AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
ANDI LEPAS KONTROL


__ADS_3

Maria dengan sigap menggiring ko Ahong kembali ke kamarnya.


Ahong akhirnya sambil mengumpat umpat kesal.


Dia mengikuti Maria kembali ke kamarnya, sambil mengomel panjang pendek.


Setelah ko Ahong pergi, kru juga kembali ke kamar masing-masing, kini tinggal Violin dan Berry yang masih menemani Andi di kamar.


Suasana pun kembali tenang dan kondusif, Andi sambil tersenyum berkata,


"Jangan kaget begitulah ko Ahong, gampang tersulut dan meledak meledak mirip dinamit."


"Dan Ginting adalah jagoan yang paling pintar menyulut emosi orang."


"Tapi pada intinya ko Ahong orang nya sangat baik.."


ucap Andi santai.


Sambil melanjutkan membaca buku petunjuk peraturan pertandingan MMA.


dan berbagai hal yang berhubungan dengan pertarungan MMA.


Violin langsung mencibir,


"Baik apanya, istri dirumah sibuk urus anak kecil kecil hasil karya dia.."


"Dia malah bikin karya baru dengan sekretaris genit.."


Andi hanya tersenyum, tanpa berkata apa-apa atas cibiran Violin.


Berry yang sedang asyik memperhatikan perkembangan investasinya, di laptop.


Menghentikan kegiatannya sementara, menatap kearah Violin sambil berkata,


"Ehh anak kecil, ngerti juga urusan orang dewasa, jangan ikutan belum cukup umur."


Berry menutup ucapan nya sambil tertawa ngakak


Violin yang BT menyambar handuk bekas lap keringat ko Ahong, menimpuk nya tepat kewajah Berry.


Sehingga Berry gelagapan dan langsung membuangnya ke lantai, lalu buru-buru berlari ke wastafel di toilet, muntah muntah di sana.


Andi hanya tersenyum lebar menanggapi candaan kedua orang itu.


Sedangkan Violin sambil tertawa puas, dia lalu menyalakan TV kembali, memindahkan Chanel mencari film Tom and Jerry kesukaan nya.


Sambil duduk bersila memeluk bantal Andi, Violin menonton sambil tertawa sendiri.


Berry setelah keluar dari kamar mandi dia mengambil handuk bekas ko Ahong dengan gaya jijik, kemudian melemparnya ketempat sampah.


"Hei Berr itu perlengkapan hotel, masih bisa di cuci, kenapa di lempar ketempat sampah..?"

__ADS_1


tanya Andi kaget.


"Ihh jijik.."


ucap Berry sambil bergidik, kemudian kembali meneruskan melihat laptopnya.


Tidak menghiraukan teguran Andi, Andi sambil menggelengkan kepalanya bangun dari kasurnya, mengambil handuk tersebut kemudian melemparkannya ke kantong laundry.


Setelah itu baru kembali ke kasur nya melanjutkan membaca buku peraturan pertandingan.


Malam yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, sekitar jam 9 malam Andi keluar dari ruang ganti di temanin oleh rombongannya.


Mereka berjalan menuju belakang mimbar, untuk memasuki arena pertandingan.


Penonton sudah membanjiri sekitar arena pertandingan.


Andi akhirnya berjalan memasuki mimbar pertandingan, kemunculan Andi diiringi dengan suara sorakan dan cemooh dari para penonton penonton di sekitar arena, karena sebagian besar orang lebih mendukung Ginting yang terkenal dan pintar mencari sensasi.


Andi berjalan santai memasuki arena pertandingan, yang biasanya suka di sebut oktagon .


Andi langsung berjalan dengan kepala tertunduk menggunakan mantel yang menutupi kepalanya.


Andi tidak mau terlalu di ekspos wajahnya, takut keluarganya di desa melihat dirinya maju bertarung, bisa heboh mereka di sana, mencemaskan dirinya.


Terutama ibu dan adik perempuannya, yang sedang kuliah di kota Y.


Andi berjalan santai tanpa mengangkat kedua tangannya keatas, seperti umumnya di lakukan oleh para petarung lain saat memasuki oktagon.


Andi sebaliknya memilih berjalan sambil menundukkan kepalanya.


Saat di bacakan rekor bertarung Andi yang masih nol, suara cemoohan dari para penonton semakin ramai. terdengar.


Andi tidak terlalu perduli, dia memilih berdiri santai di sudut merah, di mana itu adalah sudut yang di sediakan untuk dirinya.


