AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PERNYATAAN VIOLIN


__ADS_3

Dokter Monica mengerti maksud Andi, dia menganggukkan kepalanya lalu berjalan pelan menuju kamarnya.


James mengangguk kearah Andi sambil.tersenyum berkata,


"Terimakasih banyak di,.."


Andi mengangguk kearah James dan Santi secara bergantian sambil tersenyum.


Dia lalu membalikkan badannya berjalan meninggalkan kediaman Santi untuk kembali kerumahnya yang letaknya tidak jauh dari sana.


Andi berjalan di bawah guyuran salju lebat dan hembusan angin kencang.


Andi merasa sedikit heran saat dari jauh matanya yang tajam, melihat ada seseorang yang meringkuk di depan pintu rumahnya yang gelap gulita.


Karena saat Andi meninggalkan rumahnya, dia memang pergi pagi pagi, sehingga tidak ada lampu yang dia nyalakan.


Andi mempercepat langkahnya mendekati rumahnya dengan penuh tanda tanya siapa yang ada di sana.


Setelah tiba di depan rumahnya, Andi menyalakan lampu penerangan halaman depan.


Lalu dia mendekati orang tersebut, berdiri di hadapan orang itu,


"Andi pun bertanya dengan sikap waspada,


"Siapa kamu, ? mengapa malam malam ada di sini ?"


Setelah pengalaman tadi pagi, Andi menjadi extra hati hati, dia tidak mau bersikap gegabah, yang akan merugikan dirinya sendiri.


Tapi begitu orang yang meringkuk di hadapan nya mengangkat kepalanya.


Andi melihat sebuah wajah yang selama ini dia rindukan siang dan malam.


Andi mengedip ngedipkan matanya, takut salah lihat orang, karena terlalu merindukan gadis itu, dia jadi berhalusinasi.


Tapi saat di lihatnya wajah gadis itu tetap tidak berubah.


Andi pun buru-buru berlutut di hadapannya dan berkata dengan suara gemetar,


"Lin benarkah ini kamu ? aku tidak sedang bermimpi kan ? bagaimana kamu bisa tahu, aku ada di sini ?"


Violin yang sedari tadi terus menatap kearah Andi dengan sepasang mata terbelalak indah.


Perlahan-lahan matanya beralih menatap kearah kaki Andi dan bergumam kecil,


"Kaki kakak,..kaki kakak kapan sembuhnya..?"


Saat Andi berlutut di hadapan nya dan melontarkan pertanyaan Ketiga nya yang sangat konyol menurut Violin.


Sehingga emosinya langsung tersulut, tanpa berkata apa-apa sambil bercucuran air mata.


Violin langsung melayangkan telapak tangannya kearah wajah Andi.

__ADS_1


"Plakkk,..!!"


terdengar bunyi yang sangat nyaring saat telapak tangan violin bersarang tepat di wajah Andi.


Andi sebenarnya bisa menghindar dan menangkisnya,. atau pun membiarkan tenaga saktinya bergerak otomatis melindungi bagian yang diserang.


Tapi Andi sengaja menerimanya dengan pasrah, karena dia memang sengaja ingin menerimanya.


Melihat pipi Andi menjadi merah dan bengkak, dengan sudut bibir berdarah.


Hati Violin menjadi sedikit tidak tega, tapi sambil mengigit bibirnya sendiri erat-erat, Violin menghapus airmatanya yang jatuh bercucuran, membasahi wajahnya.


Dia berusaha mengeraskan hatinya dia menatap Andi dengan tajam dan berkata,


"Mengapa,...mengapa,.. kakak tega,.. mencampakkan Violin seorang diri jauh di sana...?!"


"Bukankah kakak pernah berkata sangat mencintai Violin ?! selamanya hanya ada Violin di hati kakak ?! kakak juga berjanji akan selalu berada di samping Violin selamanya..!"


"Tapi apa kenyataan nya,? mengapa kakak melanggar semuanya..?!"


"Apa kakak sudah melupakan semua janji kakak !? dan telah membuangnya jauh-jauh dari ingatan kakak..!"


"Mengapa kakak begitu kejam dan tega, pergi tanpa pamit, hilang tanpa kabar ?!"


"Tahukah kakak bagaimana Violin melewati kehidupan Violin yang penuh penantian dan penuh harapan ini.!"


