
"Adik-adik ku masih kecil-kecil, mereka semua membutuhkan bantuan biaya makan dan sekolah."
"Bila hanya mengandalkan penghasilan ibu ku saja, itu tidak akan cukup, lagi pula kamu tahu sendiri biaya kuliah tidak murah."
"Meski semester ini sudah bayar biaya kuliahnya, Tapi biaya makan, kost dan lain-lain tetap harus bayar tiap bulan."
"Taruhlah hal itu bisa teratasi, lalu biaya semester depan dan selanjutnya..."
ucap Viona menunduk sedih.
"Di.. aku benar-benar sangat menyukai mu, bila bukan karena hal ini, percaya lah aku pasti akan memilih mu menjadi pendamping ku."
Andi hanya diam mendengarkan tanpa bersuara.
"Di.. ayah ku secara kebetulan berhutang dengan Paman Rio, kini berkat Rio lah hutang ayah ku bisa di tunda hingga tahun depan.."
"Aku curiga ini mungkin saja ulah Rio, tapi meski terbukti sekalipun aku juga tidak bisa apa-apa."
ucap Viona tertunduk sedih.
"Kemarin saat aku ke Toilet di restoran dan Cafe V, ibu ku menelpon ku dan menceritakan semua hal ini pada ku."
"Intinya mereka ingin aku membina hubungan dengan Rio, agar Rio bisa terus membantu ayah ku mengatasi masalahnya.."
"Setelah bertelepon dengan ibu ku, secara kebetulan aku berpapasan dengan Rio di sana."
"Sekedar basa-basi aku pun ngobrol sebentar dengan nya, dia mengajak ku malam Minggu ini menemaninya hadir ke pesta sepupunya."
"Aku tidak berdaya menolaknya karena pesan ibu ku, begitu pula dengan ajakannya pagi ini datang ke kampus berbarengan.."
"Andi sekarang kamu mengerti kan kesulitan ku.."
Andi mengangguk lalu menarik Viona kedalam pelukannya dan berkata,
"Aku mengerti Vi, tidak apa apa kamu lakukan saja yang menurut mu yang terbaik, aku pasti akan mendukung semua keputusan mu.."
"Terus terang saat ini aku tidak tahu harus memutuskan apa, di satu sisi aku sangat ingin terus bersama mu di.."
"Hanya dengan bersama mu lah aku bisa merasakan kebahagiaan dan kenyamanan."
"Tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa memilih bersenang-senang diatas penderitaan yang bakal di hadapi keluarga ku.."
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Vi kamu tidak perlu buru-buru memutuskannya, kita jalani saja."
"Sampai kamu benar-benar yakin baru kamu putuskan, yang pasti apapun keputusan mu, aku akan mendukung mu sepenuh hati."
"Vi bisakah kamu beritahu aku, berapa besar total hutang ayah mu saat ini..?"
"Viona mengangkat kepalanya menatap Andi kemudian mengangkat tangannya menunjukkan 3 jari."
__ADS_1
"tiga ratus juta..."
tebak Andi sambil menatap Viona.
Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,
"30 miliar di.."
Andi hampir terjengkang mendengarnya, bila dia tidak sedang berpegangan pada tepi ranjang, dia pasti sudah jatuh dari kasur.
Viona tersenyum pahit melihat reaksi Andi.
"Lupakan saja di.. itu bukan urusan mu, tak perlu kamu terlalu memikirkan nya."
"Lebih baik kita jalani saja hari-hari kebahagiaan kita selagi masih bisa."
"Hari esok atau pun lusa kita lihat sambil berjalan saja.."
Andi termenung berpikir, mungkin setelah tamat kuliah dan bekerja di kantor besar seumur hidup pun sulit, dia mengumpulkan uang sebanyak itu.
"Di.. aku agak lapar kita cari makan yuk, yang murah-murah aja asal kenyang.."
ucap Viona mengalihkan perhatian Andi.
Dia tidak mau Andi terbebani dengan urusan keluarga nya yang bukan tanggung jawab Andi.
