AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
TUKANG OJEK


__ADS_3

Andi setelah berpikir bolak balik, akhirnya dia memilih pilihan ketiga, meski bergaji kecil, kerjanya berat, posisinya juga di mulai dari pegawai tingkat paling rendah.


Tapi Andi melihat di sanalah adanya prospek untuk membantu Viona melunasi hutang ayah nya.


Tanpa ragu-ragu malam itu juga, Andi memutuskan akan mendatangi sasana, kemudian menemui TAH langsung.


Andi sambil melangkah keluar dari kostnya.


Dia sambil berjalan berpikir, seandainya,


bila dia tidak sedang membutuhkan uang banyak.


Dia mungkin akan ambil pilihan kedua, yang selain bergaji besar juga punya prospek bagus.


Bila dia bekerja dengan bagus, mungkin dia bisa di angkat jadi kepala gudang, dan bila sudah tamat kuliah.


Mungkin setelah bekerja lama.


Bisa jadi dia di angkat jadi kepala pabrik, dengan posisi seperti itu, bukan hal sulit bagi dia untuk membentuk sebuah keluarga kecil yang bahagia bersama Viona, gadis pujaan hatinya.


Tapi semua itu cuma seandainya, saat ini dia tidak punya pilihan lain.


Andi menyadari benar saat ini seperti kata pepatah No Risk No Gain, bila tidak menempuh resiko besar, bagaimana dia bisa dapat hasil besar.


Karena belum tahu jalan ke sasana milik TAH, Andi terpaksa kembali menggunakan jasa tukang ojek.


Andi berjalan menghampiri, sekumpulan orang yang sedang nongkrong, duduk berkumpul sambil main gaplek.


Melihat motor yang berderet deret parkir di sana, Andi menebak itu pasti pangkalan ojek.


Apalagi kebanyakan dari mereka menggunakan seragam tukang ojek, hal ini membuat Andi semakin yakin.


"Maaf pak mengganggu, saya ingin menggunakan jasa ojek mengantar saya ke Sasana TAH, apa ada yang bersedia.."


tanya Andi sopan.


"Sasana itu jauh anak muda, lagian buat apa kamu pergi ke sasana..?"


ucap seorang pria brewokan berusia 40 an yang sedang memegang kartu gaplek di tangannya.


Andi tersenyum pahit, dasar orang-orang ini pikir Andi dalam hati.


Di rumah anak istri sedang menunggu mereka cari nafkah, mereka malah sibuk main gaplek di sini.


Ada yang butuh jasa mereka, bukan nya cepat di layani, malah mengeluh dan nanya nanya yang tidak perlu.


Nanti kalau istri kabur dengan orang, baru nyalahin istri gak setia, padahal selama istri dengan setia mengikutinya dalam suka dan duka.


Mereka bersikap sesuka hati dan tidak introspeksi diri.


Tapi itu semua hanya pikiran Andi di dalam hati saja.


Di luar Andi tetap jawab dengan sopan,


"Aku kesana mau cari pekerjaan..pak.."

__ADS_1


Bapak itu mengangkat kepalanya menatap Andi dan berkata,


"50.000 tidak kurang, kalau mau.."


"Kalau gak jangan banyak bacot di sini.."


"Ganggu saja.."


Andi tadi sebelum mau berangkat, dia sudah lihat di peta lewat HP nya.


Meski tidak tahu jalan, tapi Andi tahu tempat itu meski tidak dekat, tapi juga tidak sampai menghabiskan biaya 50.000.


Tadi siang dari terminal KP yang lebih jauh saja dia cuma kena 15 ribu plus bonus darinya dia cuma bayar 25 ribu.


Ini sekarang si brewok sekali buka mulut mau nya langsung 50 ribu, ini mah pemerasan pikir Andi.


Andi meski sopan ramah jujur sabar dan baik, tapi dia juga gak bodoh.


Tanpa banyak bicara, Andi berjalan meninggalkan tempat itu, karena Andi tahu dengan orang seperti itu.


Bila berbicara terlalu banyak, malah akan mengundang keributan tidak perlu.


