
Papa Violin mengantar Violin hingga naik ke pelaminan dan disambut oleh Andi yang menyambut tangan Violin dengan lembut, lalu membimbingnya berdiri disebelahnya.
Kedua insan itu menghadap kearah pendeta yang berdiri di hadapan mereka.
Untuk membantu mereka dalam prosesi pemberkatan pernikahan, secara sah di.mata tuhan dan agama kepercayaan mereka.
Pendeta itu mulai memberikan sedikit nasehat kepada kedua insan.
Setelah itu dia pun berkata, sambil tersenyum,
"Biar sekali ini tidak terulang kejadian seperti kemaren, lebih baik saya akan mulai dari pengantin wanita nya saja lebih dulu.."
Mendengar ucapan pendeta itu, otomatis wajah Violin pun menjadi merah dan tertunduk malu.
Sedangkan Andi yang mendengarkan hal itu malah tersenyum lebar.
Setelah berdehem menahan senyum pendeta itu pun berkata,
"Saudari Violin bersediakah anda menikah dan menjadi istri tercinta dari saudara Andi yang hadir di sini.?"
"Untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang hingga selama lamanya."
"Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit,untuk saling mengasihi dan menghargai, hingga maut memisahkan kalian berdua..?"
tanya pendeta itu sambil menunggu jawaban dari Violin.
Violin dengan wajah merah dan kepala tertunduk, menganggukkan kepalanya dengan tegas dan berkata,
"Saya bersedia,.."
Andi pun maju memegang jari manis sebelah kanan Violin dengan hati-hati, dia memasangkan cincin tersebut melingkar di jari Violin.
Violin terus menatap kearah ujung jari manisnya dengan dipenuhi rasa bahagia.
Bibirnya terus menyunggingkan senyum manis penuh kebahagiaan.
Setelah Andi menyelesaikan tugas nya, kini pendeta itu menghadap kearah Andi dan berkata,
"Saudara Andi bersediakah anda menikahi dan menjadi suami tercinta dari saudari Violin yang hadir di sini.?"
"Untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang hingga selama lamanya."
"Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit,untuk saling mengasihi dan menghargai, hingga maut memisahkan kalian berdua..?"
tanya pendeta itu sambil menunggu jawaban dari Andi.
Andi menoleh kearah Violin menatap nya dengan tatapan di penuhi rasa bahagia dan cinta, Andi pun berkata,
__ADS_1
"Saya bersedia,."
Kini sambil tersenyum gembira, Violin maju memasangkan cincin pernikahan di jari manis sebelah tangan kanan Andi.
"Mulai hari ini kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri di bawah saksi Tuhan.."
"Berilah ciuman sebagai tanda cinta kalian bagi pasangan kalian masing masing."
ucap pendeta itu sambil tersenyum gembira.
Begitu Andi dan Violin sama sama maju saling memberikan ciuman mesra di bibir.
Suara tepuk tangan meriah langsung mewarnai seluruh ruangan pemberkatan itu.
Dody dan Rina langsung bergerak menembakkan kertas kertas kecil berkilauan berwarna warni di udara.
Tepat diarahkan ke atas kepala kedua pasangan berbahagia itu.
Suasana di dalam ruangan tersebut. pun terlihat diliputi kegembiraan dan kebahagiaan.
Di baris depan terlihat kedua orang tua Andi dan Violin sama sama Tersenyum bahagia dan turut bertepuk tangan dengan gembira.
Di baris kedua terlihat Santi James juga putra mereka, ikut bertepuk tangan dengan gembira.
Di sebelah mereka juga hadir Berry Davina, Vero Richard juga ada Doni Toni Marco dan Peter, mereka masing-masing hadir dengan pasangan mereka.
Dragon dan Sarah sebagai pendamping pengantin, mereka berdiri di samping kiri kanan tidak jauh dari mimbar.
Semua orang bertepuk tangan dengan gembira.