Andi menoleh menatap Viona dengan tatapan tak berdaya dan berkata,
"Baiklah Vi kamu benar kita jalani saja..."
Andi yang melihat Viona makannya cuma ambil tempe sepotong dan sayuran, Andi merasa kasihan dan tidak tega melihatnya.
Andi makan dengan terburu-buru dengan lauk telur dan sayur, sedangkan ayam bakarnya tidak Andi sentuh sama sekali.
Selesai makan Andi menggunakan tangannya mengupaskan daging ayam bakar, lalu selembar demi selembar Andi suapkan ke mulutnya Viona.
Viona menerimanya sambil tersenyum haru menatap Andi.
Semakin makan Viona semakin terharu, saat dia terbayang bakal berpisah dengan Andi nantinya.
Tanpa dapat di tahan lagi airmatanya jatuh menitik bercampur dengan nasi di piringnya.
Andi hanya bisa menatap tak berdaya, karena kedua tangannya sedang dalam keadaan penuh kecap dan bumbu, habis di gunakan untuk mengupas daging ayam bakar.
Akhirnya Andi menggunakan jari kelingking dan jari manisnya yang bersih mencabut sehelai tisue dan menyerahkannya ke Viona.
"Udah Vi jangan nangIs lagi, atau aku pun akan ikut menangis juga.."
ucap Andi bercanda, untuk menghilangkan kesedihan Viona.
Kesedihan Viona adalah hal yang paling tidak ingin Andi lihat, apalagi bila Viona menangis.
__ADS_1
Bila melihat kedua hal itu, Andi akan merasa hatinya sangat sakit, seperti sedang di tusuk hingga terluka dan berdarah.
Viona menerima tisue dari Andi menghapus airmata di pipi dan matanya, kemudian dia menghapus bibirnya yang sedikit berminyak.
Viona menatap Andi dan berusaha tersenyum tapi senyum yang keluar adalah senyum penuh kepedihan.
Andi tidak tahan melihatnya, dia meletakkan ayam yang sudah bersih dia kupas.
"Vi aku ke Toilet sebentar...ya.."
Viona mengangguk.
Andi buru-buru berlari ke toilet,. sampai di toilet Andi buru-buru mencuci tangan, kemudian mencuci wajah nya yang sudah basah oleh air mata yang mengalir tiada henti.
Andi berkali-kali meninju dinding WC hingga menimbulkan suara,
"Dukk..! Dukkk...! Dukkk...!"
Andi ingin mengurangi rasa perih di hatinya dengan melampiaskan ketidak berdayaan nya Kedinding WC.
Andi tidak memperdulikan kedua tinjunya yang kini sudah berlumuran darah.
Akhirnya Andi terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu, menahan rasa pedih di hatinya.
Ini adalah kali pertama Andi menangis sejak dia mulai menginjak bangku sekolah hingga saat ini.
Viona lah satu-satunya yang berhasil membuat dia menangis sedih seperti ini..
Di..! Andi...! kamu tidak apa-apa kan !? kamu masih di dalam di..!?"
terdengar panggilan Viona dari luar yang nadanya terdengar sangat cemas.
Andi buru-buru bangun, mencuci tangan dan wajahnya hingga bersih, kemudian dia memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana.
Agar Viona tidak melihat dan menyadarinya.
Andi melangkah keluar dari WC dengan senyum lembut, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Di..kamu kenapa lama sekali di WC apa yang terjadi ?"
tanya Viona terlihat cemas.
"Aku tidak apa-apa Vi tadi sedikit mules, mungkin kebanyakan sambel, jadi ya begitu deh.."
ucap Andi sambil tertawa.
Viona tersenyum lega dan berkata,
"sekarang masih mules, mau beli obat mencret dulu gak, sebelum kembali ke kost ?"
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Gak perlu Vi , udah sembuh kok Yuk, kita pulang.."
Viona mengangguk dan maju menggandeng tangan Andi, lalu mereka pun berjalan kaki kembali ke kost Andi.