
Andi melihat violin begitu senang dan bahagia saat memilih milih deretan baju pengantin yang berjejer di sana.
Hatinya turut merasa senang dan bahagia.
Sambil duduk menunggu Andi jadi termenung dan teringat awal pertemuan mereka.
Dimana gadis yang kini akan menjadi pengantinnya begitu tidak menyukainya.
Tapi kemudian malah begitu mencintainya, dan bersedia menunggu dirinya sekian lama.
Bahkan bila bukan karena gadis ini, mungkin saat ini dia sudah terbaring lemah dirumah sakit menunggu ajal.
Semua ini bila dipikir sungguh sulit di percaya dan tidak masuk akal.
Tapi inilah kenyataannya.
Andi akhirnya menghela nafas dan tersenyum sendiri.
"Kak bagaimana cocok tidak..?"
tanya Violin berdiri di hadapan Andi menunggu pendapatnya.
Pertanyaan Violin menyadarkan Andi dari lamunannya.
Andi menatap kearah Violin dari bawah hingga keatas, meski cuma pakaian pengantin saja tanpa riasan.
Andi tidak bisa berhenti mengagumi kecantikan pasangannya.
Andi terpesona seperti orang bodoh yang kehilangan Sukma.
Melihat Andi yang hanya melongo menatap kearahnya, Violin pun berusaha menahan tawa dengan menutupi mulutnya dengan tangan.
"Kak Andi,. kak kok malah melongo ?"
ucap Violin sambil menahan tawa.
Andi kembali tersadar dengan canggung dia segera berkata,
"Eh ohh ya,..cantik,.. cantik,.. sungguh cantik.."
Saking gugupnya Andi tidak menyadari ucapan nya tidak nyambung.
Sambil tertawa Violin berkata,
"Kak yang Lin tanya gaun pengantin ini cocok tidak ?"
"Kok malah jawabnya cantik..?"
"Ehh oh itu dia maksud ku cocok dan sangat cantik.."
ucap Andi dengan wajah merah dan semakin gugup.
Pelayan toko yang melayani Violin pun ikut tertawa sambil menutupi mulutnya, melihat gaya Andi yang lucu.
"Kak Lin masih mau coba yang lain, buat perbandingan, kasih pendapat ya ? jangan melamun lagi.."
ucap Violin sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Andi menganggukkan kepalanya cepat.
Kini dia terus menatap kearah kamar pas menunggu Violin keluar dari sana.
Karena pelayan toko sedikit terburu-buru keluar dari kamar pas untuk pergi mencari peniti.
gorden penutup di kamar pas sedikit terbuka, sehingga Andi bisa melihat sedikit dari pantulan cermin, di mana disana terlihat jelas tubuh kekasihnya yang sangat mempesona, hanya mengenakan dalaman saja.
Andi saking terpesona sampai menelan air liurnya sendiri.
"Gleekk,..!!"
Tidak tahu karena feeling atau apa, tiba tiba Violin melalui cermin menatap kearah Andi.
Dia jadi menyadari Andi sedang mengintip tubuhnya.
Andi sangat terkejut saat mereka beradu pandang,.
"Aduh,.. mati gua ,.. ketahuan,.. sungguh memalukan dan gak bermoral.."
keluh Andi dalam hati.
Tapi violin tidak marah, sambil tersenyum dengan wajah sedikit merah, dan memberikan sedikit teguran lewat sinar matanya yang sangat mempesona.
Violin menarik kain gorden menutup lebih rapat.
Melihat hal itu Andi pun bernafas lega, untuk menenangkan pikiran dan bagian bawah pusarnya yang bereaksi.
Andi buru buru berjalan kearah Dispenser yang memang sengaja di sediakan untuk tamu.
Andi mengambil gelas disana mengisinya dengan air es, setelah menghabiskan 3 gelas penuh Andi baru merasa jauh lebih lega dan tenang.
ucap Violin sedikit berteriak memanggil Andi.
Mendengar itu, Andi pun buru buru mendekati Violin, membantu memberikan pengamatan dari atas kebawah.
Tapi sialannya yang muncul di pandangan Andi malah posisi violin tanpa busana tadi.
