
Ronaldo bersungut-sungut dan berkata,
"Aku hanya merasa tidak pantas untuk mu, aku tidak masalah kamu menampari ku, ini juga bukan yang pertama.."
"Tapi aku tidak puas dan tidak terima bila dia menyakiti dan mempermalukan mu hingga seperti ini.."
"Dia pikir dia siapa ? berapa banyak pria baik-baik mendekati mu, semua kamu tolak.."
"Bila di total termasuk aku mungkin nyampe 100, mulai dari dokter, CEO, pengusaha hingga dosen pilot tentara polisi bahkan menteri dan putra presiden pun ada.'
"'Tapi kamu malah memilih manusia tidak tahu diri yang punya sedikit nama itu."
"Aku aihh sudahlah,.!"
ucap Ronaldo kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Violin hanya tersenyum menanggapi sikap Ronaldo dan berkata,
"Ya,..ya,.. maafkan aku,.. ayo kita pulang ke kota J sekarang,.."
Ronaldo menghela nafas dan mengangguk, tidak membantah lagi.
Dia kini sudah lebih tenang perasaannya, mereka berdua setelah keluar dari lift langsung berlalu dari tempat itu.
Saat duduk dalam mobil Ronaldo, Violin baru mengirim pesan ke orang tua nya.
"Ma Pa aku pulang duluan bersama DoDo, tar biar papa nyetir, mobil ku saja kembali ke kota J."
Setelah mengirim pesan singkat, Violin menyimpan HP nya, kemudian menoleh kearah jalan dengan tatapan mata kosong dan pikiran melayang kemana-mana.
Ronaldo hanya melirik sekilas menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang, tanpa berkata apapun, dia terus fokus menyetir mobilnya.
Andi yang duduk di atas lantai dengan pakaian dan celana kotor, wajah babak belur.
Perlahan lahan dia bangun, dan berjalan meninggalkan tempat tersebut sambil tersenyum sedih.
"Biarlah perasaan ku, cukup aku sendiri yang tahu.."
gumam Andi pelan sambil terus melangkah menuruni tangga.
Saat berpapasan dengan beberapa perawat, mereka langsung berkata,
"Pak Andi tidak apa-apa ?"
"Kami bantu rawat ya pak?"
Andi mengangkat tangannya menggelengkan kepalanya dan terus berjalan melewati mereka, tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
Saat masuk kedalam kamar Viona, Viona sangat kaget, melihat keadaan Andi.
Secara reflek dia langsung ingin turun dari ranjang nya menghampiri Andi.
Tapi dia di tahan oleh mamanya yang berkata,
"Kamu tenang saja, itu belum seberapa di banding saat dia bertarung nyawa, agar kamu bisa terlepas dari kontrak dengan bajingan itu.."
"Sayangnya,..kamu malah,.. Haiss,.."
ucap Mama Viona, menatap anaknya dengan sedih.
Viona tidak menanggapi ucapan mama nya, dia hanya terus menatap kearah Andi dengan cemas.
Andi tersenyum dan berkata,
"Mama benar Vi,.. gak perlu khawatir aku tidak apa-apa.."
"Aku akan membantumu bersiap siap, sebentar ya..'
ucap Andi sambil melangkah kearah lemari, membantu membereskan semua barang Viona yang hampir tidak ada apa-apa di sana, selain patung dirinya.
Justru di lemari Andi menemukan tas dirinya di sana, di dalam ada patung Viona jam tangan Viona dan kotak merah berisi cincin berlian biru yang pernah dia siapkan buat melamar Viona.
Andi tersenyum pahit melihat semua itu, dia sadar semua itu pasti Violin yang sengaja siapkan untuk nya.
Karena Violin terlalu paham dirinya, jadi dia sudah tahu, apa yang akan di putuskan oleh nya, sebelum dia berbicara.
Baru dia menenteng dua tas berjalan mendekati Viona dan berkata,
"Ayo sekarang kita pergi ke RS untuk check up kondisi mu.."
