
"Aku juga tidak tahu kenapa, bisa bercerita pada mu.."
"Yang jelas saat ini aku merasa perasaan ku menjadi jauh lebih ringan dan lega.."
"Hari sudah sore, maaf aku jadi menganggu waktu mu dengan cerita ku yang tidak penting itu.."
ucap Louis sambil tersenyum tidak enak hati.
Andi menepuk bahu Louis dan berkata,
"Jangan sungkan Louis, kita meski baru kenal, tapi aku sudah anggap kamu seperti sahabat lama."
"Jadi tenang saja, kapan pun kamu ada waktu luang perlu teman ngobrol, mainlah kemari, kita bisa ngobrol sepuasnya di sini."
"Terimakasih di,.. sebenarnya aku juga ingin mengobrol banyak, membalas mendengar cerita mu,"
"Aku juga penasaran kenapa kamu bisa pilih hidup seorang diri di tempat terpencil seperti ini..?"
"padahal usia mu masih amat muda dan sedang produktif produktifnya.."
"Tapi saat ini aku harus simpan rasa penasaran itu, untuk sementara waktu.."
"Karena malam ini aku sudah ada janji makan malam bersama anak istri ku.."
"Jadi maaf ya di,.. aku harus pulang duluan sekarang.."
ucap Louis sambil bangkit berdiri dan menepuk bahu Andi.
Andi pun ikut berdiri menepuk bahu Louis dan berkata,
"Pulanglah,.. hati hati di jalan.."
Andi sedikit merasa iri, andaikan dia punya sebuah keluarga kecil dan tidak ada penyakit di kepalanya ini..
Dia sudah akan merasa sangat bahagia dan puas, bila semua itu bisa di tukar dengan seluruh hartanya, Andi akan rela dan tidak akan menyesal menukarnya.
Setelah Louis berlalu, Andi kembali merasakan kehidupannya yang kesepian.
Sambil berjalan kembali ke kamarnya, Andi mengirim pesan ke Berry, tentang alamat tempat tinggal barunya ini.
Andi tidak menelpon, karena dia tahu jelas, jam segini berry pasti sedang asyik berpesta dan berhura-hura dengan Top super model dan artis artis Hollywood, dirumah barunya.
Sesuai dugaan Andi, Berry di tempat lain di kediaman barunya yang super mewah dan nyaman memang sedang di adakan party di sana.
Berry hanya mengenakan celana pendek,.duduk setengah berbaring sambil memeluk dua orang model cantik yang hanya mengenakan pakaian renang.
Suasana Hura Hura dan musik hinggar bingar mewarnai rumah mewah yang menjadi tempat tinggal baru bagi Berry.
__ADS_1
Tapi saat melihat SMS alamat tempat tinggal Andi masuk.
Berry buru-buru berdiri membawa HP nya menjauhi keramaian, naik kelantai dua menuju ruang kerja pribadinya.
Berry masuk kedalam ruangan privasi nya, menutup dan mengunci pintu kamar rapat rapat.
Lalu sambil duduk menghadap jendela Berry melakukan panggilan telpon interlokal jarak jauh.
Cukup lama Berry melakukan panggilan telepon, hingga mengulangnya hampir 10 kali.
Akhirnya panggilan dari Berry terhubung juga.
Terdengar sebuah suara lembut yang sudah lama Berry kenal mengangkat telponnya dan berkata,
"Halo bersama Dokter Violin disini, maaf dari siapa ya ?'
Mendengar suara tersebut Berry pun terdiam, sesaat dia merasa bersalah terhadap Violin, tapi di lain sisi dia juga merasa bersalah dengan Andi.
Tapi melihat kondisi Andi yang sudah sampai pada tahap seperti ini, dia sungguh tidak tega, bila tidak membantu sahabat satu satunya mengabari Violin.
"Halo,..halo..siapa ini ya,.? maaf bila masih tidak berbicara,.saya akan matikan panggilannya.."
ucap Violin tegas.
"Violin ini aku Berry, aku tahu saat ini aku mungkin hanya jadi pengganggu kehidupan bahagia mu bersama Ronaldo.."
