
Dia sudah kalah, kalah total dan sudah kehilangan seluruh masa depan yang dia pertaruhkan di sana semuanya.
Andi tidak bisa menahan diri untuk menghela nafas kecil, saat teringat semua hal itu.
Violin sambil minum susu coklatnya, diam diam melirik kearah Andi,.saat mendengar helaan nafas dari Andi.
Di dalam hati dia juga bergumam,
"Ya Tuhan, mau sampai kapan kak Andi harus merasakan penderitaan ini..?"
Violin tidak tahan melihat ekspresi Andi yang seperti itu, akhirnya dia pun berkata,
"Kak aku mau jalan jalan melihat lihat ke bawah, kakak temani violin ya..?"
Andi menoleh kearah Violin, kemudian mengangguk dan berkata,
"Boleh,.. mau sekarang..?"
Violin mengangguk cepat dan berkata,
"He,..engh..! yuk.."
Lalu Violin menoleh kearah ibunya dan berkata,
"Ma,..! Violin dan kak Andi turun duluan ya, nanti kalau dah siap nyusul aja kita tunggu di bawah.."
Mama Violin mengangguk dan berkata,
"Pergilah.."
Lalu kembali melanjutkan minum teh nya, sambil menonton TV yang memang sengaja di pasang menggantung di dapur, tidak jauh dari meja makan.
Violin pun langsung menarik tangan Andi meninggalkan apartemen menuju lantai dasar.
Saat berada di dalam lift violin pun bertanya,
"Kak setelah pulang dari sini, apa rencana kakak selanjutnya..?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Melanjutkan skripsi kakak yang tinggal dikit lagi selesai.."
"Lalu..?"
tanya Violin mengejar, sambil menoleh menatap Andi.
"Lalu..lalu.."
ucap Andi bingung.
"Tidak tahu Lin, belum kepikiran "
ucap Andi bingung.
beberapa saat kemudian Andi baru berkata,
"Mungkin kembali kedesa, menemui kedua orang tua dan kakek ku."
"Setelah itu..?"
tanya Violin masih penasaran.
Andi menoleh menatap Violin sambil tersenyum lebar kemudian berkata,
"mana ada begitu banyak setelah itu, masa depan siapa yang tahu.."
"Buat apa berpikir terlalu jauh.."
"Mungkin saja cari seorang gadis desa menikah punya anak, seterusnya berkebun di desa.."
ucap Andi sambil tertawa.
__ADS_1
Violin mencubit lengan Andi dengan gemas dan berkata,
"Dasar ngawur..nyebelin.."
Andi pun meresponnya dengan tertawa.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah keluar dari lift, Violin memilih berjalan jalan di taman, di halaman samping gedung apartemen tersebut.
Di sana ada kolam renang yang banyak orang dewasa berpasangan menemani anaknya bermain dan berenang.
Melihat hal itu Andi menghela nafas panjang, dan berkata.
"Alangkah bahagianya bila bisa seperti mereka."
"Bisa kak, Violin yakin suatu hari kakak pasti akan bisa seperti mereka.."
ucap Violin dengan cepat memberi semangat.
Andi mengangguk sambil tersenyum pahit dan berkata,
"Hidup bagaikan mimpi, masa depan tiada yang tahu, sebentar saja semua akan berlalu."
"Yang tersisa hanya penyesalan dan kenangan.."
"Ayo kita kesana...kamu cobain ayunan tidak ? biar kakak bantu jaga.."
Violin tersenyum dan mengangguk cepat, lalu dia menggandeng tangan Andi menuju ayunan yang Andi maksud.
Setelah melihat Violin sudah duduk di bangku ayunan, Andi pun berkata,
"Siap pegang yang erat ya, kakak akan mulai nih, pada hitungan ketiga, ok..?"
"Ok.."
jawab Violin sambil tertawa senang.
"Satu...dua..tiga...!"
Kemudian mulai mendorong ayunan itu kedepan.
"Aihhh...!"
jerit Violin kaget karena dorongan Andi sangat kuat.
Tubuhnya hampir mencelat kedepan, untungnya dia memegang dengan erat tali ayunan nya di kiri dan kanan.
Tapi setelah hilang kagetnya, dia pun tertawa gembira, karena tubuhnya melayang tinggi keatas seperti terbang.