"Setelah itu kita bisa kembali kerumah milik kita berdua.."
ucap Andi sambil tersenyum.
Viona mengangguk kecil, dia masih terus menatap kearah wajah Andi dengan prihatin.
Andi tidak memperdulikan tatapan mata Viona, setelah menggantung kedua tas nya di pegangan kursi roda.
Andi dengan lembut dan hati hati, memindahkan Viona ke kursi roda.
Setelah itu mereka berempat pun bergerak meninggalkan panti itu, diantar oleh suster perawat dan hampir sebagian besar karyawan di panti tersebut hingga ke lapangan parkir.
Setelah memindahkan Viona kedalam mobilnya, Andi bersalaman dengan semua orang yang hadir di sana dan mengucapkan terimakasih kepada mereka semuanya.
Baru dia masuk kedalam mobil dan mengendarai nya, meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Andi setelah melakukan pendaftaran dan konsultasi dengan bagian informasi di RS terbesar se-kota B.
Andi pun mendorong Viona diikuti oleh kedua orang tua nya, menuju ruang tunggu pasien.
Di ruang tunggu itu terlihat banyak juga pasien lain, yang kondisinya rata rata tidak jauh lebih baik daripada Viona.
Bahkan ada beberapa diantaranya masih anak anak.
Saat nama Viona di panggil, Andi di ikuti kedua orang tua Viona langsung mendorong kursi roda Viona, masuk kedalam ruang praktek Dokter spesialis yang memang ahli di bidang penyakit berat ini.
Setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, dan melihat hasil lab, dokter pun berkata, kepada Andi dan kedua orang tua Viona
"Maaf kondisi pasien sudah sangat parah, sesuai prediksi medis, pasien tidak akan bertahan lebih dari 3 bulan.."
"Meski mengikuti jadwal khemo secara teratur sekalipun tidak akan membantu banyak.."
"Karena sudah menyebar kemana-mana sel kankernya, di lakukan operasi pengangkatan rahim sekalipun tidak akan membantu.."
ucap dokter itu memberikan penjelasan dengan hati hati dan serius..
Mama Viona hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya.
Sedangkan Andi bisa bersikap jauh lebih tenang, karena dari awal dia memang sudah tahu sebagian hal itu dari perawat Lia yang menangani Viona di panti.
Kedatangan Andi membawa Viona kemari hanya ingin mendapatkan kepastian, serta solusi yang mungkin saja ada.
Bila tidak sekalipun setidaknya, Viona akan dapatkan obat anti nyeri dan obat untuk memperlambat penyebaran sel kankernya.
Setelah berkonsultasi dan mendapatkan obat, Andi pun membawa Viona meninggalkan rumah sakit.
Keluar dari rumah sakit Andi mengajak Viona dan kedua orang tuanya mencari dan melihat lihat apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Andi membiarkan Viona dan mamanya yang memilih kamar apartemen yang cocok dengan selera mereka berdua.
Viona terlihat sangat bersemangat dan antusias, hingga dia menolak menggunakan kursi roda.
Dia turun berjalan kaki di bimbing Mama nya, melihat kesana kemari.
Akhirnya dari 5 kamar apartemen yang mereka kunjungi, Viona berhasil menemukan sebuah apartemen yang tidak terlalu besar, tapi cocok dengan seleranya.
Bila di bandingkan apartemen Andi dan Violin di kota J, jelas apartemen mereka lebih besar dan mewah.
Apartemen yang ini jauh lebih kecil, tapi design interior nya cukup unik.
Setelah melakukan negosiasi hingga ketemu harga kesepakatan, di mana Andi menyewanya sebulan sebulan.
Viona akhirnya bisa beristirahat dengan tenang di temani oleh Andi hingga dia tidur.
__ADS_1
Setelah Viona tidur, Andi dan kedua orang tua Viona, baru terlibat obrolan serius di balkon apartemen.
Andi memilih mengambil posisi berdiri bersandar di pagar pembatas, menghadap ke papa mama Viona yang duduk di hadapannya.