AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KEANEHAN DATA KEUANGAN MR BRONSON


__ADS_3

Andi menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Marco, dia lalu melipat lipat halaman, yang dia perlukan.


Setelah itu dia menyerahkannya kembali ke Marco dan berkata,


"Maaf merepotkan anda, pak Marco..."


"Ohh tidak apa apa pak Andi, ini sudah bagian dari tugas saya, silahkan di tunggu sebentar pak Andi."


ucap Marco sopan.


Lalu dia memanggil sekretaris nya lewat telpon, untuk datang menghadap keruangan nya.


Tak lama kemudian, terdengar bunyi ketukan di pintu.


"Masuk..!"


ucap Marco.


Pintu pun terbuka, seorang sekretaris yang muda dan cantik melangkah memasuki ruangan pak Marco.


Dia menyapukan pandangannya kedalam ruangan sejenak, sebelum melangkah menghampiri pak Marco.


"Ya pak, ada yang bisa Lia bantu .?"


"Ini tolong semua berkas yang ada lipatan nya, di foto copy dan diurutkan kembali ya, lalu segera antarkan lagi ke saya.."


ucap pak Marco, sambil menyerahkan berkas ditangannya ke sekretaris nya, yang bernama Lia itu.


"Baik pak,.. "


ucap sekretaris Lia itu dengan kepala tertunduk.


Tapi saat hendak meninggalkan ruangan, diam diam dia melemparkan kerling genit kearah Berry.


Berry langsung membalasnya dengan senyuman paling genit yang dia miliki.


Lia menanggapinya dengan berjalan dengan pinggul bulat yang bagaikan gitar, melenggang lenggok di hadapan Berry.


Melihat hal itu, Berry sampai menelan ludah, hingga Adam Apple nya turun naik.


Andi yang menyaksikan hal itu, hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.


Tak lama kemudian, Lia sudah kembali lagi ke dalam ruangan, mengantarkan berkas berkas yang sudah dia fotocopy, dan rapikan untuk di kembalikan ke atasannya.


Marco mengecek nya sebentar kemudian berkata,


"Makasih Lia.."


Lia mengangguk hormat, lalu dia pun meninggalkan ruangan tersebut.


Marco kemudian menyerahkan berkas yang sudah di fotocopy, oleh Lia ke Andi.


Andi menerimanya dan berkata,


"Terimakasih banyak pak Marco, maaf kalau kedatangan kami membuat repot bapak.."


Marco sambil tertawa berkata,

__ADS_1


"Jangan sungkan pak Andi, saya cuma menjalankan tugas saja, mana ada repot.."


Andi mengangguk, lalu menoleh kearah Alferd dan berkata,


"Pak Alfred terimakasih banyak, kami dari sini mau langsung pulang, tolong sampaikan salam saya untuk Mr Bronson.."


Alfred mengangguk kecil, lalu sambil tersenyum ramah dia berkata,


"Silahkan pak Andi, mari saya antar, nanti akan saya sampaikan salam anda sepulang dari sini.."


Alfred pun bergerak mengantar Andi meninggalkan ruangan Marco.


Berry pun mendorong kursi roda Andi sambil mengikuti langkah Alfred dari belakang.


Saat melewati bagian depan ruangan Marco, terlihat Lia berjalan pura-pura berpapasan dengan Berry.


Dia lalu menyelipkan secarik kertas kecil kedalam tangan Berry.


Berry melihat sekilas kedalam telapak tangannya, ternyata adalah sederetan angka nomor telpon Lia.


Dengan senang hati Berry langsung menyimpannya ke dalam saku jas.


Sepulang dari kunjungan pabrik, Andi langsung terlihat sibuk di depan komputer, hingga larut malam.


Beery sendiri tidak terlalu ambil pusing, dia memilih membiarkan Andi sibuk sendiri.


Sedangkan dia sendiri sehabis mandi mencoba menulis dan mengirim pesan ke nomor, yang di berikan oleh Lia.


Mencoba peruntungan nya, siapa tahu ajakkan nya berbalas.


Ternyata Berry sedang beruntung, pesannya yang mengajak Lia, untuk janjian bertemu makan malam.


Berry dengan perasaan berbunga bunga langsung meluncur ke lokasi, meninggalkan Andi yang sedang sibuk di depan komputer.


