
Ketiga gadis itu melepaskan pegangan mereka dengan kepala tertunduk dan bibir sedikit cemberut.
Di dalam hati mereka mengutuki Andi, sialan si kere ini ngelunjak, mentang-mentang kini memegang rahasia mereka.
Jadi berlagak sok kuasa, bila bukan karena rahasia kami ada ditangannya, siapa juga yang Sudi mendekati cowok kere tidak tahu malu kaya Andi.
"Kak Andi katakanlah, apa yang kak Andi mau dari kami, kami pasti akan berusaha memenuhinya, asalkan rekaman video itu jangan di laporkan."
ucap Novi berusaha bersabar dan tersenyum manis.
Andi hanya menanggapinya dengan tersenyum dingin dan berkata,
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan aku tidak perduli."
"Permintaan ku sangat sederhana, yaitu selama Viona kuliah di kampus ini, kalian tidak boleh mengganggunya."
"Selama OSPEK ini, kalian harus menjaga dan melindunginya dari siapapun."
"Bila sampai terjadi sesuatu dengan nya, ku jamin kalian pasti sangat tidak ingin melihat yang akan terjadi pada diri kalian."
ucap Andi penuh dengan ancaman yang tidak main-main.
Hal itu membuat nyali mereka berlima ciut.
"Bagaimana kalian sanggup ?"
tanya Andi dingin.
"Ba..baik kak..!"
jawab mereka serempak dan sedikit gugup.
Andi mengangguk membalikkan badannya berjalan meninggalkan ruangan itu tanpa banyak basa-basi.
Andi memang seperti itu, dia penyabar pengalah dan sopan, tidak perduli bagaimana orang memandang dan menghinanya, dia tidak perduli.
Selama mereka tidak main tangan mengasarinya, Andi akan memilih mengalah dan menjauhi masalah.
Tapi Andi tidak akan membiarkan siapapun menganggu dan menyakiti Viona.
Sambil berjalan Andi teringat dengan kejadian
Tujuh tahun yang lalu,
Waktu itu Viona masih duduk di bangku SMP kelas satu.
Ada seorang kakak kelas yang seangkatan dengan Andi, pria itu mendekati Viona dan menyatakan perasaannya ke Viona.
Tapi Viona menolak nya, pria itu tersinggung, dia menghubungi beberapa teman SMK nya dari luar.
Mereka menunggu dan menghadang Viona saat pulang sekolah .
__ADS_1
Untungnya hal ini diketahui oleh Ibu Wali kelas Viona dan menolongnya.
Sehingga Viona selamat dari pembullyan mereka.
Andi yang keesokan harinya mendengar hal itu, setelah bubar sekolah Andi seorang diri menghampiri teman seangkatannya itu.
Pria itu kebetulan sedang nongkrong merokok dengan 3 orang teman SMK nya.
Andi seorang diri mendatangi mereka tanpa banyak cakap, Andi langsung menghajarnya hingga babak belur, di depan teman-teman SMK nya.
Ketiga orang anak SMK yang jauh lebih tua dan lebih besar dari Andi.mencoba menghalangi dan mengeroyok Andi.
Tapi Andi dengan tenang menghadapi mereka bertiga dan membuat Ketiga orang itu babak belur menyusul teman seangkatannya.
Setelah puas Andi pun pergi meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara, meninggalkan ke 4 orang itu yang terkapar diatas tanah dengan kondisi menyedihkan.
Sejak kejadian itu, nama Andi sempat populer dan ditakuti oleh teman seangkatannya.
Beberapa pentolan murid nakal yang seangkatan dengan Andi, menjadi penasaran dan ingin mencoba Andi.
Tapi Andi tidak pernah mau melayani mereka, Andi memilih mengalah dan tidak pernah melayani tantangan mereka.
Hingga akhirnya mereka jenuh sendiri, dan menganggap Andi cuma pengecut yang tidak perlu diperhitungkan oleh mereka.
Nama Andi pun kemudian perlahan-lahan tenggelam tidak populer lagi dan di lupakan oleh orang-orang.