Baru Andi melangkah tidak sampai dua meter, terdengar suara dari si brewok berkata,


"Dasar anjing sialan ganggu aja,, jadi kalahkan... brengsek...!"


Teman-temannya hanya menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak.


Andi menghela nafas panjang, dan meneruskan langkahnya,, dia berusaha menahan sabar, agar tidak ribut dengan orang gak berpendidikan dan kasar seperti itu.


Ada sebuah motor dan seorang tukang ojek yang duduk di atas motornya.


Andi mengenalinya sebagai tukang ojek, karena orang itu mengenakan seragam tukang ojek.


Andi dengan semangat menghampiri orang yang sedang nongkrong di bawah pohon itu.


Setelah jarak mereka agak dekat, Andi melihat tukang ojek tersebut penampilannya sedikit berbeda dengan tukang ojek pada umumnya.


Tukang ojek yang ini penampilannya sangat rapi, motornya juga sangat bersih.


Tukang ojek tersebut hanya seragam luarnya yang terlihat sedikit lusuh, tapi jaket tebal yang di kenakan nya terlihat bersih dan rapi.


Dia mengenakan celana jean ketat dan sepatu kets, bila di lihat dari ukuran pahanya.


Tukang ojek ini termasuk bertubuh kurus kecil,


Wajahnya tidak terlihat jelas, karena tertutup masker dan helm, lagipula di bawah pohon itu sedikit gelap.


Dia juga mengenakan sarung tangan menutupi tangannya.


Meski agak curiga, tapi Andi tidak takut.


Andi percaya dengan kemampuannya dalam membela diri, bila orang ini mempunyai niat tidak baik padanya.


Setelah berdiri di dekatnya, Andi bertanya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu, saya ingin menggunakan jasa ojek pergi ke sasana TAH."


"Apakah bapak bersedia membantu mengantar saya kesana ?"


Tukang ojek itu menoleh melihat Andi sekilas, kemudian memberi kode agar Andi untuk naik di boncengan nya.


"Maaf tarifnya berapa ya ? kalau boleh tahu..?"


tanya Andi yang tidak mau terjebak.


Sebelum tahu dengan jelas berapa ongkosnya, Andi tidak mau sembarangan naik.


Tukang ojek itu memberi kode dengan jari angka satu.


"Sepuluh ribu,.."


tebak Andi melihat kode tangan dari tukang ojek tersebut.


Tukang ojek itu mengangguk cepat.


Kelihatannya dia tidak bisa bicara, pikir Andi tapi gakpapa, pikir Andi dalam hati.


Yang penting harga udah cocok dan dia tahu tempatnya itu yang penting.


Hal lain bisa di pikirkan belakangan, kalau sulit komunikasi, tar pakai chat HP juga bisa, pikir Andi yang mulai siap naik ke boncengan tukang ojek itu.


Tapi baru saja dia hendak naik terdengar teriakan dari arah belakang.


"Tunggu...!!!"


"Berhenti kalian..!!"


teriak si brewok sambil berlari menghampiri mereka.


Kawan-kawannya tulang ojek lain mengikuti nya dari arah belakang.


Andi tidak jadi naik, dia berdiri diam di sana, dia jadi ingin tahu apa yang di inginkan oleh si brewok yang kasar ini.


Dengan langkah lebar si brewok menghampiri si tukang ojek bisu dengan sikap marah.


"Hei kamu,..! Anggota baru tidak tahu adat.!"


"Aku sudah mengusir mu dari sini.. kenapa kamu masih nekad berada di sekitar sini berebut langganan dengan kita..!?"


"Kamu mau cari mampus ya..?!"


ucap si brewok marah marah sambil menunjuk nunjuk wajah si tukang ojek bisu.


Si tukang ojek bisu tidak berani menjawab, tubuhnya yang kecil terlihat gemetaran.


Dia terlihat ketakutan menghadapi si brewok yang kasar.


Melihat hal ini, Andi pun maju melerai nya dan berkata,


"Maaf pak, bila ada masalah sebaiknya kita bicarakan dengan baik-baik, tidak perlu seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2