Kemudian terhempas kembali kebawah perasaan ini sungguh menyenangkan juga menegangkan.
Violin tidak berhenti berteriak girang sambil tertawa tawa.
Andi pun ikut tertawa riang, untuk sesaat semua kesedihan di hati Andi pun hilang, karena larut dalam suasana gembira yang di bawa oleh Violin untuknya.
Tidak tahu berapa lama mereka bercanda dan tertawa berdua, hingga terdengar suara teriakan Doddy dan Rina..
"Asyikk...! kak Andi Doddy juga mau..! Rina juga kak..!"
Teriak kedua anak kecil itu gembira, sambil berlari-lari menghampiri Andi.
Andi menoleh kearah mereka berdua dan berkata,
"Boleh saja,..Sebentar gantian dengan Violin.."
Andi mulai melambatkan ayunannya, hingga akhirnya berhenti.
Violin tertawa dengan puas, saat turun dari ayunan.
"Kak Andi,.makasih ya, hari ini Violin sungguh gembira.."
ucap Violin tersenyum bahagia.
__ADS_1
Andi tersenyum dan berkata,
"Sama kakak juga ikut senang..."
Lalu Andi menoleh kearah kedua anak kecil di samping nya dan berkata,
"Siapa yang mau duluan,.. ayo..?"
"Aku kak..! aku kak.!
aku kak..!"
teriak kedua anak kecil itu berebutan, tidak ada yang mau ngalah.
Andi tersenyum dan berkata,
"Sabar gantian saja, semua nya dapat giliran ok.."
"Nah Doddy saja yang duluan, setelah itu baru Rina ok..?"
Rina langsung cemberut dan berkata,
"Kak Andi pilih kasih..gak sayang Rina lagi..!"
Andi tersenyum dan berbisik di telinga Rina.
Seketika Rina pun tertawa riang dan berkata,
"Baiklah gih sana kak Doddy duluan aja..Rina biar belakangan aja..!"
Meski sedikit heran dan curiga, tapi Doddy tetap naik duduk di kursi ayunan.
Lalu dia mulai berteriak-teriak gembira sambil tertawa, saat Andi mengayun nya semakin lama semakin tinggi.
Tentu saja demi keamanan Andi tidak berani mengaturnya setinggi Violin tadi.
Meski ingin menyenangkan kedua anak itu, Andi tetap menjaga batas demi keamanan.
Selesai Doddy baru berganti dengan Rina, selesai bermain dengan puas.
Sesuai janji Andi membelikan es krim Secara diam-diam buat Rina.
Sedangkan Doddy diungsikan ketempat lain oleh Violin, yang menemani Doddy bermain luncuran.
Hingga Papa Viona datang, mereka baru melanjutkan acara mereka untuk jalan jalan ke kampus P, tempat Andi dan Viona kuliah dulu.
Saat mereka tiba di kampus, kampus terlihat ramai banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berlalu lalang di sana.
Andi menemui satpam penjaga kampus, memberitahu maksud tujuan kunjungannya bersama keluarga.
Tak lupa Andi menyelipkan dua bungkus rokok untuk mereka.
Para satpam itu seketika berubah sikap nya, menjadi lebih ramah dan sopan terhadap Andi.
Andi lalu mengajak kedua orang tua Viona Violin Doddy dan Rina berkeliling kampus, melihat lihat suasana perkuliahan dan bangunan kampus.
Sambil berkeliling, diam diam Andi kembali bernostalgia.
"Semua terasa masih sama, tidak ada yang berubah, gedung, taman, kelas, bahkan bangku perkuliahan semua masih sama."
"Tapi ada sesuatu yang berbeda, yaitu di sisinya kini sudah tidak ada lagi Viona.."
batin Andi dalam hati.
"Sudahlah di,.. kamu harus relakan dia demi kebahagiaan nya, kamu harus mengalah."
"Setidaknya kamu dan dia pernah saling mencintai dan menyayangi itu sudah cukup, jangan lagi berharap lebih.."
batin Andi dalam hati menegur dirinya sendiri.
Lalu Andi menunjukkan di mana kost Viona dulu, setelah itu mereka baru meneruskan perjalanan wisata ke Candi yang terletak di daerah L yang sejuk dan dingin.
__ADS_1