Teringat kejadian saat itu, Andi pun tersenyum sendiri, kelihatannya saat ini kejadian seperti 7 tahun lalu pun kembali berulang.
"San tumben mereka tidak menegur maupun memanggil ku untuk di marahin."
"Mungkin mereka tidak tahu kali ya ? aku nya datang telat.."
"Tidak tahu kepala lu, "
ucap Santi sewot sambil menggunakan sumpitnya mengetuk kepala Viona.
Meski ringan tangan dan mulut nya judes, tapi Santi adalah teman yang paling dekat dengan Viona.
Santi selalu siap membantu Viona kapanpun dia membutuhkannya.
Viona juga sangat menghargai sahabatnya yang selalu tulus dan sangat bisa dipercaya dan di andalkan ini.
Sejak SD hingga kuliah mereka selalu duduk sebangku dan sangat kompak.
Bahkan bila mereka pisah kelas sekalipun setiap jam istirahat dan bubar sekolah kedua orang itu pasti akan kembali kumpul bersama.
"Aku jelas-jelas melihat mereka melihat kok, pas kamu datang telat dan masuk kedalam barisan."
"Tapi aku juga tidak tahu kenapa mereka pura-pura tidak melihatnya.?"
"Tapi baguslah dengan begini kamu jadi tidak perlu nerima hukuman, bukankah itu sangat bagus.?"
__ADS_1
"Syukuri aja lah Vi tidak perlu pusing-pusing memikirkannya."
Viona mengangguk sambil meneruskan makan nya.
Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya menatap Santi dan berkata,
"San, semalam siapa yang mengantar aku kembali ke kost ?"
Santi tidak menjawab dia malah bertanya balik,
"Kamu sebenarnya sehabis bubar OSPEK kamu pergi kemana."
"Kenapa bisa sampai teler dengan seluruh tubuh bau muntahan dan alkohol sih.?"
Viona menghela nafas panjang kemudian dia dengan suara pelan menceritakan semua yang dia alami bersama Ketiga senior wanita itu.
Viona mengakhiri ceritanya sampai bagian dia teler dan tidak tahu apa-apa lagi.
"Tapi samar-samar aku seperti bermimpi sedang di gendong dan nemplok di punggung seseorang.."
ucap Viona polos.
"San kamu belum jawab siapa yang ngantar aku pulang semalam."
tanya Viona kembali sambil meletakkan kotak makanannya yang sudah kosong.
Santi teringat pesan Andi semalam, sambil tersenyum pahit dia berkata,
"Yang mengantar mu pulang sama dengan orang yang maju menolong mu pagi kemaren."
Santi sengaja tidak menyebut namanya, dengan begitu dia tidak perlu membohongi sahabatnya.
Biarlah Viona yang menebaknya sendiri, karena di hari itu selain Rio yang datang, Santi yang bermata jeli, juga melihat sesosok pria lain yang ikut maju.
Waktu itu Santi belum sadar, baru semalam saat bertemu Andi lah dia baru sadar.
orang yang juga berada di lapangan saat itu ingin menolong Viona ternyata adalah Andi.
Pagi ini pun para mentor begitu jinak Santi yakin pasti ada hubungannya dengan Andi.
Santi masih ingat dengan jelas tujuh tahun yang lalu, Andi yang biasa pendiam dan pengalah tiba-tiba berubah menjadi seperti seekor Singa marah.
Santi melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Andi seorang diri maju menghajar 4 orang yang bertubuh dua kali lebih besar darinya hingga babak belur.
"Ohh..! ternyata dia.."
ucap Viona senang dengan sepasang pipinya merah seperti tomat.
Santi tahu apa yang sedang di pikirkan Viona, dia hanya diam saja dan tersenyum pahit.
Santi tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Viona, semua ini memang kebodohan Andi sendiri yang tidak pernah berani berterus terang.
__ADS_1
Lagipula gadis mana yang tidak akan merasa senang di tolong oleh seorang pria setampan dan sekeren Rio.