AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
INGIN MERAWAT ANDI


__ADS_3

"Sekarang di hadapan saya kebetulan ada keluarga nya yang datang, apa bisa saya bawa menghadap ke anda dokter ?"


"Baik dokter.."


jawab petugas itu. lalu dia pun mematikan teleponnya.


Menatap kearah Violin dengan ramah dan berkata,


"Mari dek silahkan ikut dengan saya, dokter Wiliam yang menangani pasien Andi Huo, ingin berbicara dengan Anda sebentar."


Violin menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti petugas tersebut yang mengantarkan dirinya ke ruangan Dokter Wiliam.


Petugas itu mengetuk pintu ruangan yang ada tertempel tulisan Dr Wiliam SPC bedah.


"Tok..Tok...Tok...!"


"Masuk..!"


terdengar suara dari dalam ruangan.


Petugas itu pun membuka pintu mempersilahkan Violin untuk masuk kedalam, lalu dia berkata dengan sopan kepada dokter Wiliam.


"Maaf dokter, ini keluarga pasien Andi Huo..."


"Oh ya,..makasih .."


ucap dokter Wiliam sambil tersenyum ramah.


Petugas itu segera mengangguk dan berkata,


"Saya permisi dokter.."


"Ya,.. silahkan.."


ucap dokter William singkat.


Kemudian dia menoleh kearah Violin, dan berkata,


"Silahkan duduk nona.. Violin.."


ucap dokter William sambil melihat data kartu pelajar yang di berikan oleh petugas informasi tadi.


Violin memperhatikan dokter di hadapannya sejak dia masuk tadi dengan penuh kagum, diam diam Violin sedang membayangkan.


Bila kelak dia juga memakai seragam putih bersih, stetoskop di kalungkan di leher, alangkah keren dan bahagia nya dirinya saat itu.


Dokter Wiliam adalah seorang dokter muda berkacamata.


Wajahnya cukup tampan dan menarik senyum nya juga sangat ramah.


Dia sambil duduk dan tersenyum ramah berkata,


"Maaf kalau boleh tahu apa hubungan nona dan pasien Andi Huo.?"


"Saya adik tirinya dok.."

__ADS_1


ucap Violin berbohong.


"Begini nona Violin, seperti yang kamu lihat di gambar Rontgen ini.."


ucap dokter Wiliam serius sambil menunjuk kesebuah Layar monitor.


"Ini adalah gambar tulang dada pasien Andi Huo saat ini, dan yang di sebelah nya adalah tulang dada pasien normal pada umumnya."


"Di sini kita bisa lihat, di titik ini ..ini..ini..ini..dan sebelah sini ada garis garis retakan nya."


"Sedangkan di sebelah sini ...sini..dan sini..kita bisa lihat ada 3 tulang yang patah.."


"Yang paling berbahaya adalah tulang patah sebelah sini..dan sebelah sini.."


ucap Dokter Wiliam sambil terus mengunakan ujung pulpennya menunjuk gambar di layar TV di hadapan nya.


"Di sebelah sini tulang yang patah menusuk dan melukai jantung, untungnya cuma lecet sedikit, tidak sampai pecah jantung nya.."


"Sedangkan yang sebelah sini melukai paru parunya."


"Yang sebelah sini hanya patah saja.."


"Kami sudah melakukan operasi dan memperbaiki posisi nya, untuk sementara waktu Andi Huo terpaksa di rawat dulu di sini sambil di pantau kesembuhan nya."


"bila berjalan lancar, Andi Huo sudah boleh meninggalkan rumah sakit Kamis depan."


"Untuk sementara waktu, pasien tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu, setelah keluar dari rumah sakit pun aku sarankan pasien tidak melakukan pekerjaan berat."


"Mungkin membutuhkan waktu pemulihan sekitar 3 sampai 6 bulan baru bisa beraktifitas dengan normal lagi."


Dokter apa yang sebenarnya terjadi ? kenapa kakak ku bisa terluka sampai seperti ini ?"


tanya Violin ke Dokter Wiliam.


"Menurut teman pasien yang membawanya kemari, pasien mengalami kecelakaan lalu lintas."


