AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PELUKAN PERPISAHAN


__ADS_3

Andi tersenyum dan berkata,


"Kamu tenang saja, kedatangan ku bukan untuk membuat keributan.."


"Aku tidak akan pernah datang untuk merusak hari bahagia dia.."


"Aku khusus datang mengucapkan selamat untuk kalian berdua, meski tidak di undang.."


Andi mundur selangkah kemudian dia beralih pada Viona dan berkata,


"Vi.. seumur kita bersama, aku tidak pernah memberikan bunga pada mu, itu adalah salah ku.."


"Hari ini anggap saja bunga ini, adalah bunga yang pertama dan terakhir, sebagai ucapan selamat ku padamu, semoga hidup mu kedepannya berbahagia selama nya.."


ucap Andi sambil menyerahkan seikat bunga anggrek ungu ke hadapan Viona.


Rio ingin mengambil bunga itu, tapi tangannya di hentikan oleh Santi.


Rio menatap Santi dengan geram, tapi saat dia melihat tatapan tajam dari orang yang berdiri di belakang Santi nyalinya menjadi ciut.


Dia jadi terbayang saat mobil nya di cegat dan dihentikan oleh anggota pasukan James, yang sangar dingin dan kejam.


Bila bukan di lindungi oleh Viona, malam itu, dia pasti sudah tewas, dia tidak pernah melupakan malam kelam itu.


Di mana harga dirinya habis di injak-injak oleh James dan pasukannya.


Dia benar benar merasa dirinya sangat tidak berguna dan memalukan malam itu.


Dia bersumpah dalam hati suatu hari nanti, dia pasti akan membalasnya, tapi dia juga sadar saat ini belum waktunya.


James akhirnya mundur kembali ke posisinya, pura pura tidak melihat apa-apa.


Saat bertemu pandang dengan ayahnya, ayahnya juga mengangguk menyetujui, keputusan yang diambil oleh nya..


Viona akhirnya dengan kedua tangan gemetar dan airmata bercucuran menerima bunga ucapan dari Andi


"Vi ..selamat ya.."


ucap Andi sambil tersenyum sedih mengulurkan tangannya menyalami Viona.


Viona mengulurkan tangannya menyambut tangan Andi.


Setelah menggenggam lembut tangan Viona sejenak, Andi melepaskannya kembali.


Lalu berkata,


"Vi.. bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya ."


"Buat apa di,..? diantara kita sudah berakhir,.. lebih baik kembali lah ke kota J.."


ucap Viona berusaha mengeraskan hatinya, demi Andi demi dirinya dan demi menjaga perasaan suaminya.


Viona tidak bisa tidak mengeraskan hati nya, mengatakan hal yang sangat menyakiti perasaan itu.

__ADS_1


Tapi Andi tetap tidak mundur, dia masih berdiri di sana bagai orang bodoh, dia kembali berkata,


"Meski di hati mu sudah tidak ada aku, tidak apa-apa Vi.."


"Kamu boleh anggap ini pelukan terakhir, dari seorang teman lama."


"Biar aku saja yang mengenangnya sebagai pelukan terakhir dari gadis satu-satunya, yang sangat aku cintai di kehidupan ini.."


Mendengar ucapan Andi hati Viona yang berusaha di keraskan, akhirnya luluh.


Viona melirik kearah Rio sejenak, ingin melihat respon dari Rio, tapi melihat Rio pura-pura tidak melihat nya.


Viona akhirnya maju kehadapan Andi, membiarkan Andi memeluknya.


Tapi Viona tidak berani membalas memeluk Andi, meski hatinya sebenarnya sangat menginginkannya,


Tapi dia hanya bisa berdiri membeku di sana.


Di saat Andi memeluk Viona, di saat itu juga salju turun dari langit berterbangan seperti kapas putih.


Seolah olah langit turut merasakan kesedihan di hati Andi, mengirimkan salju untuk membasuh luka di hati Andi.


Andi sambil memeluk Viona, dia menatap keatas langit dan berbisik.


"Vi,..Kamu masih ingat,? kamu pernah bilang padaku, cuaca yang sedang dingin, adalah waktu paling tepat untuk kita bersama, "


"Karena api cinta kita bisa menghangatkan tubuh kita, yang sedang kedinginan..'


