
"Saat kami bertemu, dia sedang di ganggu preman preman itu, saat itu hari masih sore Vi."
ucap Andi sedikit berbohong
Andi ingin melindungi Violin, karena Andi tahu Violin sampai jadi tukang ojek, pasti punya alasan tersendiri.
Yang tak ingin dia ungkapkan ke Viona, agar kakaknya tidak cemas.
Dalam hal ini Andi sangat kagum dengan sikap adik Viona yang sangat dewasa dan pengertian.
Berpikir seperti itu Andi pun meneruskan kebohongannya, untuk membela Violin, sekaligus menjaga perasaan Viona agar tidak sedih dan cemas.
"Karena menolong mengantar ku interview kerja lah, dia jadi kemalaman pulangnya, jadi semua ini salah ku, Vi..."
ucap Andi berusaha menenangkan Viona, dengan memikul semua kesalahan seorang diri.
"Kalau kamu mau marah marahlah pada ku, dalam hal ini akulah yang bersalah,...bukan Violin.."
ucap Andi lembut.
Viona melembut setelah mendengar penjelasan Andi, dan dia berkata,
"Sudahlah kamu memang membutuhkannya,
Karena kamu tidak tahu jalan, dan juga dari awal kamu tidak tahu dia adikku."
"Lagipula untung ada kamu, kalau tidak entah bagaimana nasib adik ku kini, bila dia sampai jatuh kedalam tangan para preman itu."
"Masa depannya pasti hancur, dan dia akan alami trauma seumur hidup."
ucap Viona gemetar, ngeri membayangkan nya.
"Di kamu tolong antar adik ku pulang dengan selamat sampai ke rumah ya..?"
ucap Viona.
Andi tertawa dan berkata,
"Apa gak sebaliknya Vi, karena yang tahu jalan dia bukan aku.."
"Andi...serius deh...! aku sungguh cemas, dia adik ku satu-satunya perempuan lagi, aku takut terjadi apa-apa.. dengan nya.."
ucap Viona.
"Baik-baik aku janji, tanpa di suruh pun aku bakal lindungi adik mu yang cantik dan imut itu.."
ucap Andi sambil tertawa.
"Hushh...!! awas ya, berani macam-macam dengan adik ku, dasar buaya mau jadi pagar makan tanaman loe..?"
"Awas saja kalau berani macam-macam dengan nya, aku akan membuat perhitungan dengan mu..!"
ucap Viona galak.
"Ok...ok...ok...ampun tuan putri, hamba tidak akan berani, meski di beri nyali macan sekalipun.."
ucap Andi pura-pura memelas.
Mendengar nya, Viona pun tertawa dan berkata,
__ADS_1
"Dasar gombal... tukang ngelantur..."
"Sini aku mau bicara dengan adik ku saja."
ucap Viona sambil tertawa.
"Ok,..siap cantik..."
ucap Andi sebelum memberikan telpon kembali ke Violin.
Andi sempat mendengar suara tertawa Viona yang renyah di seberang sana, karena pujian nya barusan.
Violin menerima telpon dari Andi dengan rada takut takut, dia takut kembali di marahi oleh kakaknya.
"Ya kak.."
jawab violin begitu mengangkat telpon.
"Maafin sikap kakak tadi ya, kakak tidak bermaksud memarahi mu."
"Kakak hanya cemas, dan tidak ingin terjadi hal buruk pada mu.."
ucap Viona melembut.
"Ya kak.. Violin, mengerti kok maksud kakak, kakak jangan cemas kan Violin."
"Violin, Rina Doddy, Ayah, ibu kami semua di sini baik-baik saja, kakak' tidak perlu khawatir."
ucap Violin lembut.
"Baiklah sudah malam cepatlah pulang kerumah biar di temani Andi.."
Violin membawa HP Andi sedikit menjauhi Andi dan berkata dengan suara pelan,
"Kak bukan nya Andi ini katanya, pria yang merusak hubungan kakak dan tunangan kakak, kak Rio."
"Anak kecil tahu apa, jangan suka campur urusan orang besar, fokus saja sama sekolah mu..'
tegur Viona galak..
