AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MENGANTAR VIOLIN PULANG KE RUMAH


__ADS_3

Andi melewati lawan yang sudah terkapar tidak berkutik itu.


Ketiga orang yang sedang memegangi kaki tangan dan mulut Violin, mereka sangat terkejut.


Saat melihat Andi begitu mudah melumpuhkan rekan mereka, yang mereka semua ketahui tidaklah lemah.


Mereka akhirnya dengan terpaksa melepaskan pegangan tangan mereka pada Violin, lalu mereka bertiga berdiri menghadap ke arah Andi, sambil mengeluarkan pisau lipat dari saku celana mereka masing-masing.


Dengan memutar mutar pisau lipat di tangan mereka, mereka bertiga bergerak mengepung Andi dari tiga arah.


Violin tidak beranjak dari situ, setelah merapikan pakaian dan jaketnya, dia berdiri sambil memeluk kedua tangannya.


Menatap ke arah Andi dengan tatapan khawatir.


Andi bersikap tenang, dia sama sekali tidak terlihat takut dengan mereka.


Dia hanya bersikap waspada saja, menunggu pergerakan musuhnya.


Agar dia tahu bagaimana cara mengantisipasi dan mengalahkan mereka.


Setelah jarak mereka sudah dekat, orang di hadapan Andi menyabetkan pisaunya kearah perut Andi.


Sedangkan dua orang lainnya, bergerak menutup jalan mundur Andi dengan menusukkan pisau ditangan mereka kearah ginjal Andi.


Andi melompat ringan keatas menghindari tusukan kearah ginjal sekaligus sabetan kearah perut.


Dan memberikan tendangan kearah samping kiri dan kanan, saat tubuhnya masih melayang di udara.


Sedangkan tinjunya dia lepaskan kearah wajah orang yang ada di hadapannya.


Kedua orang yang menyerang ginjal Andi dengan pisau, mereka langsung terjengkang kebelakang, karena wajah mereka terkena tendangan Andi.


Sedangkan orang yang di depan Andi, jatuh terduduk diatas trotoar, sambil memegangi hidung dan mulutnya yang mengucurkan darah segar.


Mereka merasa bukan lawan Andi , ketiga orang itu, .lalu melemparkan pisau lipat ditangan mereka kearah Andi


Lalu mereka langsung melarikan diri dengan motor,, tanpa menghiraukan teman mereka yang masih pingsan di sana.


Andi dengan sigap menangkap ujung ketiga pisau yang dilemparkan kearah dirinya.


Dia bisa saja menghindar, tapi dia khawatir pisau nyasar itu nanti mengenai Violin.


Jadi Andi memilih menangkap nya, meski itu jauh lebih berbahaya.


Setelah ketiga pisau tertangkap, Andi langsung mengembalikannya kearah ketiga orang yang sedang berusaha kabur dengan mator gede mereka.


Pisau menancap hingga ke gangang di punggung ketiga orang itu.


Mereka menjerit tertahan, motor mereka sampai oleng ke kiri dan ke kanan, hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh.


Tapi mereka masih berhasil menstabilkan laju kendaraan mereka, sambil terus memacu motor mereka menjauhi tempat tersebut.


Mereka bahkan tidak menghiraukan luka di punggung mereka yang terus mengeluarkan darah.


Andi setelah melihat orang-orang itu sudah pergi menjauh, dia lalu menghampiri Violin dan berkata,


"Kamu tidak apa-apa Lin ?"


Violin menggelengkan kepalanya dan berkata,

__ADS_1


"Maafkan sikap ku ya kak ?"


Andi tersenyum dan menyentuh kepala Violin dengan lembut sambil berkata,


"Sudah lupakan saja, yuk kita pulang.."


"Tapi kini masalahnya gimana mau pulang, kunci motor ku di bawa mereka..?"


ucap Violin sambil melirik kearah Andi dengan sikap takut-takut.


Dia takut Andi akan memarahi dan mengomelinya serta menyalahkan dirinya.


Tapi kenyataannya tidak seperti yang dia bayangkan.


Andi bukan saja tidak memarahinya bahkan menyalahkannya pun tidak.


Andi tersenyum penuh pengertian dan berkata,


"Ya sudah gak papa, aku akan coba mengakalinya, nanti kamu bantu saya.."


