
Andi tidak ikut campur, selama tidak ada yang mencoba menekan ataupun menganggu istri kecilnya bekerja.
Ini hanya bersifat jaga jaga, Andi juga tidak ingin Violin tahu apa yang sedang dia lakukan untuk memproteksinya.
Violin sangat cantik, Andi sangat paham birokrasi dan para buaya, hingga pemilik saham dominan di Tempat kerja yang sangat kompleks manusia nya itu.
Violin selama ini cuma bekerja di RSM di bawah naungan prof Peter, semua berjalan aman dan lancar.
Jadi Violin seperti katak dalam tempurung yang belum terbiasa dan memiliki kemampuan untuk melindungi diri.
Untuk itu, sebagai suaminya, tentu Andi lah yang harus bisa menjaga dan melindunginya.
Agar jangan sampai terulang kasus yang terjadi pada Viona.
Tapi sejauh ini semua berjalan lancar, Violin sudah bekerja selama 6 bulan di RS tersebut semuanya termasuk aman.
Andi pun kini sudah memegang 55% saham di RS JMC secara diam-diam, dia menggunakan nama Jerry Huo dalam penyamarannya.
Jerry Huo hanya sebuah nama, orangnya sendiri tidak pernah hadir, hanya di kabarkan dia pengusaha dari AS.
"Sayang kamu di mana,..!"
teriak Violin pagi pagi dari arah kamar mandi.
Andi yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur, saat telinga nya menangkap suara panggilan Violin.
Dia segera mematikan kompor, kemudian bergegas secepatnya masuk kedalam kamar dan menghampiri kamar mandi dan berkata dari luar.
"Ya sayang,.. kamu kenapa ?"
"Sayang masuklah coba lihat ini,.."
ucap Violin dari dalam kamar mandi."
Andi buru buru masuk kedalam kamar mandi dan melihat apa yang ingin di tunjukkan oleh istrinya.
Begitu melihat istrinya memegang alat test kehamilan, sambil tersenyum senyum. Andi pun sudah tahu apa yang terjadi tanpa perlu melihatnya.
Andi langsung maju memeluk dan mengangkat nya tinggi tinggi keatas sambil tertawa gembira.
Violin juga sama dia tertawa dengan sangat bahagia, Andi buru-buru menghubungi kedua orang tua nya, setelah mengetahui kabar gembira tersebut.
Setelah mengabari kedua orang tua nya dan ibu mertua nya.
Andi pun kembali kedalam kamar, duduk di pinggir kasur memerhatikan Violin yang sedang berias dan sudah berpakaian rapi dengan seragam dokternya.
"Lin trisemester pertama kehamilan wanita hamil tidak boleh terlalu capek, bagaimana bila kamu ijin istirahat di rumah saja..?"
Violin menghentikan riasan nya menatap Andi dan berkata,
"Kak aku baru bekerja setahun di sana, kurasa pasti tidak bakal di ijinkan deh ?"
"Apalagi peraturan cuti hamil kan cuma boleh diambil saat trisemester mau melahirkan, bukan saat hamil awal.."
__ADS_1
"Selain itu, bila diam di rumah aku pasti akan sangat bosan deh kak..'
ucap Violin mengemukakan pendapat keberatannya.
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Baiklah apapun itu, asal kamu nyaman aku akan mendukung mu.."
Violin langsung tersenyum gembira , dia buru-buru meninggalkan kursi meja rias.
Violin duduk disebelah Andi, dia lalu memeluk Andi dengan mesra dan berkata,
"Terimakasih ya kak,.."
Lalu dia mendaratkan ciuman nya di pipi Andi dengan penuh kebahagiaan.
Andi tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum terpaksa dan berkata,
"Kamu boleh kerja tapi jangan terlalu capek dan angkat barang berat berat, berjalan juga harus lebih hati-hati.."
"Terutama naik turun tangga kamu harus ingat itu, kamu tidak boleh menganggap sepele hal ini.."
"Kamu mengertikan maksud ku.."
ucap Andi masih saja terlihat cemas.
