AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PENJELASAN PROF PETER HO.


__ADS_3

Violin tidak mau meladeni sikap Ronaldo, karena dia tahu makin di ladeni, anak ini akan makin narsis dan memalukan.


"Do bagaimana keadaan kak Andi ?"


tanya Violin serius.


Ronaldo tersenyum nakal dan berkata,


"Kalau itu lebih jelasnya kita tanya ke calon mertua mu saja..."


"Do..! aku serius nih.."


ucap Violin mulai kesal.


"Apa aku terlihat bercanda ? aku juga serius lagi.."


ucap Ronaldo tidak mau kalah.


"Pa..! Pa..! Pa...! kesini ! ayo cepat !"


ucap Ronaldo sambil melambaikan tangannya kearah ayahnya, memanggilnya mendekat.


Seorang dokter berusia 50 an yang terlihat masih gagah dan berwibawa, sedang memberikan pengarahan kepada sekumpulan dokter yang berdiri di hadapannya.


Dialah Prof Dokter Peter Ho, Spc Bedah Otak paling terkenal di kota J, ayah kandung Ronaldo.


Beliau inilah yang tadi melakukan pemeriksaan kondisi Andi, dan terus di dampingi oleh Ronaldo sepanjang pemeriksaan.


Mendengar panggilan dari Ronaldo putra tunggalnya, dia pun membubarkan sekumpulan dokter di hadapannya.


Lalu sambil menggelengkan kepalanya, dia berjalan menghampiri putranya.


Setelah ayahnya sudah dekat Ronaldo pun langsung berkata,


"Pa..sini cepat,.. ini calon mantu mu, ingin menanyakan sesuatu pada mu..!"


Violin langsung mempelototi Ronaldo dengan wajah merah padam dan berusaha mencubitnya.


Tapi Ronaldo sudah menghindar duluan sambil tertawa nakal.


Dokter Peter Ho tentu sangat terkejut mendengar ucapan putranya itu.


Padahal istrinya selama ini selalu sibuk Carikan pasangan, buat putra tunggal mereka ini.


Dan selalu mencemaskan dirinya soal pasangan hidup, tapi putranya tidak pernah menanggapinya.


Kini dia tiba-tiba bilang gadis yang terlihat masih sangat muda ini adalah pilihan nya, tentu saja Dokter Peter Ho sangat terkejut di buatnya.


Dokter Peter Ho mengamati violin dari atas hingga kebawah, dia harus akui, gadis di hadapannya memang sangat cantik sepadan dengan putranya.


Hanya saja kelihatannya masih terlalu kecil, mungkin perlu 5 tahun lagi, gadis ini baru cocok untuk jadi menantunya.


Sementara itu Violin tentu sangat risih dan grogi di amati seperti itu oleh ayah Ronaldo, seperti orang sedang mengamati burung ataupun ayam sebelum membelinya.


Violin sangat kesal dan marah dengan Ronaldo, yang suka bicara ngasal sesuka hati.

__ADS_1


Tapi saat ini dia tidak berdaya membalasnya, karena tidak enak hati dengan Dokter Peter Ho, yang sedang berdiri di hadapan nya.


Dokter Peter Ho mengulurkan tangannya untuk menyalami Violin.


dan berkata,


"Peter Ho,.. ayah Ronaldo..nona ini..?"


Violin buru buru menyambut uluran tangan Dokter Peter Ho, sambil berkata,


"Nama saya Violin Prof.. maaf tolong jangan dengarkan ucapan Dodo yang suka asal.."


"Saya dan Dodo cuma teman biasa, Prof boleh saya bertanya sedikit ?"


Dokter Peter Ho melirik putranya sekilas, dan mengangguk mengerti.


Lalu dia baru menoleh kembali kearah Violin dan berkata,


"Maafkan putra ku yang nakal ini, emang begini lah sifatnya sangat sulit di atur.."


"Oh ya nona Violin mau tanya apa ? silahkan saja..jangan sungkan.."


ucap Dokter Peter Ho ramah.


"Begini Prof pasien yang di dalam itu adalah kakak ku, aku ingin tahu bagaimana kondisinya saat ini.."


"Apa kakak ku ada kemungkinan untuk sembuh seperti semula..?"


tanya Violin dengan wajah cemas.