"Lima tahun kak, tepatnya 5 tahun lebih 3 bulan 3 hari, kakak membiarkan Violin menanti tanpa kepastian...!"


Violin terus berteriak melepaskan semua pertanyaan yang selama ini menjadi uneg uneg dan beban di hatinya.


Andi tidak bisa menjawabnya, dia hanya bisa menatap Violin dengan tatapan mata penuh rasa sesal dan merasa bersalah.


Dia hanya bisa bergumam kecil berkata maaf berulang kali.


Setelah melepaskan semua uneg-uneg nya, Violin sudah tidak bisa menahan diri untuk maju menubruk kedalam pelukan Andi.


Dia menangis tersedu-sedu, sambil terus memukuli dada Andi dengan tinjunya yang kecil putih dan halus.


Andi membiarkan saja,.dia tidak mencegah apa yang ingin Violin lakukan padanya.


Dia hanya balas memeluk dan membelai rambut Violin dengan lembut dalam diam.


Andi dengan sabar memeluk dan membelai Violin dengan lembut, hingga suara tangisan Violin mereda.


Andi baru berkata pelan,


"Lin alasan kakak melakukan semua itu sangat sederhana, kakak hanya ingin melihat mu bahagia dan sukses.."


"Kakak hanya seorang cacat yang usianya tidak akan panjang.."


"kakak mana mungkin, menyeret mu kedalam pusaran kehidupan kakak yang tidak ada masa depan.."

__ADS_1


"Bila kamu bersama Ronaldo bisa bahagia kenapa tidak.."


"Ronaldo adalah pilihan yang jauh lebih...'


Sebelum Andi berhasil menyelesaikan kata katanya, Violin sudah menengadahkan wajahnya keatas, lalu menarik wajah Andi kebawah dengan sepasang tangan nya, dan menciumi bibir Andi melepaskan semua perasaan nya.


Andi sempat terlena,.tapi sesaat kemudian pikiran terangnya terbuka.


Dengan lembut Andi memaksa menjauhkan Violin darinya dan berkata,


"Lin kita tidak boleh seperti ini, ini adalah tindakan salah, yang sangat tidak adil buat dirinya dan sangat tidak bertanggungjawab."


"Diantara kita hanya bisa menjadi masa lalu, dan biarkanlah berlalu.."


"Kamu bisa datang kemari, dan kita bisa bertemu mungkin untuk yang terakhir kalinya kakak sudah sangat bahagia.."


"Kakak akan pergi tanpa sesal lagi.."


Violin menatap Andi dengan kaget dan mundur menjauhi Andi kemudian berkata,


"Apa maksud kakak,...apa kakak sudah ada wanita lain..?"


Violin menatap Andi dengan kecewa, airmatanya kembali mengalir deras.


Melihat reaksi Violin Andi segera sadar, Violin telah salah mengartikan ucapan nya.


Dia buru buru menggoyangkan tangannya mengklarifikasi dan berkata,


"Tidak selamanya di hati kakak hanya ada kamu dan patung ini, selain kalian berdua tidak ada lagi wanita lain di hati kakak.."


Violin langsung merebut patung itu dari tangan Andi, dia memperhatikannya dengan seksama, patung itu meski lebih kecil dari patung kakaknya.


Tapi patung kecil itu jelas adalah dirinya, karena ukiran seragam dokter dan stetoskop yang di kalungkan dileher patung gadis cantik itu.


Tidak salah lagi, itu adalah dirinya, tidak mungkin ada orang kedua selain dirinya.


Violin kembali tersenyum lega dan terlihat sangat bahagia, dia kembali maju ingin memeluk dan berciuman dengan Andi.


Tapi gerakannya ditahan oleh Andi, dan Andi berkata,


"Cukup Lin,..ini tidak adil buatnya,.. kita tidak boleh."


Kini Violin pun mengerti sambil tersenyum manis dia menatap Andi dan berkata,


"Maksud kakak DoDo, DoDo dan aku hanya rekan kerja termasuk ayahnya prof Peter, mereka semua adalah rekan kerja.."


"Hubungan kami hanya sebatas kerja tak lebih.."


"Bila kak Andi tak percaya, disini terlalu dingin, kita bisa masuk kedalam nyalakan penghangat ruangan.."


"Aku akan buktikan pada kakak bahwa aku selamanya hanya milik kakak seorang.."

__ADS_1


__ADS_2