Andi sendiri sibuk mengumpulkan berbagai data keuangan perusahaan Mr Bronson, tapi semakin banyak data yang terkumpul semakin tidak cocok datanya dengan laporan keuangan dari Marco.


Bila di bandingkan dengan data yang di dapatkan nya dari laporan ke perpajakan negara.


Dan laporan nya ke bursa pasar saham di mana perusahaan tersebut terdaftar di sana sangat berbeda jauh.


Tapi bila di bandingkan antara laporan bursa saham dan laporan perpajakan justru sangat klop.


Andi pun mulai curiga dengan data keuangan, yang di berikan oleh Marco kepadanya.


Dengan berdasarkan laporan bursa saham, Andi mulai membuat data kalkulasi, yang akhirnya muncul data perkiraan harga pabrik yang sudah bangkrut, dan sudah tidak beroperasi lagi itu adalah sekitar US S 50 juta.


Dengan mempertimbangkan harga tanah dan berbagai macam mesin bekas, yang di gunakan oleh pabrik itu untuk proses produksi.


Setelah selesai mengkalkulasi semua nya, hingga jelang pagi,.


Andi yang merasa sedikit lapar, dia pun memutuskan ingin keluar rumah, pergi cari sarapan.


Tapi baru saja Andi membuka pintu rumah, dia melihat Berry sedang tersenyum senang keluar dari mobil bututnya, sambil membawa sebuah kantong di tangannya.


Melihat Andi hendak keluar rumah, Berry pun bertanya dengan heran.


"Mau kemana di,.. pagi pagi gini..?"

__ADS_1


Andi sambil tersenyum berkata,


"Pergi sarapan lah, mau kemana lagi..?


"Aku kan gak seberuntung kamu, pergi kencan dari malam sampai pagi, untung aja masih ingat jalan pulang.."


ucap Andi sambil tertawa meledek Berry.


Berry sambil tertawa berkata,


"Kamu sendiri yang milih sembunyi di sini, meninggalkan calon istri mu yang cantik dan baik itu.."


"Salah siapa coba..?"


Mendengar serangan balasan dari Berry, Andi pun langsung terdiam.


ekspresi wajah nya langsung berubah muram dan menyedihkan.


Melihat hal ini Berry pun merasa sedikit menyesal atas ucapan nya yang sedikit kelewatan.


Sambil menghela nafas panjang Andi berkata dengan nada sedih.


"Apa kamu pikir aku rela dan suka meninggalkan nya, bila bukan karena sepasang kaki yang tak berguna ini.."


"Aku juga tidak akan pernah pergi dari sisinya.."


ucap Andi sambil tersenyum perih, sambil memalingkan wajahnya.


Berry buru buru menghampiri Andi merangkulnya dan berkata,


"udah.. udah.. aku yang salah, bicara gak pakai otak.."


"Ini aku beli sarapan untuk kita berdua, ayo kita masuk dan makan di dalam.."


"Ada sedikit informasi penting yang kudapatkan dari Lia, untuk mu.."


Andi mengangguk sambil berusaha tersenyum dia berkata,


"Baiklah,.. hitung hitung kamu masih punya nurani, masih ingat belikan sarapan untuk ku.."


"Ayo kita masuk, kita makan lupakan semua kesedihan masa lalu, yang tidak mungkin bisa kembali lagi terulang.."


"Dia di sana sudah menjadi milik siapa, kita disini masih bersedih dengan bodohnya.."


"Lebih baik hidup begini sendirian jauh lebih baik, lama lama juga akan terbiasa, benar tidak ?"


ucap Andi berusaha menghibur hatinya sendiri.


Berry tidak berani berkata apa apa, selain buru buru mendorong kereta Andi masuk kembali kedalam rumah.


Tanpa banyak bicara, Berry langsung menyiapkan mangkuk dan sendok, untuk sarapan mereka berdua.


"Ayo di,.. di cicipin bubur ikannya selagi panas, dikota antah berantah gini, makanan beginian aja harus antri hingga hampir satu kilometer jauhnya.."


ucap Berry sambil menggelengkan kepalanya.


Andi tersenyum pahit dan berkata,

__ADS_1


"Sayang kaki ku seperti ini, tidak praktis untuk masak masak.."


___________________________________


__ADS_2