Andi tetap memilih terus mengenakan mantelnya.


Disudut tempat Andi berdiri terlihat ko Ahong dan kru nya berada di sana.


Sedangkan Berry dan Violin di sediakan tempat duduk di bangku penonton bagian paling depan.


Tepat menghadap ke punggung Andi. Andi sempat menoleh melambaikan tangannya kearah mereka berdua.


Violin terlihat sangat cemas dan hanya bisa membalas senyum Andi dengan senyum yang agak di paksakan.


Sedangkan Berry bersikap biasa, meski di dalam hati, dia juga sedikit mencemaskan Andi, yang memiliki luka di bagian kepala yang belum sembuh.


Andi menunggu dengan sabar kehadiran sipongah Ginting yang sedang jual mahal.


Karena sedang berada di atas angin, namanya sedang meroket, sebagai pemegang gelar dua sabuk juara lokal..


Tak lama kemudian suara gegap gempita para penonton mulai terdengar, menyambut kedatangan Ginting yang mereka tunggu tunggu.

__ADS_1


Ginting sambil tersenyum lebar mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi, ingin menunjukkan kepada semua orang dia lah juaranya.


Malam ini dia akan merebut sabuk gelar ko Ahong lewat Andi.


Ginting berlari kecil dengan heboh sambil menyambut uluran tangan para penonton, lalu bergerak memasuki oktagon.


Menghampiri sudut biru yang menjadi pos nya. Ginting menunjuk nunjuk kearah Andi sambil menggunakan jari telunjuk di gerakkan secara vertikal di lehernya.


Menandakan dia akan menghabisi Andi sebentar lagi.


Andi hanya menyambutnya dengan tersenyum mengejek.


Melihat senyum Andi yang mengejeknya, Ginting pun terpancing, dia segera memberikan tanda jempol terbalik kebawah kearah Andi.


Andi tidak terlalu menanggapinya, Andi mulai membuka mantel yang menutupi tubuh dan wajahnya.


Begitu mantel Andi terlepas, para penonton yang heboh sekarang sedikit terdiam dan was was, mereka bisa kalah taruhan malam ini.


Soalnya tubuh Andi terlihat sangat berotot dan padat, menunjukkan kekuatan besar yang tersembunyi di dalam tubuhnya.


Sedangkan Ginting biasa saja, malah cenderung sedikit berlemak.


Bila di perbandingkan , dari penampilan Ginting jelas kalah jauh.


Apalagi bila soal wajah, Andi jelas jauh lebih tampan dan menarik ketimbang Ginting yang brewokan.


Wasit pertandingan mulai memanggil Ginting dan Andi untuk saling mendekat, setelah memberikan sedikit penjelasan soal peraturan pertandingan kepada kedua belah pihak.


Wasit pun memberi kode pertandingan di mulai, dia pun bergerak mundur, memberi peluang Andi dan Ginting saling mendekat


.


Andi sempat mengulurkan tangannya, untuk mendapatkan tos sportifitas, tapi Ginting mengabaikannya.


Andi pun menarik kembali tangannya dan bersiap siap menghadapi Ginting yang mulai bergerak menghampirinya.


Beberapa kali Ginting menubruk maju berusaha untuk menjatuhkan Andi ke bawah.


Dia ingin melakukan pertandingan Ground fighting dengan Andi di bawah.


Karena dia menyadari Andi memiliki kemampuan bertarung dalam posisi berdiri..


Tapi pergerakannya sudah terbaca oleh Andi, Andi selalu berhasil menghindarinya.


Bahkan dua kali tubrukan terakhir, bukannya berhasil, wajahnya malah mencium dengkul Andi dua kali dengan telak.


Andi masih terus bergerak berputaran mengamati dan mencari peluang untuk merobohkan Ginting.


Ginting yang selalu gagal menyeret Andi bertarung di bawah, akhirnya mulai mengganti strategi, dia kini mencoba menggunakan tendangan dan tinjunya mengincar kepala dan kaki Andi.


Andi selalu berhasil menghindari ataupun menangkis serangan Ginting yang terarah Kediri nya.

__ADS_1


Pada satu kesempatan di mana pukulan Ginting kearahnya meleset mereka menjadi saling berangkulan.


Ginting membisikkan sesuatu ketelinga Andi yang membuat Andi marah, mendorongnya hingga jatuh terjungkal.


__ADS_2