"Tapi herannya bila kecelakaan lalu lintas harusnya ada bekas luka ditempat lainnya, tapi anehnya luka pasien hanya di sini saja."


"Dan sebuah luka gores memanjang dari atas sini hingga kesini."


ucap Dokter Wiliam sambil menunjuk luka di dada sampai ke perut Andi.


Dari penjelasan Dokter Wiliam, Violin yang cerdik sudah bisa menebak darimana Andi memperoleh luka ini.


Violin yakin, Andi pasti kembali pergi bertarung mencari uang, untuk membantu membebaskan hutang keluarganya dari paman Rio.


Di luar Violin berusaha bersikap tenang, padahal di dalam hati, dia sangat terharu dan bersedih buat pengorbanan Andi yang sangat luar biasa ini.


Setelah berbincang sejenak dengan dokter William, Violin pun permisi dari ruangan tersebut, dia langsung pergi ke kamar di mana Andi sedang di rawat.


Saat Violin masuk kedalam kamar, dia melihat Andi sedang berusaha menahan sakit ingin mengambil gelas di sampingnya.


Gerakan Andi terhenti saat melihat siapa yang berdiri di pintu kamar, sedang menatap dirinya dengan airmata bercucuran membasahi pipinya.


Violin buru buru maju membantu menuangkan air ke gelas, dan membawanya ke hadapan Andi, membantu Andi minum dengan sedotan.

__ADS_1


Tapi Andi tidak langsung minum, melainkan sambil menahan nyeri di dada dan membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya, lalu Andi berkata,


"Lin kenapa kamu datang kemari ? bukankah kamu harusnya ada di sekolah ? siapa yang memberitahukan pada mu aku ada disini..?"


Violin tetap membantu Andi minum, setelah Andi minum dia baru berkata,


"Kakak sampai seperti ini, disini."


"Bagaimana aku bisa fokus dan berkonsentrasi disekolah ?"


"Aku tahu dari Ronaldo kak.."


ucap Violin berbohong.


"Lalu di mana Ronaldo sekarang,?"


tanya Andi.


"Dia cuma drops saya didepan dan langsung pergi kuliah.."


ucap Violin tenang sambil terus membantu membikin kan roti kering dan Susu.


Lalu dengan perlahan lahan dia menyuapi Andi makan, sesuap demi sesuap dengan sangat hati-hati.


"Lin kamu kembali lah kesekolah, tempat mu bukan di sini, di sini ada perawat yang mengurusku kamu tenang saja.."


ucap Andi pelan.


"Perawat, untuk ngambil minum saja, kakak tadi harus bersusah payah sendiri."


"Apalagi menyuapi kak Andi makan, itu mustahil punya."


"Paling hebat mereka kemari bantu ganti infus, ganti perban, ngasih obat antarin makanan yang di letakkan di sini.."


"Sisanya mereka mana perduli, bila kakak mau pipis mau BAB gimana..?"


"Tidak aku tidak akan sekolah, sebelum kakak benar benar sembuh, bisa makan minum sendiri, dan bisa berjalan ke WC sendiri."


ucap Violin berkeras.


Padahal dia juga sedikit ngeri dalam hati, bila harus menjaga dan menemani Andi ke kamar mandi.


Di dalam sana mau tidak mau dia harus melihat barang Andi, padahal meski dia bercita-cita jadi dokter dan cepat lambat dia juga akan melihat barang itu.


Tapi saat ini dia belum sampai kesana, paling paling dia hanya melihat sekilas lewat gambar di buku bukan yang nyata.


Apalagi bila sampai harus menyentuhnya, dia sungguh merasa ngeri dan jijik.


Tapi dia juga tidak bisa dan tidak tega membiarkan Andi berjuang seorang diri dalam keadaan seperti ini.


"Tapi Lin kalau seperti ini, kamu bisa kena skorsing dari sekolah, itu tidak boleh terjadi."


"Kamu tenang saja, kakak di sini ditemani oleh Berry kok..dia sebentar lagi juga kemari.."


"Lin kamu sayang kakak kan, ? kamu ingin lihat kakak senang tenang dan bahagia tidak..?"

__ADS_1


tanya Andi yang kehabisan akal membujuk Violin.


__ADS_2