
Sore itu di hari kedua di saat Andi sedang duduk bersantai di atas batu, telpon dari Viona kembali masuk.
Andi menatap telpon di tangannya sambil tersenyum pahit, ada perasaan campur aduk sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Setelah dua hari ini berpikir, perlahan-lahan Andi mulai menyadari, kedatangan Viona kali ini pasti ada urusan penting yang tidak mudah .
Bukan sekedar khusus ingin melihat dan menemui nya melepaskan rindu, pasti ada hal lainnya.
Saat ini di hati Andi ada rasa gembira karena bisa segera bertemu dengan Viona, tapi di samping itu juga ada rasa was-was tidak tahu apa yang akan di rencanakan oleh Rio ke dirinya lewat tangan Viona.
Andi sebenarnya juga heran dengan Rio, bukan kah dia sudah mencapai tujuannya, merebut dan memisahkan Viona dari dirinya, kenapa tetap saja belum puas.
Apa sebelum melihat dirinya mati, orang itu tidak akan pernah merasa puas untuk menganggu hidupnya.
Padahal Andi tidak pernah merasa punya dendam apapun dengan orang itu, dari awal pertemuan juga adalah dia, yang terus mencari gara gara dengan nya.
Dan yang Andi lakukan selama ini juga hanya sekedar membela diri, tidak pernah punya pikiran serius untuk membalas ataupun mencelakainya.
Akhirnya dengan pikiran galau, Andi memaksakan diri menerima telepon dari Viona.
"Ya halo Vi..udah sampai ? baiklah tunggu sebentar aku akan segera turun menemui mu.."
ucap Andi singkat.
Kemudian dia dengan ringan berlompatan menuruni bukit tempat tinggal kakek nya.
Saat tiba di bawah bukit Andi berdiri tertegun, menatap kearah Viona yang sedang berdiri menunggunya.
Di sana selain Viona, Andi sama sekali tidak melihat kehadiran Rio.
Melihat penampilan Viona saat ini, hati Andi sangat terenyuh dan berduka,
Viona nya dulu yang begitu cantik dan bahagia.
Kini terlihat begitu tertekan dan menyedihkan, badannya begitu kurus, sepasang matanya sedikit cekung dan ada garis hitam nya.
Meski sudah berdandan, tapi tetap tidak bisa menutupi keadaan sebenarnya.
Viona mengenakan long dress warna putih, pakaian ini dulu pernah dia kenakan saat mereka masih bersama.
Tapi kini terlihat sangat jauh berbeda, dulu baju ini sangat pas di tubuh Viona yang Sexy dan montok.
Kini long dress ini terlihat kedodoran di tubuhnya yang kurus.
Saat gaunnya tertiup angin seperti tiang bendera putih yang sedang berkibar-kibar tertiup angin.
Andi tidak bisa menahan emosinya melihat keadaan Viona saat ini.
Tanpa dapat tertahankan lagi airmata bercucuran membasahi pipinya, meski wajahnya terlihat berusaha tersenyum.
Andi berlari buru buru mendekati Viona, sambil melepaskan jaketnya Andi berkata.
__ADS_1
"Di sini anginnya besar, pakailah jaket ku ini.."
Viona tidak menolaknya, karena dari tadi, dia memang merasa kedinginan dan sedikit agak meriang, terkena hembusan angin laut sore hari.
"Makasih di,.."
ucap Viona lembut.
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak perlu sungkan Vi,..ayo kita berbicara di sebelah sana saja, di sana ada pondok kosong.."
ucap Andi sambil menunjuk sebuah tempat peristirahatan yang letaknya tidak jauh dari mereka.
Viona tersenyum penuh haru, saat merasakan perhatian Andi padanya yang tetap tidak pernah berubah.
Meski dirinya sudah menyakiti perasaannya dengan begitu mendalam.
Saat inipun tujuan kedatangannya, kembali ingin menyakiti perasaan Andi, untuk memenuhi janjinya pada Rio dan ayah mertuanya.
Viona mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa, dia berjalan mengikuti di samping Andi.
