
Sepanjang jalan Andi menyetir, Violin, mulai sibuk merinci semua barang yang harus mereka beli.
Sesekali dia akan bertanya berkonsultasi kepada Andi baru dia menulisnya.
Andi sambil menyetir selalu menanggapi dan memberi saran dengan sabar kepada kekasih kecilnya itu.
Akhirnya mereka tiba di mall besar, begitu masuk kedalam mall, Violin pun berkata,
"Kita kemana dulu sayang,?"
Violin merangkul lengan Andi dengan mesra sambil menunggu jawaban dari Andi.
Dia terlihat sangat ceria dan berbahagia, sangat jauh berbeda dengan kesehariannya dulu.
Dimana dia selalu terlihat dingin jarang bicara,.dan selalu sibuk dan serius bekerja.
Andi juga mulai berubah senyumnya lebih lepas, tidak banyak beban dan pikiran yang biasanya selalu menyelimuti wajahnya.
Guratan kesedihan mendalam disekitar sudut matanya, kini juga jauh memudar, tidak begitu jelas terlihat lagi.
Andi menatap Violin dan berkata,
"Ini kali pertama aku kesini, aku juga tidak tahu mau kemana.."
"Yang jelas aku hari ini mau cari cincin kalung dan anting-anting di toko perhiasan, toko perhiasan ada di sebelah mana..?"
Violin tersenyum gembira, dia segera menarik lengan Andi dan berkata,
"Di sini,.. di sini, ada toko perhiasan yang barangnya keren keren, aku sering datang lihat lihat."
"Tapi cuma lihat lihat selalu gak jadi beli, karena gak ada yang belikan.."
ucap Violin sambil bersungut-sungut.
Andi sambil tersenyum berkata menggodanya,
"DoDo kan ada, kalau kamu minta seluruh toko berikut isinya juga akan dia beli untuk mu.."
Violin langsung cemberut dan mencubit lengan Andi dengan gemas, lalu berkata dengan ketus.
"Aku tidak mau,.. aku tidak menyukainya.."
"Gara gara dia aku jadi harus menunggu 5 tahun lebih,.."
"Hampir saja aku kehilangan kamu selamanya, untung Berry masih punya sedikit nurani.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Baiklah, hari ini aku yang akan membelikannya untuk mu, sebagai ganti permintaan maaf dari ku.."
"Bagaimana kamu mau kan..?"
Violin kembali tersenyum gembira, dia tidak menjawab hanya buru buru menarik tangan Andi untuk naik lift menuju lantai 3.
Meski dia tidak berkata apa-apa tapi dari ekspresinya, Andi tahu Violin sudah tidak kesal lagi..
Setelah tiba di lantai 3 mereka berdua sambil berangkulan mesra memasuki sebuah toko perhiasan yang sangat besar.
Seorang pelayan cantik buru buru menghampiri Andi, sambil tersenyum manis, memberi hormat dengan membungkukkan badannya dia berkata,
"Ada bisa kami bantu Pak,.. Bu,.."
Andi tidak banyak bicara, dia hanya tersenyum dan membiarkan Violin berkonsultasi sendiri dengan pelayan itu.
__ADS_1
Andi hanya berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Pelayan itu akhirnya membawa Andi tiba di sebuah meja etalase kaca yang di dalamnya terisi berbagai perhiasan berkilauan.
Pelayan itu mengeluarkan berbagai perhiasan dari lemari kaca yang ada di belakangnya, menjejerkan nya diatas meja kaca etalase.
Untuk dipilih pilih Violin, dia membantu memperkenalkannya satu persatu.
Gadis pelayan itu cukup menguasai pengetahuan produk produk yang dia tawarkan.
"Di ,.. gimana yang ini cantik gak ?"
"Kalau yang ini..?"
"Ysng ini gimana ?"
ucap Violin sambil membanding bandingkan dan berkonsultasi dengan Andi.
Andi dengan sabar membantu mengamati dan memberikan pendapatnya.
Setelah cukup lama memilih akhirnya pilihan Violin jatuh pada 2 pilihan.
Pilihan pertama sangat keren tapi harganya sangat fantastis.
Barang pilihan kedua, harganya lebih terjangkau tapi barangnya jauh lebih sederhana.
