
"Maaf pak, saya juga ingin membantu mu, tapi budgetku ya cuma bisa 10,000 Euro buat beli rumah bapak, sisa 5000 untuk renovasi, itu sudah gak bisa di ganggu gugat lagi.."
Pak tua itu terlihat ragu dan tidak rela, dia memegang sertifikat di tangannya erat-erat.
"Pak saya mau sarapan di seberang sana, kantor notaris ada tidak jauh dari sini.."
"Bila bapak setuju, boleh menyusul ku ke seberang sana, maaf aku permisi dulu.."
ucap Andi lalu dia pun nyeberang menuju sebuah cafe kecil, yang terletak tepat di seberang penginapannya menginap.
Andi tanpa menghiraukan pak tua itu dia memesan sarapan telur goreng dan segelas kopi susu.
Andi sebenarnya lebih suka minum teh ketimbang kopi, tapi di wilayah asing seperti ini, ya hanya itulah yang ada.
Sambil menunggu pesanannya, Andi memperhatikan sekitarnya yang masih sepi.
Andi pun lalu mengeluarkan sebuah patung ukir baru yang bentuknya lebih kecil sehingga lebih mudah di bawa bawa.
Patung ini sengaja, Andi buat sendiri, untuk mengenang violin.
Patung ini dia buat, berdasarkan imajinasinya tentang Violin, yang kini tentu telah menjadi seorang dokter profesional.
Patung di tangan Andi terlihat Violin sedang tersenyum, kedua tangannya di masukkan kedalam saku jas seragam dokternya.
Sebuah stetoskop di kalungkan di lehernya, ukiran ini sangat halus dan cantik.
Andi menatap patung tersebut sambil tersenyum sedih dan berkata,
"Semoga kamu hidup dengan bahagia, jauh dari kesedihan..."
"Waktu ku sudah tidak banyak lagi, tapi aku berharap kamu setiap saat bisa tersenyum ceria,.seperti patung ini.."
Melihat pesanan sarapan nya sudah datang, Andi pun menyimpan patung di tangannya kedalam saku jasnya.
Sambil tersenyum di paksakan Andi menikmati telur goreng di hadapannya.
"Pak Andi,.. baik lah aku setuju dengan harga mu.."
"Tapi setidaknya, kamu tidak akan sampai pelit untuk mentraktir ku sarapan kan ?"
ucap Pak tua itu yang tiba tiba muncul dari belakang dan menepuk bahu Andi sambil berbicara.
"Eh,..bapak silahkan duduk."
"Bapak mau pesan makan atau minum apa ?"
tanya Andi sambil tersenyum ramah.
Bapak itu nyengir licik, dia tidak menjawab pertanyaan Andi.
"Dia langsung melambaikan tangannya kearah pelayan di cafe itu."
Pelayan cafe itu langsung menghampirinya dan bertanya dengan sopan.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu pak ?"
Pak tua itu tersenyum menunjukkan giginya yang ompong di bagian depan nya, lalu berkata,
"Aku pesan sandwich spesial 2 makan disini, burger 3 di bungkus, kopi susu satu makan disini, 2 tolong bungkus, tagihannya masukkan ke dia.."
Pelayan itu mengangkat kepalanya menatap kearah Andi.
Andi sambil tersenyum menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Tidak apa-apa, tapi yang di bungkus tolong di pisahkan nota nya, bisa kan ?"
Pelayan itu mengangguk cepat dan berkata,
"Tentu bisa, ada yang lainnya..?"
Andi sambil tersenyum berkata,
"Untuk sementara itu saja dulu.. terimakasih.."
"Baik pak, saya ulangi pesanannya Sandwich special 2, kopi susu satu makan disini, burger 3, kopi susu 2 di bungkus, nota bungkus di pisah..cukup pak.."
tanya pelayan itu sambil menatap kearah Andi.
Andi mengangguk sambil tersenyum, dan berkata,
"Terimakasih.."
Saat dia lewat di depan pak tua, dengan senyum seperti monyet, pak tua itu mengulurkan tangannya ingin memegang bokong si pelayan yang Sexy.
Andi sedikit mengerutkan alisnya melihat hal tersebut.
