
Violin duduk bersandar di dada Andi, Andi melingkarkan kedua tangannya menggenggam tangan Violin dan meletakkan tangan mereka yang saling bergenggaman di atas pangkuan Violin.
Andi bisa menciumi wangi rambut istri kecilnya yang lembut dan selalu sangat di rindukannya selama ini dengan sepuasnya.
"Pemandangan senja, dengan laut tenang dan cahaya matahari hampir tenggelam, sungguh menakjubkan ya di.."
ucap Violin bergumam pelan.
Andi mengangguk kecil dan berkata,
"Pemandangannya selama tetap akan selalu berulang seperti itu."
"Indah atau tidaknya, sepenuhnya tergantung pada suasana hati kita.."
"Bila kita sedang senang gembira dan bahagia maka semuanya akan terlihat indah dan menakjubkan..'
"Bila kita sedang tidak bahagia, maka semuanya pasti akan menjadi hambar dan tidak indah lagi.."
ucap Andi serius.
Karena Andi sendiri sudah terlalu sering mengalami hal itu, jadi dia sudah sangat memahami nya.
Violin mengangguk pelan dan berkata,
"Ya kak kamu benar, saat kakak menghilang dulu, apapun juga aku akan selalu merasa tawar dan hambar, tidak ada yang spesial.."
"Apalagi saat kakak membatalkan pernikahan kita, dan pergi memilih kakak ku.."
"Dunia ini terasa begitu menyedihkan dan gelap, hanya ada kesepian yang tak berujung yang menanti ku setiap hari nya.."
Andi menghela nafas panjang dan menciumi kepala Violin dengan lembut dan berkata,
"Maafkan aku sayang, tapi aku berjanji akan menggunakan sisa hidupku ini, untuk menambal dan membayar semua rasa sedih dan kesepian mu itu.."
Kereta gantung perlahan-lahan kembali mulai bergerak kembali ke posnya.
Andi dan Violin pun harus cukup puas dan mengakhiri wisata jalan jalan mereka berdua hari ini.
Violin mengendarai mobilnya kembali ke rumah mereka.
Tiba di rumah dimana mobil Violin di parkir tepat di sebelah mobil Andi.
Mereka berdua pun masing masing pergi mandi menyegarkan diri.
Violin kebagian di kamar utama.
Sedangkan Andi kebagian yang di dapur.
Saat menaiki tangga violin sambil tersenyum nakal menggoda Andi.
"Mau sama sama kak mandinya ?"
__ADS_1
Andi buru-buru menggoyangkan tangannya dan berkata,
"Tadi pagi sudah dari hidung, kalau sekarang bisa dari panca indera.."
Mendengar ucapan Andi, Violin pun tertawa terbahak bahak dan berkata,
"Ya sudah kalau begitu lebih baik jangan, aku gak mau secepat itu ngejanda.."
Andi hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, menanggapi sikap Violin yang kadang kadang manja nakal dan menggemaskan.
Bila sedang berdekatan dengannya, semua gaya anggun penuh kharisma dan wibawa di rumah sakit, sudah hilang tidak tahu kemana lagi.
Sehabis mandi mereka berdua kembali duduk berdua sambil berpelukan mesra, nonton TV, melanjutkan serial yang di tonton oleh Violin hingga tertidur.
Sambil menemani Violin nonton Andi memesan pizza kesukaan Violin.
Sehingga mereka berdua bisa melanjutkan makan sambil terus nonton.
"Lin sudah jam 11 malam, kita tidur yuk, besok baru lanjut lagi.."
ucap Andi saat melihat jam di dinding sudah pukul 11 malam.
Violin juga sudah beberapa kali menguap, tapi masih penasaran dan belum rela berhenti nonton.
Violin menatap kearah Andi dan menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tanggung kak dikit lagi.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Lusa kita akan ada acara pemberkatan di pagi hari, sekaligus dilanjutkan dengan resepsi di malamnya.."
"Jadi kamu harus jaga kondisi mu, besok kita kan seharian bisa bersantai di rumah nonton dan istirahat.."
