
"Kak Underground tidak semudah itu mencari uang, semua lawan kak Andi bukan orang biasa, semuanya adalah mantan jagoan dari seluruh penjuru dunia.."
"Mereka tidak datang kesana hanya sekedar untuk mencari kerjaan santai dan bermalas malasan."
"Kak Andi bisa berhasil keluar dengan selamat, dan memiliki pencapaian seperti hari ini, itu bukanlah hal mudah.. dan sudah termasuk sangat luar biasa."
"Bila itu pria lain, percayalah tidak akan ada yang sudi berkorban sebanyak itu demi keluarga kita, demi kakak.."
"Mereka jauh jauh hari pasti sudah pergi ninggalin kakak dengan setumpuk masalah itu..'
"Sayang nya sebagai gantinya adalah seperti saat ini, bila memikirkan hal ini.."
"Violin selalu merasa sedih,.. dan merasa takdir ini,.. sungguh kejam dan,.. sangat tidak adil buat,.. seorang berhati mulia,... seperti kak Andi."
ucap Violin dengan suara terputus putus menahan sedu sedan dan rasa harunya.
"Asal kakak tahu, rumah yang kita tinggali di kota J hingga saat ini,... adalah pinjaman cuma cuma dari kak Andi buat tempat tinggal kita.."
"Apa kakak tahu,.. tentu tidak kan..?"
"Karena apa,.. karena kak Andi tidak pernah mau kakak bersedih maupun khawatir dan merasa minder tidak enak hati dan lain sebagainya."
"Ada hal baik dia lakukan diam diam, ada hal buruk, sedih, ataupun terluka, semua dia simpan di sini nya kak.."
ucap Violin sambil menunjuk hatinya sendiri dengan wajah sedih.
"Aku dan Mama juga tidak berharap kak Andi mengambil pekerjaan itu, tapi kondisi kami saat itu memang hanya itu satu satunya jalan pintasnya, untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.."
"Makanya mama benar benar sangat kecewa dan sedih, saat kakak dengan tidak tahu balas Budi memilih meninggalkan kak Andi untuk menikah dengan Rio.."
"Apalagi saat mama tahu ternyata ayah Rio adalah Ferdinand Chu, si penghianat yang menjadi penyebab hancurnya bisnis keluarga Lin.."
"Tentu saja mama sangat marah dan jengkel dengan keputusan kakak, bila bukan karena kak Andi, pernikahan kakak pasti tidak akan ada yang hadir.."
"Kak Andi lah yang memohon ke mama dan papa untuk hadir ke acara pemberkatan, setelah itu kembali membujuk mama datang ke resepsi.."
ucap Violin menceritakan hingga matanya berkaca-kaca.
"Bahkan kakak boleh tanya pada sahabat kakak yang menjadi pendamping kakak itu.."
"Siapa yang memintanya untuk menerima tawaran kakak, menjadi pendamping kakak..?"
"Tujuannya apa ? kak Andi repot repot lakukan itu semua, itu karena apa ? itu karena dia tidak pernah bisa melupakan kakak dan selalu ingat dengan janjinya pada kakak.."
Viona duduk lemas dengan airmata bercucuran, selain menangis dia tidak bisa berkata apapun lagi.
"Sudahlah kak,.. tidak usah kita bahas lagi, makin bahas kakak makin sedih.."
__ADS_1
"Itu akan membuat ku, semakin bersalah pada kak Andi, yang selalu berpesan ingin lihat kakak bahagia.."
"Bukannya bersedih dan menyalahkan diri sendiri.. seperti saat ini."
"Kakak sebaiknya pulang lah, status kakak kini adalah istri orang, tidak sepantasnya ada di sini.."
"Agar tidak timbul fitnah dan salah paham..lebih baik kakak pulang lah."
ucap Violin sambil menepuk pundak kakaknya dengan lembut,
Sebelum dia berjalan meninggalkan kakaknya, Violin mengambil jam dan potongan patung dari pangkuan Viona.
"Kak dua benda ini, sebaiknya biarkan aku yang menjaganya untuk kak Andi.."