Andi buru-buru mengerjapkan mata dan menggelengkan kepalanya.
Baru pandangannya kembali benar, Andi diam diam di dalam hati memaki maki dirinya sendiri.
Tapi ada sisi iblis dalam diri Andi yang membantah dan berpendapat bahwa,
"Violin memang jauh lebih cantik dan menarik bila tanpa busana."
Sisi baik Andi langsung memaki maki dirinya yang berpikiran kotor.
Sambil mengamati, di dalam pikiran Andi malah terjadi pertentangan batin yang hebat.
Violin yang seperti bisa merasakan apa yang sedang Andi pikirkan,.wajahnya menjadi sedikit merah, sambil tersenyum malu dia berkata,
"Kak Andi, ayo kasih pendapat, mana gaun yang lebih bagus, jangan berpikir yang bukan bukan."
Mendengar teguran Violin Andi wajahnya pun menjadi merah.
"Lin semua yang kamu kenakan sama cantiknya, karena pada dasarnya kamu sudah sangat cantik.."
__ADS_1
"Aku tidak pandai berpendapat, nona tolong kamu pilihkan yang harga paling mahal aja,.asalkan pas di tubuhnya, itu pasti paling cocok.."
ucap Andi sambil menatap pelayan toko itu.
Setelah itu Andi dengan wajah masih merah, menoleh kearah Violin dan berkata,
"Lin aku tunggu di luar saja, sekalian lihat lihat jas buat pria.."
Selesai berucap tanpa berani beradu pandang dengan Violin, Andi buru buru meninggalkan tempat tersebut.
Saking buru buru dan canggung, Andi malah menabrak jatuh satu patung yang berimbas dengan robohnya patung patung wanita di sana secara bersamaan.
Untungnya Andi memiliki reflek yang cepat dia berhasil menahan patung yang paling ujung untuk tidak roboh.
Lalu mendorongnya kembali sehingga patung di belakangnya pada kembali berdiri ke posisi semula.
Gerakan Andi ini sebenarnya sangat memukau dan menakjubkan, sayang nya.
Andi malah mencoreng nya dengan melakukan dua hal memalukan, pertama tangan kanannya berada di bagian bawah pusar patung wanita tanpa busana itu.
Kedua tangan kirinya justru berada di dada patung wanita itu.
Hal ini membuat Violin dan pelayan toko yang sempat kagum malah jadi tertawa.
Andi sendiri masih tidak sadar, dia menatap kearah Violin dengan bingung.
Baru setelah Violin memberi kode kearah Andi, Andi baru menyadari kecerobohannya, Andi buru buru melepaskan tangannya ngeloyor pergi dengan wajah merah padam.
Violin tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya dan kembali masuk kedalam kamar pas.
"Non,.. kekasih non itu, adalah pria yang sangat baik dan polos, nona sungguh beruntung bisa mendapatkan perhatiannya.."
"Pria yang tampan dan baik seperti itu, di jaman sekarang sangat jarang ada loh non.."
ucap Pelayan toko itu sambil membantu memasang peniti,
pada bagian perut violin yang sedikit kedodoran.
Violin tersenyum mengangguk bangga dan berkata,
"Kamu benar mbak, kak Andi memang sangat baik dan tidak ada duanya.."
"Non juga tubuhnya sangat bagus, padahal gaun ini sudah dirancang dengan ukuran tubuh super model."
"Tapi lihat tubuh super model itu masih kalah sempurna dengan tubuh non.."
"Bagian perut non masih jauh lebih langsing, sedangkan bagian dada dan pinggul non jauh lebih besar."
"Agar nanti nyaman saat di kenakan, gaun ini terpaksa perlu di rombak ulang.."
ucap pelayan itu serius.
Violin mengangguk dan berkata,
"Kelihatannya memang seperti itu, aku agak merasa sesak di kedua bagian ini, agak kurang nyaman."
Pelayan toko itu dengan sigap menggunakan meteran melakukan pengukuran ulang dan mencatatnya.
__ADS_1
Sambil mengukur dua berkata,
"Non karena perlu di rombak nanti mungkin ada biaya charge tambahan dan perlu waktu sedikit lebih lama..gaun ini baru bisa di gunakan.."