
"Ko Ahong berapa bayaran per pertarungan bila menang ?"
tanya Andi tertarik.
Ko Ahong menatap Andi dengan serius dan berkata,
"Per pertarungan hadiahnya bisa mencapai 50 juta hingga 200 juta, tidak ada kepastian..."
"Tapi aku sarankan kamu jangan mencobanya deh, lebih baik konsentrasi berlatih, sambil menunggu kompetisi resmi saja.."
ucap Ko Ahong serius.
Andi menanggapinya dengan tersenyum, lalu berkata,
"Ko Ahong pernah ikut ?"
Ko Ahong maju merangkul bahu Andi dan berkata,
"Kamu kenalan ponakan ku Vero, jadi aku akan terus terang pada mu."
"Tentu saja aku pernah ikut, tapi ini rahasia.."
bisik ko Ahong..
"Karena bila ketahuan asosiasi, aku bisa di diskualifikasi dan gelar bisa di copot."
ucap Ko Ahong setengah berbisik dengan serius.
"Lokasinya di mana ko Ahong, kalau aku mau ikut gimana caranya ?"
tanya Andi memelankan suaranya.
"Tempatnya tidak tetap, selalu berubah-ubah, karena ilegal, tapi bila kamu ingin pergi lihat-lihat kamu bisa hubungi Vincent.."
"Siapa itu Vincent ?"
tanya Andi semakin penasaran.
"Ikut dengan ku ke kantor, aku akan berikan kartu namanya, kamu urus sendiri dengan dia.."
ucap Ko Ahong memberi kode agar Andi ikut dengannya kembali ke ruang kantornya.
Baru saja mereka berdua ingin kembali ke ruang kantor ko Ahong.
Tiba-tiba dari arah meja resepsionis, ada yang teriak,
"Hei Ahong apa kabar ? sombong kali kau..!?"
"Ada teman lama datang bukannya disambut, malah mau di tinggal pergi, bedebah kali kau..!"
ucap Pria berkepala plontos dan berjenggot itu dengan gaya seenak perut.
"Sebentar ya, di... biang masalah datang, aku temui dulu."
"Biar gak tambah ramai.."
ucap Ahong kemudian berjalan menuju pria plontos itu.
"Hei Ginting waktu mu banyak juga, sampai datang mengunjungi gubuk derita ku."
"Ada angin apa ? yang membawa mu datang kemari..."
__ADS_1
ucap Ahong sambil tersenyum dingin.
Di belakang Ginting, Ahong melihat dia datang membawa kru wartawan, seperti nya hari ini bila tidak buat onar, dia tidak akan bersedia pergi.
"Kelihatannya kamu tidak datang sendiri, ada apa ini ?"
tanya Ahong dengan suara dingin.
Si Ginting sambil tertawa, menoleh kearah para wartawan yang menjadi temannya dan berkata,
"Lihat juara bertahan yang telah keok, dan mengancam ku, akan melakukan pertarungan ulang."
"Kini aku datang di hadapannya, dia malah tanya mau apa ?"
"Bego banget ya ?,... nih dengerin dasar bego."
ucap Ginting sambil tertawa-tawa bersama wartawan yang di bawanya.
"Aku datang kesini, tentu untuk memenuhi tantangan mu secara pribadi biar kamu puas keok nya.'
ucap Ginting sambil menunjuk nunjuk wajah Ahong.
Dia datang memang sengaja ingin membuat masalah agar cepat tenar, Ahong tahu itu dengan pasti.
Dia sebenarnya malas melayani orang narsis seperti ini, tapi dia juga tidak bisa mundur.
Nanti orang ini semakin jadi jadi dan mengira dirinya takut.
Ahong langsung menepis tangan Ginting yang berada di depan wajahnya.
Tapi Ginting menarik tangannya dari tepisan Ahong dan kembali menunjuk kearah muka Ahong sambil tertawa mengejek.
Emosi Ahong mulai terpancing tatapan matanya menjadi semakin dingin, seperti siap menghabisi Ginting saat itu juga.
Tapi dia masih bisa menahan emosinya dan berkata,
"Kalau kamu menghendaki pertarungan, suruh manajer mu kemari untuk bicarakan jadwal kita secepatnya."
"Tak perlu sok jagoan yang tak berguna disini."