Violin tersenyum lembut dan berkata,
"Sayang kamu tenanglah, aku janji pasti akan jaga diri baik-baik dan ikuti nasehat mu.."
ucap Violin berusaha menenangkan suaminya.
Andi menghela nafas panjang tak berdaya, dia tidak bisa melakukan hal apapun selain berdoa dan sebisa mungkin diam diam mengatur kan asisten tambahan, dan mencari dokter yang memiliki spesialisasi yang sama dengan spesialisasi yang di miliki oleh istrinya.
Agar istrinya tidak terlalu capek dan bisa bergantian menangani pasien dengan rekan sejawatnya.
Andi mengantar Violin hingga depan ruang praktek nya, setelah itu dia langsung melakukan panggilan ke direktur dan dewan direksi RS, agar membantu nya mengatur kan hal tersebut buat Violin.
Perintah pertama keluar dari Jerry Huo langsung di kerjakan tanpa ada yang berani banyak bertanya.
Beberapa hari kemudian, Violin menjadi kaget saat dirinya mendapatkan tambahan asisten tanpa dia minta.
Saat Violin bertanya ke direkturnya, jawaban direktur hanya perintah dari atas tidak ada alasan apapun..
Meski heran tapi Violin merasa cukup bersyukur, sehingga dia menjadi jauh lebih santai, apalagi beberapa hari kemudian di divisi dia tiba tiba nambah satu lagi dokter SPC bedah otak sama seperti dirinya.
Violin semakin heran, tapi juga sekaligus bersyukur.
Saat perjalanan pulang bersama Andi, Violin pun berkata melepaskan rasa penasaran nya.
"Sayang kamu tahu tidak, beberapa hari ini di divisi ku terjadi perubahan struktur organisasi.."
ucap Violin penuh semangat.
__ADS_1
"Perubahan apa yang ?"
tanya Andi pura-pura tidak mengerti.
"Itu loh yang,.. aku dapat tambahan asisten baru, sekaligus dapat tambahan rekan kerja yang memiliki SPC sana dengan ku.."
"Ohh gitu bagus dong,.. kamu kan jadi gak perlu terlalu capek.."
"Ya sih,.. hanya saja aneh aja, kok bisa serba kebetulan begini ya,..?"
ucap Violin sambil menatap kearah Andi dengan penasaran.
"Syukuri ajalah, itu berarti rejeki mu, dan juga rejeki dari dia.."
ucap Andi sambil membelai perut istrinya yang masih rata.
Hingga Violin menggelinjang kegelian dengan wajah sedikit merah.
Andi yang melihat reaksi istrinya hanya tersenyum dan berkata,
"Kenapa yang,.. pengen ? lewat belakang boleh kok aman.."
Andi berusaha menahan tawa sambil nyetir.
"Iss dah,.. memalukan.."
"Dasar cabul.."
umpat Violin tapi mulutnya mengomel wajahnya justru berkata lain..
Dengan pengaturan tersebut di RS tempat kerja Violin Andi menjadi jauh lebih tenang.
Tak terasa tujuh bulan pun berlalu, kini perut Violin mulai terlihat besar, dan agak kesulitan bila di pakai berjalan.
"Sayang udah boleh cuti tuh..perut mu dah berat di bawa kerja.."
ucap Andi sambil membantu memijat kaki istrinya yang sedang berendam air hangat untuk mengurangi rasa capek dan pegal pegal di kakinya.
Karena harus di gunakan untuk menopang tubuh nya yang semakin hari kian berat.
Violin tersenyum manja dan berkata,
"Gak ahh kalau di rumah pasti lebih capek gak ada kegiatan selain duduk nonton.."
"Kamu kan tahu sendiri, masak aku kurang bisa, pekerjaan rumah udah ada yang kerjain semua nya.."
ucap Violin beralasan.
Yang jelas dia malas karena di rumah Andi pasti akan menjaganya seperti barang antik yang gampang pecah.
Andi menghela nafas tak berdaya dan berkata,
"Jadi kamu mau sampai kapan baru mengambil cuti.."
__ADS_1
"Jangan bilang mau sampai mules, mau melahirkan baru.."
ucap Andi sambil mengangkat kepalanya menatap Violin.