Hanya terlihat putri Bos Wang Nicole yang terus menatap kearah Andi dengan sepasang mata basah, bibirnya memaksakan diri untuk tersenyum dan ikut bertepuk tangan dengan meriah.
Tapi dapat terlihat dengan jelas, betapa sedihnya gadis itu.
Harus mengantar dan melepaskan Andi ke pelukan wanita lain.
Nicole sungguh menyesal, mengapa dia harus bertemu Andi setelah Andi lebih dulu bertemu dengan wanita yang kini menjadi istrinya.
Mungkin bila dirinya yang terlebih dahulu bertemu dengan Andi, kemungkinan akhir ceritanya akan berbeda.
Kini dia hanya bisa bermimpi, di kehidupan mendatang, dia akan menjadi yang pertama bertemu dengan Andi.
Andi sendiri terlalu gembira dia tidak memperhatikan hal itu sama sekali, begitu pula dengan Violin, dia juga terlalu gembira dan bahagia.
Sehingga mereka berdua hanya fokus pada pasangan mereka, terus bergandengan tangan dengan mesra.
Perlahan lahan mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan pemberkatan, sambil melambaikan tangan mereka, kearah para tamu yang datang menghadiri acara prosesi pernikahan mereka.
__ADS_1
Andi dan Violin berjalan keluar dari ruangan pemberkatan, di kawal oleh Sarah dan Dragon, langsung menuju mobil pengantin mereka.
Sesaat kemudian mobil pengantin langsung membawa Andi dan Violin, langsung menuju Hotel The Ritz Carlton.
Tempat di selenggarakan nya pesta pernikahan Andi dan Violin.
Andi dan Violin juga kedua orang tua mereka, semuanya memang mendapatkan jatah menginap gratis di hotel mewah tersebut selama 3 hari.
Ini adalah penawaran khusus yang di berikan oleh pihak marketing hotel, kepada EO penyelenggara pesta pernikahan Andi dan Violin.
Yang telah memilih menyelenggarakan pesta pernikahan dengan menggunakan fasilitas gedung all in dari pihak hotel Ritz-Carlton.
Andi sendiri tidak ambil pusing, dia tinggal mengikuti saja semua pengaturan dari pihak EO, sehingga dia tidak perlu sibuk memikirkan ini itu.
Hanya tahu bayar dan semua sudah beres, Violin pun tidak perlu ikut stress memikirkan ini itu yang ribet.
Terhadap hal lain Andi selalu hati hati dan hemat, tapi terhadap kebahagiaan pasangan nya, ini adalah sesuatu yang spesial.
Andi tidak akan berpikir untuk menghemat hemat, yang penting semua gembira dan bahagia itu yang paling penting, pikir Andi.
Dragon dan Sarah hanya mengantar Andi dan Violin sampai di depan kamar hotel saja.
Setelah itu mereka pun bebas tugas sementara, hingga nanti pukul 6 sore, mereka baru kembali ke hotel, untuk bersiap-siap menemani Andi dan Violin menuju ruang resepsi pernikahan, yang di selenggarakan di hotel ini juga.
Violin begitu masuk kedalam kamar, sambil menggelayut manja di tangan Andi dia pun berkata,
"Kak aku lapar dan ngantuk, gimana ini ?"
"Sekarang baru jam 11 siang, acara resepsi masih ada 7 sampai 8 jam lagi."
"Pakaian dan sanggul rambut ini bikin ribet kak."
"Mau baring pun susah.."
Andi tersenyum sabar dan berkata,
"Ok,.. ok,.. bentar ya, biar kakak telpon EO nya, biar kita lihat ada caranya gak, soal gaun dan sanggul itu.."
"Kalau soal makan tenang aja, biar kakak bel ke restoran hotel aja, Lin kira kira pengen makan apa..?'
tanya Andi sabar.
"Bebaslah kak, yang penting makan, Lin udah laper banget kak."
"Ok,.. ok,.. bentar ya, kakak bel ke restoran dulu.."
ucap Andi sambil memencet tombol telpon yang tersedia di kamar.
__ADS_1