"Takutnya setelah sadar nanti, kak Andi akan mencarinya, karena dua benda ini adalah dua benda kesayangan kak Andi.."
ucap Violin sambil menunggu persetujuan kakak nya.
Viona mengangguk sedih tanpa berkata apa-apa.
Violin setelah menyimpannya kedalam tas, lalu dia berjalan menghampiri Berry, yang berdiri menunggu di.depan pintu masuk ruang ICU.
"Gimana Berr sudah ada informasi belum dari dalam..?"
tanya Violin saat tiba di hadapan Berry.
Beery menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sampai saat ini dokter masih terus berusaha menanganinya.."
Violin kemudian ikut berdiri bersandaran di tembok menunggu bersama Berry.
Sementara itu Viona dengan wajah lesu dan sedih, sambil menundukkan kepalanya dan mengelus perutnya dengan pelan, dia berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Ucapan Violin sangat tepat, meski menyakitkan, tapi kini itulah kenyataan yang tidak bisa di pungkiri.
batin Viona sambil berjalan dengan airmata membasahi wajahnya.
Beberapa saat setelah kepergian Viona, team dokter yang menangani Andi pun keluar dari dalam ruangan ICU.
Salah satu dokter berjalan menghampiri Violin dan Berry, kemudian berkata,
"Maaf kalian berdua keluarga pasien yang bernama Andi ya..?"
Violin dan Berry buru buru mengangguk membenarkan..
"Kalian berdua ikutlah denganku keruangan ku, ada beberapa hal yang perlu ku bicarakan dengan kalian.."
__ADS_1
Lalu dokter itu berinisiatif berjalan di depan, sedangkan Violin dan Berry, hanya bisa berjalan mengikuti dokter tersebut dari belakang.
Dokter itu membawa Berry dan Violin, masuk kedalam ruangan prakteknya.
Setelah melepaskan jas dan maskernya, dokter itu kemudian berkata,
"Silahkan duduk.."
Setelah violin dan Berry duduk di hadapannya, dokter itu baru berkata,
"Sebelumnya aku mau mohon maaf pada kalian berdua, pasien Andi kondisinya sangat parah.."
"Kami dari team medis semua nya sudah berusaha, nyawa pasien sih sudah tertolong, operasi juga berjalan cukup lancar.."
"Tapi untuk sementara waktu,.pasien masih koma, bisa tidaknya pasien sadar kembali, kami tidak berani janji."
"Semua tergantung dari perubahan diri pasien sendiri, seberapa besar keinginan pasien untuk bertahan hidup."
"Ini mempunyai pengaruh cukup besar terhadap kemungkinan pasien, untuk sadar kembali dari komanya.."
"Setelah pasien sadar dari koma, kami baru bisa menentukan arah perawatan lebih lanjutnya.."
"Sampai saat ini ada satu bagian penting yang mengatur syaraf memori pasien, di sana ada gumpalan darah beku, yang menyumbat. "
"Kami tidak berani mengambil tindakan, karena tempat itu sangat rawan.."
"Salah sedikit saja, pasien bisa kehilangan nyawa nya sebelum operasi selesai..."
"Tapi bila tidak di tangani dalam jangka waktu dekat, pasien pasti akan kehilangan memorinya, dalam jangka panjang, bisa membahayakan nyawa pasien.."
"Nanti bila pasien sudah sadar kembali dari komanya, kalian pertimbangkan lagi lah baik baik, sebelum mengambil keputusan.."
ucap dokter itu menutup penjelasannya.
Violin dan Berry saling pandang sejenak, kemudian violin bertanya,
"Dokter bila tidak di ambil tindakan apa apa, maksud ku biarkan saja gumpalan itu disana.."
"Kira kira pasien bisa bertahan hidup berapa lama..?"
Dokter itu termenung beberapa lama kemudian berkata,
"Sulit di pastikan, tapi perkiraan ku paling lama 5 tahun, mungkin kurang dari itu.."
Baik Violin maupun Berry sama sama terduduk lemas di tempat, setelah mendapatkan kabar dari dokter tersebut.
"Dokter mengenai biayanya.. gimana dok..?"
__ADS_1
tanya Berry hati hati..
Ini termasuk hal penting, yang harus mereka perhatikan dengan serius.