"Bila kamu masih punya sedikit hati nurani, datanglah menjenguknya untuk terakhir kalinya.."
"Ini adalah alamatnya,...aku nanti akan mengirimkannya via chat.."
"Kamu pertimbangkanlah sendiri baik baik, maaf telah menganggu waktu mu yang berharga..bye.."
ucap berry lalu langsung mematikan panggilan telponnya.
Setelah menyelesaikan panggilannya,.Berry melemparkan telponnya keatas meja, dia menangis sedih seorang diri, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Sementara itu, Violin yang sedang berada di ruang kerjanya, dia saking terkejutnya mendapat telpon dari Berry.
Dia bahkan lupa untuk memarahi Berry yang begitu saja menghilang bersama Andi tanpa kabar beritanya.
Sehingga membuat dirinya harus kehilangan Andi selama 5 tahun ini.
Selain kaget dengan telpon Berry yang sudah lama menghilang, dia juga sangat terkejut dengan berita buruk yang Berry bawakan untuknya.
Berita buruk yang satu ini benar benar membuatnya lupa akan segala hal, selain tercenung dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya, Hingga menetes membasahi buku resep di hadapannya.
Saat seorang perawat masuk kedalam ruangan tersebut, dan mendapati Dokter Violin yang terkenal tegar dan kuat, sedang termenung bercucuran airmata.
__ADS_1
perawat yang membawa kartu pasien tersebut sangat kaget.
Dia dengan buru-buru menghampiri Violin menepuk bahunya dengan pelan dan berkata
"Dokter Violin kamu kenapa ? apa ada sesuatu yang tidak benar..?"
Violin pun jadi tersadar dari lamunannya, setelah di tegur oleh perawatnya.
Tanpa menghiraukan tatapan heran dan pertanyaan dari perawatnya
Violin langsung melepaskan stetoskop yang di gantung di lehernya, lalu dia geletakkan begitu saja di atas meja.
Setelah itu dia langsung melepaskan jas putih seragam dokternya dan meletakkannya diatas sandaran kursi secara sembarang.
Lalu tanpa menoleh, dia sambil berjalan meninggalkan ruangannya, berpesan ke perawatnya.
"Semua pasien alihkan ke DoDo, aku mau pergi temui direktur.."
Ngomongnya pergi temui direktur, tapi kenyataannya Violin hanya mengirim pesan singkat.
"Prof aku mau cuti panjang,... ada urusan pribadi urgent.."
Violin selama bekerja di rumah sakit M ini belum pernah sekalipun dia mengambil cuti.
Dia selalu menyimpan dan menabungnya untuk keperluan hari ini, jadi tidak ada alasan apapun yang bisa mencegah dia untuk pergi.
Bila di larang pun, violin akan memilih mengundurkan diri tanpa perlu pikir panjang.
Tidak ada yang lebih penting di dunia ini, selain Andi.
Sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa melupakan pria yang sudah merebut seluruh perasaan dan hatinya itu.
Violin setelah mengirim.pesan, dia segera berlarian meninggalkan rumah sakit sambil sesekali menghapus airmatanya yang runtuh.
Dari jauh Violin langsung menyalakan remote mobilnya, yang terparkir di area spesial yang hanya boleh di tempati oleh Prof Peter Ho direktur sekaligus owner rumah sakit M dan putranya Ronaldo.
Tempatnya sangat strategis dan mudah di jangkau.
Violin tanpa memperdulikan tatapan heran semua orang, dia segera masuk kedalam mobil Maybach nya.
Kemudian dengan gesit mobilnya bergerak meninggalkan rumah sakit langsung menuju bandara.
Violin menyetir dengan kecepatan tinggi, menyalip kesana kemari, seperti pembalap mobil profesional.
Saat memasuki lokasi parkiran di bandara pun, dia melakukan rem mendadak, hingga ban mobilnya berdecit keras dan meninggalkan bekas gesekan roda ban di atas aspal.
Tapi Violin tidak ambil pusing, dia langsung berlari kearah terminal keberangkatan, sampai di sana dengan nafas memburu dia Segera menghampiri loket penjualan tiket langsung.
__ADS_1