
Viona mengangguk dan berkata,
"Ok, lah kelihatannya memang hanya bisa begitu.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Kamu tenang saja tak perlu buru-buru, masih ada banyak waktu untuk kita jalan jalan.."
"Setiap hari aku akan temani kamu jalan kemana pun kamu suka.."
"Aku janji itu..."
Viona mengangguk gembira, mendengar janji Andi.
Tak lama kemudian pesanan Viona pun tiba.
Satu persatu masakan pesanan mereka di letakkan di atas meja.
Menu menu yang di sajikan di tata dengan sangat cantik dan menarik.
"Ayo kita makan,.."
ucap Viona antusias, melihat menu menu pesanan nya.
Andi mengangguk lalu dia pun mulai mencoba makanan yang ada di hadapannya.
Masakan nya memang terlihat sangat cantik, tapi setelah Andi menggerakkan sendok garpu untuk mencobanya.
Ternyata yang ada di hadapannya adalah sepotong pisang dengan saus kacang hijau dan kacang merah.
Meski aneh, Andi tanpa banyak cakap menelan semuanya.
Viona menatap Andi lekat lekat dan berkata,
"Bagaimana enak sayang..?"
Andi hanya mengangkat jempolnya dengan kepala tertunduk,. berusaha menghabiskan menu masakan di hadapannya.
Andi takut bila mengangkat wajah dan berbicara, Viona akan tahu dia sedang berbohong.
Melihat Andi makan tanpa bicara dan terlihat sangat menikmati masakan nya, hingga kepala selalu tertunduk.
Viona pun dengan senang hati, menikmati menu makanan di hadapan nya
Viona lebih beruntung karena yang ada di hadapannya ada kentang bakar keju susu, dengan saos jamur dan beberapa jenis sayuran salad.
Andi dengan cepat sudah menghabiskan seluruh makanan di hadapannya.
Setelah itu dia langsung bersendawa, bukan karena kenyang puas tapi lebih ke arah enek.
"Gimana mau nambah di,..?'
tanya Viona.
Andi buru-buru menggoyangkan tangannya dan berkata,
"Tidak cukup sayang, kamu aja kalau masih mau tambah.."
"Aku dah cukup, aku mau ke toilet dulu bentar.."
ucap Andi sambil bangkit dari kursi.nya kemudian buru buru berjalan menuju toilet.
Andi merasa perutnya sangat mules, setelah habis minum yoghurt stroberi yang asem bukan main..
__ADS_1
Andi baru merasa lega, setelah isi perutnya yang serasa di kocok kocok itu terdorong keluar semua nya.
Saat Andi kembali ke meja, Viona yang juga sudah selesai makan, pun berkata,
"Kok.lama di,.. kamu kurang sehat ya ? terkena hujan tadi.."
"Gak Vi, gak papa, tadi ada telpon dari Berry ngobrol sebentar bahas kerjaan jadi sedikit lama.."
"Ohh,.."
ucap Viona gak sadar Andi sedang mengarang indah.
"Sudah kita pulang,..?"
tanya Andi.
Viona mengangguk dan berkata,
"Boleh tapi di luar hujan malah semakin deras, gak bahaya apa kamu nyetir dalam kondisi seperti ini menuruni bukit terjal..?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Gak papa tenang aja, yuk.."
Andi kembali berjongkok memunggungi Viona, menunggu Viona naik ke punggung nya.
Setelah Viona sudah naik ke punggung nya, Andi baru bangkit berdiri menggendong Viona berjalan menuju kasir.
Setelah membayar di kasir menggunakan kartu nya, Andi pun meninggalkan restoran itu.
Pelayan restoran di sana, membantu memayungi Andi dan Viona hingga masuk kedalam mobil.
Setelah mengucapkan terima kasih, kepada pelayan tersebut Andi pun mengendarai mobil nya meninggalkan restoran mewah tersebut.
Viona yang sempat tegang tadi kini sudah bisa bernafas dengan lega kembali.
"Maaf ya di,..memilih tempat makan seperti itu, jadi membuat mu susah,.."
ucap Viona sedikit menyesal.