Tanpa menunggu jawaban Violin, Andi menghampiri penjahat yang tergeletak pingsan di sana.


Andi meraba raba kantong penjahat itu, dan dia menemukan kunci motor dan pisau lipat milik penjahat itu.


Andi kemudian mengambil dompet penjahat itu, melihat hal itu Violin dengan penasaran menegur.


"Kak Andi mau apa dengan dompet itu ?"


"Kak Andi tidak bermaksud mencuri uang nya kan ?"


Melihat ekspresi wajah Violin yang lugu, Andi pun sambil tertawa berkata,


"Tapi kelihatannya gak ada tuh.."


ucap Andi kemudian asal melempar dompet tersebut, kearah penjahat yang masih pingsan itu.


Andi menghampiri motor gede, itu, lalu membuka jok motor nya.


Melihat isi di bawah jok motor itu, Andi tersenyum gembira.


"Lin kita dapat rejeki gratis Lin.."


ucap Andi sambil tertawa gembira.


"Rejeki apaan kak.?"


tanya Violin bingung.


Andi menunjuk kearah bawah jok motor ternyata STNK dan BPKB motor itu ada di sana.


Sambil tersenyum lebar Andi menutup jok tempat duduk itu kembali, lalu dia menghidupkan mesin motor itu.


"Lin kamu naik ke motor mu, aku akan membantu mendorong motor mu dari belakang."


"Besok pagi baru aku duplikatkan lagi kunci serap motor mu.."


"Yuk.."


ucap Andi memberi kode agar Violin naik keatas motornya.

__ADS_1


Violin ngerti maksud Andi, yang penting saat ini, Andi akan membantunya pulang ke rumah dulu.


Bila sampai rumah semua pun aman, karena kunci motor serapnya ada di rumah.


Besok pagi saat dia kesekolah Andi akan bantu dia buatkan kunci duplikatnya.


Sehingga orang tuanya tidak tahu, dia telah menghilangkan kunci motornya dan tidak akan kena marah.


Violin di dalam hati sangat berterimakasih dengan Andi yang sangat perhatian dan teliti.


Violin mengikuti permintaan Andi, dia naik keatas motornya, sesaat kemudian motornya melaju dengan pelan diiringi Andi dari belakang, meninggalkan tempat itu.


Sesekali bila motornya melambat, atau di daerah yang agak menanjak, Andi akan menempelkan kakinya di ujung knalpot motor Violin.


Lalu mendorongnya dari belakang, sambil mengendarai motor gedenya.


Pelan tapi pasti, akhirnya mereka tiba juga di depan rumah Violin.


"Kak Andi makasih Ya..."


ucap Violin sambil tersenyum dan menatap Andi dengan penuh terimakasih.


"Andi tersenyum dan berkata,


"Tidak perlu sungkan, masuklah sudah malam, bungkusan makanan nya jangan lupa."


Violin mengangguk dan berkata,


"Kak Andi mau mampir kedalam sebentar..?"


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak Lin makasih, lain kali saja sudah malam ."


"Kamu cepat masuklah..diluar mulai dingin, mungkin mau hujan.."


ucap Andi memberi kode agar Violin cepat masuk kedalam rumah nya.


Di dalam hati Andi berkata,


'"Kamu tidak tahu Lin seberapa besar keinginan hati ku untuk masuk dan bertamu kerumah mu, secara resmi dan terang-terangan."


"Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat, saat ini bila aku masuk, hanya akan menimbulkan ketegangan dan jurang salah paham yang semakin lebar."


"Aku pasti akan masuk kedalam suatu hari nanti, hanya saja tidak tahu kapan waktu itu tiba.."


Setelah melihat violin masuk kedalam rumah bersama motornya, Andi menatap ke rumah di hadapannya.


Ternyata inilah rumah tempat tinggal, kekasih yang sangat dia cintai itu.


Andi menghela nafas panjang dan kembali berkata kepada dirinya sendiri.


'Kapan aku baru bisa masuk kerumah ini melamar anak gadisnya secara resmi.?"


"Semoga saja hari bahagia itu segera tiba."


Andi kemudian memutar motornya, meninggalkan halaman depan rumah Viona.


Untuk kembali ke kostnya.

__ADS_1


__ADS_2