"Jadi saat lusa kita bisa fit jalani acara marathon, yang panjang dan melelahkan itu.."
ucap Andi sabar.
Violin akhirnya mematikan TV nya, dengan wajah kurang rela dan berkata,
"Baiklah kak, tapi kakak harus bantu pijitin Lin ya, biar Lin tidurnya lebih rileks.."
Andi mengangguk, lalu dia berjongkok di hadapan Violin dan berkata,
"Ayo naik sayang.."
Violin sambil tertawa gembira, segera melompat nempel di punggung Andi.
Membiarkan Andi menggendongnya, kembali ke kamar mereka di lantai dua.
Setelah membaringkan Violin di atas kasur, Andi pun menggunakan baby oil, mulai memijat tubuh Violin, yang sedang tengkurap diatas kasur.
__ADS_1
Andi memulainya dari ujung jari kaki, telapak kaki hingga betis dan paha Violin, hingga merambat ke pinggul pinggang dan punggung Violin.
Belum sampai ke bahu leher tengkuk dan lengan, Violin sudah tertidur pulas dengan dengkuran halus dan teratur.
Melihat hal ini Andi pun menghentikan aksinya, dia menggunakan handuk hangat membersihkan sisa minyak yang menempel ditubuh violin.
Setelah itu dia baru ikut berbaring dan tidur di samping Violin, hingga pagi tiba.
Keesokan harinya, mereka berdua benar benar menjalankan hari santai mereka, berolahraga ringan bersama.
Sarapan nonton TV makan, hingga malam mereka pun tidur lebih cepat.
Sesuai yang di jadwalkan pagi pagi jam 3 pagi team perias pengantin sudah tiba di kediaman Andi.
Mereka langsung membantu Violin melakukan segala persiapan.
Andi sendiri juga sempat dirias dan dirapikan rambutnya, di bantu mengenakan setelan pakaian pengantinnya.
Setelah semua siap Andi pun duduk manis menunggu pengantinnya.
Saat Violin keluar dari dalam kamar nya, sudah selesai di rias dan dalam balutan gaun pengantinnya yang indah.
Andi yang bisa langsung menyaksikan nya, langsung terbengong di buatnya.
Violin terlihat sangat berbeda dan jauh lebih cantik dari biasanya, yang pada dasarnya sudah cantik.
Melihat sikap dan respon Andi, Violin pun menahan tawa menutupi mulutnya.
Menghampiri Andi dan berkata,
"Ayo kita berangkat, jangan bengong aja, nanti jadi terlambat semua.."
Andi jadi tersadar dan buru buru mengangguk dengan cepat, lalu mereka bergandengan tangan keluar dari dalam rumah, langsung menuju mobil pengantin yang sudah di siapkan.
Seharusnya Violin menginap di rumah orang tua nya, dirias di sana, baru nanti dia bertemu dengan Andi di tempat pemberkatan.
Tapi Violin menolaknya, dia gak mau seperti itu, dia mau tetap satu rumah dan satu mobil dengan Andi, gak mau di pisah.
Dengan alasan sulit tidur bila gak bersama Andi, akhirnya Andi pun menyerah mengikuti saja, apa kemauan istri kecilnya itu.
Jangan sampai dia BT dan tidak bahagia di hari pentingnya itu.
Dengan demikian saat berangkat ketempat gedung pemberkatan, violin duduk satu mobil dengan Andi.
Sedangkan pengiringnya, Sarah dan Dragon duduk di mobil terpisah di belakang mobil Andi dan dan Violin.
Violin yang keras kepala, tidak ada yang bisa mengaturnya selain Andi.
Tapi Andi justru memilih menuruti semua kemauan Violin, agar dia senang.
Jadilah semuanya berjalan sesuai maunya Violin, berbeda dari tata cara pada umumnya.
__ADS_1
Saat mobil pengantin Andi berhenti di depan gedung pemberkatan, Andi dan Violin pun turun bersamaan dari mobil yang sama.
Baru saja Violin dan Andi turun dari mobil pengantin, mereka langsung di hadang oleh Ronaldo.