Mendengar teguran kakaknya, violin pun meleletkan lidahnya dengan gaya lucu.
Dan berkata.
"Ya udah violin pulang dulu ya kak, bye..."
"Ya hati-hati di jalan.."
ucap Viona lembut.
Violin berjalan kembali mendekati Andi, lalu mengembalikan HP Andi dan berkata dengan sedikit ketus,
"Ayo kita pulang..."
Andi yang tidak tahu pangkal sebab, hanya bisa menuruti Violin, tanpa berani banyak cakap.
Kelak mau bersama Viona, dia masih memerlukan kata-kata pelicin dari Violin di depan kedua orang tua nya.
Jadi Andi punya nyali sebesar apapun, tidak bakalan berani menyinggung gadis kecil ini.
__ADS_1
Andi menggeser duduknya kebelakang, Violin tanpa banyak bicara langsung naik di depan.
Lalu dia menyalakan mesin motornya.
Sesaat kemudian Violin pun mengendarai motornya meninggalkan gedung Sasana TAH.
Baru berjalan tidak sampai 50 meter meninggalkan gedung sasana TAH, tiba-tiba perut Violin berbunyi dengan sangat nyaring.
"Kriuk..kriukkk...kriukkk...!"
Wajahnya Violin langsung merah padam menahan malu, gengsi gadis kecil itu langsung runtuh.
Bila wajahnya tidak tertutup masker dan helm, dia tentu akan semakin malu.
Dia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Andi tidak mendengar bunyi suara perutnya barusan.
Bila tidak habislah sudah imagenya di depan Andi.
Awalnya Violin cukup kagum dan menyukai Andi yang jujur baik tampan dan sangat bisa di andalkan.
Tapi setelah tahu Andi adalah pria yang terus mencoba merusak hubungan kakak nya dan kak Rio, yang telah banyak berjasa terhadap penangguhan hutang ayahnya.
Violin menjadi sinis dan tidak menyukai Andi, bahkan dia meremehkan dan memandang rendah Andi.
Yang menurut Violin Andi adalah benalu yang tidak tahu malu dan terus menempel memanfaatkan kepolosan kakaknya.
Tapi kini perut sialan nya, yang belum di isi malah menghianati nya, dan menghancurkan imagenya didepan pria sampah seperti Andi.
Andi juga tahu, dari gerak gerik Violin yang tiba-tiba jadi jutek padanya, setelah tahu dia adalah kekasih kakak nya.
Andi berpikir tentu Rio sudah meracuni keluarga Viona dengan menyebarkan fitnah pada dirinya.
Meski sedih tapi Andi tetap bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa, dia hanya menghibur diri.
Biar waktu yang akan membuktikan semuanya, siapa yang baik siapa yang tulus, pada akhirnya semuanya juga akan jelas dengan sendirinya.
"Lin di depan sana ada tukang nasi goreng, kita mampir makan sebentar ya baru pulang.?"
"Aku agak lapar, dari siang belum makan, kalau langsung kembali ke kost aku bisa mati kelaparan.."
ucap Andi pura-pura memelas.
Andi sengaja berkata begitu, karena dia tahu Violin sebenarnya kelaparan dan belum makan.
Sehingga perutnya sampai mengeluarkan bunyi sekeras itu.
Tapi bila dia menawari Violin mencari makan bersama, Violin pasti akan menolaknya karena gengsi.
Untuk menjaga image Violin, Andi hanya bisa gunakan cara konyol ini.
Andaikan kejadian ini terjadi sebelum Violin tahu Andi kekasih benalu kakaknya, tentu akan dengan senang hati Violin menerima tawaran Andi.
Tapi saat ini, Violin sudah tahu semuanya, dia sangat membenci Andi, tentu dia tidak bersedia menerima tawaran Andi.
"Gak usah bawel udah malam, tahan sana sendiri laper mu, bukan urusan ku."
"Ingat saja biaya ojek mu pergi pulang, plus extra time menunggu mu jadi 50 ribu, tidak boleh kurang."
ucap Violin mengingatkan.
__ADS_1