Tapi kejadian di luar dugaan terjadi,. si pelayan itu mendadak menusukkan pulpennya kearah belakang, sebelum tangan bapak itu mencapai sasaran..
"Aduh,..!!"
pak tua itu mengeluarkan jerit tertahan.
Dia buru-buru menarik kembali tangannya yang lecet dan sedikit berdarah.
Pelayan itu menoleh kearah ak tua itu dan berkata,
"Boby jaga sikap mu, atau aku akan panggil Sherif menahan mu..!!"
Pak tua itu hanya bisa bersungut-sungut, menoleh kearah lain dengan cuek dan pura pura tidak dengar.
Andi menahan senyum melihat sikap pak tua itu, dari gelagat dan reaksi pelayan itu.
Andi menebak pak tua itu, pasti pernah melecehkan nya, sebelum ini.
Dan kini kembali ingin mengulanginya lagi,.tapi pelayan itu sudah bersiap mengantisipasinya.
Selain itu, pelayan juga tahu nama pak tua itu.
__ADS_1
Berarti pak tua itu memang saling kenal dengan pelayan tersebut.
Andi pura-pura tidak tahu, dia melanjutkan mengaduk aduk isi gelas di hadapan nya dengan gerakkan santai.
Setelah pelayan itu pergi, Pak tua itu menatap kearah Andi dengan senyumannya yang menyebalkan, dia berkata pelan,
"Pak Andi bagaimana menurut mu, pelayan itu Sexy tidak ?"
"Kalau pak Andi tertarik, saya bisa Carikan beberapa untuk pak Andi pilih.."
"Aku berani jamin, pasti akan jauh lebih cantik dan Sexy ketimbang pelayan tadi, gimana ? pak Andi tertarik.?"
Andi hanya terus mengaduk gelas di hadapannya dengan kepala tertunduk.
"Bagaimana pak Andi,? pak Andi mau sekarang atau nanti malam ?"
ucap pak tua itu sambil tersenyum lebar, memamerkan giginya yang bolong bolong.
Andi menghentikan adukannya, meminum kopinya sampai habis, lalu berkata.
"Maaf pak Boby, saya kurang tertarik dengan hal seperti itu.."
"Aku rasa kantor notaris sudah buka sekarang, selesai dari sini kita bisa langsung urus semuanya sampai tuntas."
Mendengar ucapan Andi, pak tua yang pandai baca situasi itupun tidak berkata apa-apa lagi, selain menikmati Sandwich dan kopi yang sudah datang.
Andi mengeluarkan hpnya duduk bersandaran di kursi bermain games.
Akhir akhir ini Andi yang banyak waktu santai, sering mengisi waktu nya dengan bermain game.
Untungnya pak tua itu makannya cukup cepat, tidak tahu karena lapar, atau udah gak sabar pengen dapat uang, atau karena tidak enak hati dengan Andi yang menunggunya sarapan.
Tapi sepertinya pilihan ke 3 kemungkinannya sangat kecil, untuk orang yang bermuka tebal dan licik seperti pak tua di depan Andi ini.
Andi tidak terlalu memperhatikannya, karena dia sedang tersenyum sendiri membaca chat teman main gamenya, yang kecewa Hero nya tewas akibat dia lelet memberikan bantuan..
"Ayo pak Andi saya sudah selesai."
ucap pak tua itu sambil tersenyum lebar.
Andi pun keluar dari gamenya, dia tidak membalas chat temannya.
mematikan HP nya lalu menatap pak tua itu yang terlihat sudah bersiap siap menunggunya.
"Bapak tunggu di depan sebentar, habis bayar aku akan menyusul kedepan."
ucap Andi sambil melangkah kearah kasir.
Pak tua itu sambil tersenyum senang dia mengambil tisue dan tusuk gigi yang cukup banyak untuk di masukkan ke sakunya.
Pelayan yang menusuk tangannya tadi, sempat melihat hal itu, tapi dia memilih menggelengkan kepalanya tanpa berkata apa-apa.
Sambil menghela nafas, dia melanjutkan membersihkan meja, dihadapan nya.
__ADS_1