"Begini Nona violin, terus terang saja kondisi kakak mu saat ini sangat parah, bila dia bisa sadar dari komanya itupun sudah termasuk luar biasa.."


"Tapi bila untuk pulih seperti semula, aku tidak berani memberikan jaminan.."


"Bisa jadi saat dia bangun nanti, dia mungkin akan mengalami kelumpuhan dan Amnesia.."


"Ahh,.. ! "


Violin terbelalak pucat dan menutupi mulutnya, yang setengah terbuka.


Dia sudah menduga jawaban ini, tapi saat dengar dari yang paling ahli, dia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak kaget.


Sesaat kemudian violin pun berkata,


"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan nya kembali Prof...?"


Prof Peter Ho mengerutkan keningnya dan melanjutkan berkata,


"Cedera di kepala pasien benar benar sangat parah, Dokter dokter di kota B sudah menanganinya dengan cukup baik.."


"Ada dua bagian di dalam kepala pasien yang tidak berani mereka tangani, karena sangat beresiko.."


"Ada penyumbatan darah beku di syaraf yang mengontrol memori dan mengontrol motorik tubuh.."


"Bila penyumbatan ini bisa di perbaiki, maka pasien masih punya peluang untuk pulih, bila tidak paling lama pasien hanya memiliki waktu 5 tahun lagi.."

__ADS_1


"Tapi operasi di bagian ini sangat beresiko, aku sendiri juga tidak punya keyakinan untuk kasus ini.."


"Bila operasi gagal resikonya adalah pasien akan langsung kehilangan nyawa nya, saat itu juga.."


ucap Dokter Peter Ho memberi penjelasan, sambil menatap kearah Violin dengan serius.


Melihat ekspresi sedih cemas dan kecewa violin, Dokter Peter Ho tersenyum lembut pada violin dan berkata,


"Itu semua adalah diagnosa medis, peluang masih tetap ada, di dunia ini mati dan hidup tidak ada yang bisa pastikan, selain yang di atas sana..'


"Jadi nona Violin jangan terlalu cemas, aku permisi dulu.."


ucap Dokter Peter Ho sambil menepuk pundak Violin dengan lembut, kemudian berlalu dari sana.


Dokter Peter Ho memberi kode agar Ronaldo mengikutinya.


Ronaldo dengan berat hati terpaksa melangkah mengikuti ayahnya dari belakang.


Saat melewati Violin, dia berbisik,


"Jangan terlalu di pikir, kak Andi pasti akan sembuh.."


Violin mengangguk kecil, sambil menghapus dua titik airmata nya yang jatuh.


Hatinya benar-benar sangat bersedih buat Andi, dia benar-benar tidak rela, bila Andi harus pergi meninggalkan semuanya dengan cara seperti ini..


Violin berjalan menuju kamar rawat inap Andi dengan lesu.


Tadinya dia sempat berharap Prof Peter bisa mengatasi hal ini.


Tapi setelah mendengar penjelasan Prof Peter sendiri, Violin jadi kecewa berat.


Sambil menghela nafas panjang beberapa kali, violin baru mendorong pintu untuk masuk kedalam ruangan dimana Andi di rawat.


Setelah melewati ruang tamu dan tengah, Violin berjalan masuk kedalam kamar, di mana terlihat Andi sedang terbaring lemah, dengan keadaan yang masih tetap sama.


Yang terlihat berbeda hanya, peralatan dan keadaan ruangan tersebut yang terlihat lebih mewah.


Violin memilih duduk di samping Andi, dia menatap Andi dengan sedih dengan airmata terus menetes membasahi pipinya tanpa henti.


Sesaat kemudian HP Violin berbunyi, Violin tersadar dari lamunannya dan buru buru mengangkatnya.


"Lin kamu di mana sekarang ? bagaimana keadaan Andi ?"


tanya suara mama Violin dari seberang sana, begitu telpon di angkat.


"Aku sudah ada di kota J ma, tepatnya di RS M di daerah selatan. Kamar VIP 301."


"Keadaan kak Andi masih sama ma, belum ada perubahan sama sekali.."


ucap Violin menjawab pertanyaan mamanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Lin,? kenapa Andi bisa sampai terluka begitu..?"


tanya mama Violin penasaran.

__ADS_1


__ADS_2