"Kamu ini bicara apa sih,.. ya gak lah, gak da susah nya, aku juga cukup menikmati dan bahagia kok."
"Vi,.. kamu tunggu bentar di mobil ya, kita kebetulan melewati emperan tempat makan nasi uduk dan bebek goreng, panggang yang kita makan sama Santi dulu.."
ucap Andi sambil memarkir mobilnya.
"Ini buat jaga jaga kalau nanti habis nonton laper kita bisa makan trip ke 2.."
ucap Andi beralasan.
Viona mengangguk dan tersenyum,
"Terserah kamu aja di,..aku ikut aja.."
"Tapi lebih baik kamu dekati mobil ke penjual nya saja, pesan dari mobil aja, hujan masih deras tuh.."
ucap Viona memberi saran.
Andi mengangguk dan berkata,
"Boleh juga tuh, tempat makannya juga lagi sepi, biar dia pakai payung aja hampiri kita.."
Andi memajukan mobilnya pelan pelan mendekati gerobak penjualnya.
__ADS_1
Benar sesuai dugaan Andi ada mas mas yang langsung menggunakan payung membawa nota dan pulpen menghampiri samping kaca jendela mobil Andi.
Andi menurunkan sedikit kaca mobilnya dan berkata,
"Mas Nasi uduk nya 5 bebek 2 ekor ayam kampung dua ekor satu panggang satu goreng, Pete 5 papan, tahu 10 tempe 10."
Mas mas itu mengangguk dan mencatat nya dengan cepat, lalu dia kembali lagi ke gerobaknya untuk menyiapkan pesanan Andi.
"Di pesannya apa gak kebanyakan ?"
protes Viona, setelah Andi selesai pesan.
Andi tersenyum dan berkata,
"Namanya juga pesta, kan dirumah masih ada suster Emi yang belum makan.."
Ucap Andi berkilah padahal sebenarnya dia lah yang kelaparan berat.
Karena semua yang di isi udah dua setor habis ke lubang closed.
Viona hanya mengangguk kecil gak banyak protes lagi.
"Di,.. kamu pesan Pete, aku jadi ingat dengan Santi, gimana ya keadaan nya sekarang..?"
"Kamu ingin ketemu dia, dia ada kok di kota ini bersama suami dan anak nya."
"Kalau mau, besok kita boleh coba main ke dia,.."
ucap Andi ringan..
"Tapi aku agak takut dengan suaminya, karena Rio pernah menggunakan aku untuk menjebaknya.."
"Hingga dia hampir tewas dan saudara saudara nya banyak yang meninggal dalam insiden tersebut.."
ucap Viona merasa bersalah.
"Itu bukan salah mu, James ngerti kok tenang aja, yang sudah laku biar berlalu gak usah terlalu di pikirkan.."
ucap Andi sambil tersenyum lembut.
Viona mengangguk pelan dan berkata,
"Semoga saja seperti kata mu, aku benar benar merasa kurang enak bila tidak.."
Andi membelai rambut Viona dan berkata,
"Percaya lah pada ku, aku sangat mengenalnya, James bukan orang yang berjiwa sempit."
"Sebaliknya dia dan Sarah sama memiliki jiwa yang lapang dan mulia.."
"Hanya saja dia suka pasang wajah dingin dan tidak suka banyak bicara, kecuali ke Santi dan putra kesayangannya itu."
ucap Andi mencoba mengurangi rasa khawatir Viona.
"Sarah juga ada di,..?"
tanya Viona pelan.
Dia juga sedikit tidak enak hati dengan Sarah, karena Sarah setelah tahu dia memilih Rio, meninggalkan Andi.
Apalagi sejak menjadi penyebab Andi jatuh koma, Sarah menjadi semakin membencinya dan tidak bersedia berhubungan lagi dengan nya.
Andi tersenyum pahit dan menganggukkan kepalanya,
__ADS_1
"Benar Sarah juga ada, tapi kamu jangan berpikir terlalu jauh, semua belum tentu seperti yang kamu bayangkan.."