Ucapan Andi sontak membuat Viona menangis dalam diam, hanya airmata yang terus jatuh bercucuran.


"Vi,.. tahukah kamu ? Aku sebenarnya sangat ingin mencium mu, untuk yang terakhir kalinya, tapi aku sadar itu semua sudah tidak mungkin.."


Tubuh Viona bergetar hebat, setiap mendengar bisikan Andi, hatinya menjerit sedih, ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur Andi.


Tapi pada kenyataannya tidak ada sepatah katapun yang terucap keluar dari mulutnya.


Selain suara Isak tertahan.


"Biarlah jam tangan mu ini, menjadi saksi, bahwa sedetik pun aku tidak akan pernah bisa melupakan mu.."


bisik Andi pelan


"Kecuali aku lupa ingatan,.. bila tidak aku pasti akan terus mencintai dan tidak akan pernah melupakan mu."


ucap Andi


"Andi jangan bodoh, aku tidak layak untuk itu, lupakan lah aku, di.."


bisik Viona menahan Isak.


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Vi,.. aku tidak pernah bisa menolak apapun permintaan mu, kecuali yang satu ini.."

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak bisa, bukan tidak mau, kecuali aku juga lupa akan diri ku sendiri, itu mungkin bisa.."


Viona memejamkan matanya, dan bergumam kecil,


"Mengapa kamu harus menyiksa diri mu sendiri seperti ini."


"Di kehidupan ini aku terlalu banyak berhutang pada mu, mungkin di kehidupan berikutnya, bila kita berjodoh kembali, aku baru bisa melunasinya.."


ucap Viona pelan


"Saat ini aku hanya bisa berdoa semoga kamu menemukan gadis yang jauh lebih baik dari ku.."


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak Vi,.. Aku akan menghabiskan sisa hidup ku, untuk mengenang tentang kita."


"Sisa hidupku kedepannya separuh akan ku gunakan untuk mengenang penyesalan dan kerinduan ku padamu.."


"Sisanya adalah untuk mengenang rasa bersalah dan rasa berhutang akan janji memberikan kebahagiaan untuk mu."


"Hingga hari itu tiba, aku hanya bisa berharap di kehidupan berikutnya tali ikatan jodoh kita akan tersambung lagi.."


Mendengar ucapan Andi, Viona sudah tidak dapat menahan diri lagi, dia langsung membalas memeluk Andi dengan erat , dan berkata,


"Di..kamu jangan seperti ini, kamu tidak bersalah.."


"Dalam hal ini akulah yang terlalu bersalah pada mu, maafkan aku di..maaf..."


ucap Viona sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan Andi.


Dia sudah tidak kuasa menahan diri lagi.


Andi tersenyum pahit dia berkata,


"Dalam hal ini, aku tidak pernah sekalipun menyalahkan mu, akulah yang tidak bisa melindungi mu dengan baik, sehingga kamu harus mengambil keputusan hari ini.."


"Baiklah Vi,.. selamat tinggal, semoga bahagia.."


ucap Andi kemudian dia melepaskan pelukannya dan mendorong Viona mundur kembali kesamping Rio, lalu dia membalikkan badannya berjalan meninggalkan Viona tanpa menoleh lagi.


Sejak awal kedatangan Andi, mama Viona sudah tidak berhenti bercucuran air mata dalam dekapan suaminya.


Melihat sikap dan kebesaran hati yang Andi tunjukkan, dia sangat terharu, hingga airmata nya sulit di hentikan.


Begitu melihat Andi pergi, dia pun memberi kode agar ikut pergi pada suaminya.


Papa Viona mengangguk.


Kemudian tanpa menoleh mereka berdua berjalan pergi meninggalkan Viona mengikuti arah langkah Andi pergi.


Violin sendiri yang sedari tadi diam diam juga ikut bercucuran air mata, setelah menghapus airmatanya.


Dia berjalan maju memeluk dan menciumi kedua pipi kakaknya yang berdiri mematung , seperti orang kehilangan Sukma.

__ADS_1


__ADS_2