"Tempat ini tidak menerima kedatangan mu, jadi pergi lah.."
ucap Ahong dingin.
"Ha...ha...ha...ha..! dia takut lihat ha...ha...ha...dasar chicken."
"Kalian lihat kan, dia cuma garang kalau di kamera saja, lihat bila di luar dia jadi ciut gini.."
ucap Ginting semakin menjadi-jadi.
"Baiklah kalau kamu mau selesaikan di sini juga boleh.."
"Maria berikan surat bebas resiko pertarungan hidup mati maupun cacat padanya."
ucap Ahong sambil menoleh kearah resepsionis nya yang berbody bohay itu.
Maria mengangguk cepat, dia segera mengeluarkan selembar kertas yang ditempeli materai.
"Tandatangani itu, setelah itu kita boleh bebas naik ring.."
ucap Ahong dingin, sambil menunjuk kertas di tangan Maria.
__ADS_1
Ginting tertawa masam, sebenarnya tujuan dia kemari.
Bukan benar-benar ingin bertarung hidup mati dengan Ahong, dia juga rada ngeri dengan pukulan Ahong yang sangat keras.
Tempo hari dia menang juga karena secara kebetulan saja, dia berhasil membalikkan keadaan memanfaatkan stamina Ahong yang terkuras.
Bila keras lawan keras, dia pasti sudah tamat di tangan Ahong tempo hari.
Tujuan dia sebenarnya datang kemari hanya ingin memanasi Ahong,. karena ditangan Ahong masih ada satu lagi sabuk gelar juara, yang belum berhasil dia rebut dari tangan Ahong.
Dengan pancingan ini, dia berharap Ahong segera melayani tantangan terbuka nya nanti, untuk memperebutkan sabuk gelar juara yang masih ada di tangan Ahong.
Tidak di sangka di luar prediksinya Ahong malah menerima tantangannya, semua itu di luar perhitungan nya.
Tapi demi gengsi, dia terpaksa menandatanganinya, agar tidak terlihat memalukan.
Untuk melampiaskan kekecewaan dan kekesalannya, Ginting langsung merencanakan niat tak terpuji untuk memancing emosi Ahong.
Agar saat bertarung nanti, dia bisa memanfaat emosi Ahong kembali menguras stamina Ahong dan mengalahkannya.
Berpikir seperti itu Ginting pun segera melaksanakan rencana liciknya.
Dia segera menerima pulpen dari tangan Maria, kemudian dengan gaya nya yang arogan sambil tertawa mengejek dia asal menandatangani surat tersebut.
Saat mengembalikan pulpen dan kertas ke tangan Maria, dia dengan kasar meremas dada dan pantat Maria.
"Aihhh...!!"
Maria menjerit kaget, dengan wajah merah,
dia langsung mundur menjauh ketakutan, Maria mengigit bibirnya sendiri menahan sakit di bagian dadanya, yang diremas secara kasar oleh Ginting.
Tanpa sadar Maria sudah menitikkan air matanya menahan rasa sakit, malu dan marah, di lecehkan oleh Ginting.
"Kamu..!!"
teriak Ahong marah sambil mengangkat tinjunya, ingin menghajar Ginting.
Tapi gerakannya tertahan oleh ucapan Ginting,
"Wow...wow...wow...tahan diri ku dasar bloon."
Di sini banyak orang, tar kamu bisa melukai orang lain."
"Kalau mau selesaikan lebih baik kita keatas ring saja.."
ucap Ginting sambil tertawa mengejek.
Lalu dia melangkah keatas ring duluan, sambil menanti Ahong di sana, dia melepaskan baju dan celana jeans nya.
Sambil tersenyum mengejek dia memberi kode agar Ahong menyusulnya.
Andi sangat emosi saat melihat Ginting melakukan pelecehan terhadap Maria.
Dia jadi teringat dengan perbuatan gorila besar pada Viona, matanya berkilat dengan ***** membunuh.
Di matanya wajah Ginting berubah menjadi wajah gorila besar itu.
Saat Ahong ingin naik keatas Ring melayani tantangan Ginting, Andi menahan pundak Ahong dan berbisik.
"Serahkan bajingan ini pada ku, ko Ahong jangan terpancing, dia sudah merencanakannya, dia ingin memancing emosi ko Ahong lewat Maria."
__ADS_1