Andi yang secara reflek ingin memegang tangan Viona membimbingnya, menuju pondok tersebut, tapi di tengah jalan dia terpaksa membatalkan nya.
Viona hanya bisa tersenyum pahit melihat sikap Andi yang sangat kasihan.
Dia sendiri juga bila tidak ingat status nya, ingin rasanya dia maju memeluk Andi.
Kemudian merangkul lengan Andi dengan manja dan mesra sambil beriringan berjalan kearah pondok peristirahatan yang terlihat romantis itu.
Bagaimana pun dia juga harus menjaga perasaan suaminya, yang percaya penuh membiarkan dia bertemu dan berbicara berdua dengan Andi.
Sambil melangkah Andi berkata,
"Rio mana Vi.. ? kenapa kamu hanya terlihat sendirian saja..?"
"Ada tadi dia yang drops aku di sana, nanti saat aku nelpon dia baru kemari menjemput ku.."
ucap Viona sambil melangkah beriringan dengan Andi.
"Vi,.. mengapa kamu bisa sampai sekurus ini, apa kamu sakit ? atau kamu tidak bahagia ? bila.."
ucapan Andi terpotong ditengah jalan.
"Di,.. kamu jangan berpikir macam macam, di antara kita sudah tidak mungkin bisa kembali.."
"Kehidupan ku cukup baik, kami berdua cukup bahagia, aku begini mungkin karena faktor kehamilan ku, yang membuat ku selalu mual dan sulit menerima makan yang masuk..."
ucap Viona sambil menatap Andi dengan serius.
"Di,.. belajarlah menerima kenyataan, bukalah hati mu, untuk yang lainnya, lupakan saja aku.."
__ADS_1
"Jangan menaruh harapan kosong pada hal yang tidak mungkin, yang lalu biarkan lah berlalu di,.."
"Bila kamu terus seperti ini, aku akan selalu merasa bersalah melihat mu di,.. kamu paham kan maksudku.."
ucap Viona menasehati Andi dengan serius.
Andi mengangguk dan berkata,
"Maaf Vi,.. kelihatannya akulah yang berpikir terlalu jauh.."
"Aku sedang berusaha Vi, tapi kamu harus tahu itu tidak mudah bagi ku.."
"Mungkin bila ada sup dari Meng Po semua akan menjadi lebih mudah bagi ku..."
ucap Andi sambil tersenyum pahit dan menoleh kearah lain.
Agar Viona tidak melihat ekspresi wajah nya saat ini yang sangat rumit.
Viona menghela nafas panjang kemudian berkata,
"Maaf di,. ini semua salah ku,.aku yang membuat hubungan kita jadi seperti ini.."
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Vi kamu tidak perlu minta maaf, ini bukan salah mu atau salah siapa pun, bila jodoh sudah habis mau bilang apa ? semua kini hanya tinggal kenangan.."
"Vi,.. asalkan kamu tahu, seribu kata maaf dari mu, bagiku tidak sebanding dengan satu kata kamu mencintai ku.."
"Tapi sudah lah, semua berlalu, hari ini kamu jauh jauh datang kemari mencari ku.."
"Pasti ada hal penting, katakan lah selama aku masih bisa membantu mu, aku pasti akan melakukan nya untuk mu.."
ucap Andi mulai membuka pembicaraan.
Setelah mereka berdua sudah duduk di dalam pondok peristirahatan yang menghadap kearah pantai.
"Di,.. aku tahu permintaan ku kali ini sangat tidak pantas dan sangat tidak masuk akal.."
"Bila kamu nanti menolaknya, aku pun mengerti dan tidak akan menyalahkan keputusan mu.."
Andi mengangguk sambil tersenyum penuh pengertian, bersiap mendengar kan permintaan Viona.
"Di,..aku...."
Viona terlihat ragu.
Andi mengangguk dan berkata,
"Katakan saja Vi. tidak apa-apa.."
"Di,..maaf aku ..aku..ingin kamu menerima tantangan bertanding di One Pride dengan Rio, tapi kamu harus berpura-pura kalah darinya.."
__ADS_1
"Menyerahkan gelar mu padanya.."
ucap Viona dengan suara gemetar.