi apek yang gak tahu diri.
Tapi justru terlihat sangat lucu dan menghibur.
__ADS_1
Viona sendiri sampai menutup mulutnya sendiri menahan tawa, apalagi saat apek kengkeng memainkan alisnya naik turun.
Viona benar-benar kesulitan menahan keinginan untuk tertawa.
Akibat ulah apek, sesaat Viona sampai lupa dengan kesedihan dan tujuan dia datang ke kost ini.
Tapi saat Andi turun dari lantai dua sambil membawa centong mandi dan handuk yang tergantung di bahunya.
Viona kembali teringat tujuan kedatangan nya kemari, tanpa memperdulikan kebingungan Andi yang melihat nya datang berkunjung ke kostnya.
Viona langsung maju memegang tangan Andi dan berkata,
"Andi aku ingin berbicara berdua dengan mu, bisa ?"
Andi dengan wajah bloon hanya bisa mengangguk dan tidak tahu mau berkata apa.
"Di.. kita bicara di kamar mu saja ya ?"
Andi mengangguk, seperti di hipnotis dia berjalan kembali menaiki tangga menuju kamar nya.
"Woi di... jad-jadi lah..! jangan kemaruk gitu...! bagi-bagi rejeki dong..!"
teriak apek kengkeng dengan narsis.
Tapi Andi tidak memperdulikannya, dia sendiri terlalu kaget dengan kehadiran Viona yang tiba-tiba.
Andi membuka pintu kamar nya mempersilahkan Viona untuk masuk dan berkata,
"Masuk Vi, kamu mau bicara apa katakan saja ?"
Viona masuk kedalam kamar Andi, dia menutup korden jendela, Kemudian sambil berdiri membelakangi jendela dia berkata,
"Boleh tolong tutup pintunya,.. di ?"
Andi meski merasa tidak enak, tapi dia tidak membantahnya.
Andi menutup pintu dan memandang Viona dengan tatapan bingung.
"Di.. katakan dengan jujur sekarang, apakah kamu punya perasaan terhadap Santi ?"
Andi meski sedikit terkejut di dalam hati, dia sedang menebak-nebak apa yang terjadi antara Viona dan Santi.
Tapi dia tetap dengan tenang menjawab,
"Tidak Vi, aku cuma anggap Santi sebagai teman baik, sama seperti kamu yang juga teman baikku."
Foto VIONA
Foto ANDI
__ADS_1