Setelah menimang lama akhirnya Violin memilih barang kedua.
Andi tidak berkomentar, hanya saja saat pembayaran di mana Violin sedang berkeliling melihat lihat perhiasan jenis kalung.
Andi pun berkata kepada pelayan yang melayani mereka.
"Tolong bungkus kedua nya, dua duanya aku mau.."
Pelayan itu mengangguk gembira, dia segera membungkusnya, lalu membawa kartu Andi ke kasir.
Tak lama lemudian dia sudah kembali lagi ke hadapan Andi,.dia dengan penuh hormat mengembalikan black card Andi.
Dan meminta Andi menandatangani dua lembar nota kecil.
Andi langsung menandatangani kedua nota kecil, setelah itu dia menyusul kearah Violin yang sedang asyik memilih kalung.
Di sini juga sama setelah memilih cukup lama, Violin akhirnya cuma pilih yang harga standar, begitu pula di bagian anting.
Tapi saat pembayaran Andi membungkus keduanya.
Saat mereka keluar dari toko perhiasan Violin pun berkata,
"Barang barangnya sangat keren dan menarik, tapi harganya sangat tidak masuk akal...ya kak.?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Barang sesuai selera harga mengikutinya, ada kualitas ada harga itu dah wajar.."
"Mampu beli, gak mampu ya bawa aja kedalam mimpi."
Violin sambil tertawa berkata,
"Benar,.. benar,..San Cai,... San Cai,.."
Dia menirukan suara biksu di film film, Andi pun ikut tertawa di buatnya.
Kedua orang itu sambil bergandengan tangan melanjutkan langkah mereka.
__ADS_1
"Sekarang kemana kita kak ?"
tanya Violin sambil bergelayut manja di lengan Andi.
"Baju pengantin,.. aku ingin cari baju pengantin yang cocok untuk mu.."
ucap Andi sambil menatap Violin dengan serius.
Violin tersenyum lebar dan berkata, "Kebetulan di sini pun ada, yuk.kita turun ke lantai dua."
Andi tersenyum dan berkata,
"Kok kamu sepertinya seba tahu, padahal kamu kan begitu sibuk,..?"
Violin tertawa dan berkata,
"Aku tidak mau memberitahu mu, itu rahasia ."
Andi hanya bisa menghela nafas, kemudian sambil tersenyum dia berkata,
"Aku tahu, kamu pasti sudah lama mengincarnya benarkan ?"
Violin sambil tertawa nakal berkata,
"Aku tidak mau memberitahu mu,..wekk...!"
Lalu dia sambil tertawa mundur menjauhi Andi, kemudian memberi kode agar Andi mengejarnya.
Karena dia bergerak mundur sambil tertawa tidak melihat kebelakang, tidak sengaja dia yang bergerak mundur menabrak seorang anak sekolah yang sedang mengikat tali sepatunya.
Spontan tubuh Violin terjengkang kebelakang kehilangan keseimbangan.
Untung Andi bergerak cepat, melesat menyangga pinggangnya, sehingga Violin pun selamat luput dari jatuh terjengkang yang me memalukan dan menyakitkan.
Violin yang belum hilang kagetnya wajahnya sedikit pucat.
Andi buru buru memberi hormat ke anak sekolah itu dan berkata
"Maaf dek , tidak sengaja..maaf ya..?"
"Anak sekolah itu mengangguk dan berkata,
"Tidak apa apa om.."
"Santai aja,.."
ucap pemuda itu kemudian berlalu dari sana.
Andi kini menatap kearah Violin yang berada dalam pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa kan,.. sayang ?"
tanya Andi khawatir.
Violin sambil tersenyum malu menggelengkan kepalanya.
Andi mengangguk dan berkata,
"ya sudah yuk kita turun ke lantai dua.."
Violin mengangguk, lalu dia mengikuti langkah Andi yang sambil merangkulnya, berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dua.
Sampai di lantai dua, mereka berdua langsung berjalan memasuki sebuah butik, yang memajang banyak baju pengantin di etalase toko nya.
__ADS_1
Setelah berbicara sebentar, Andi dan Violin langsung di antar oleh pelayan toko, langsung menuju sebuah ruangan terpisah tempat ngepas pakaian pengantin.