
Tubuh Viona yang terpeleset langsung tergelincir bergulingan kebawah.
Andi yang terkejut dengan cepat berhasil menangkap tubuh Viona, menahannya agar tidak menggelinding kearah jurang.
"Vi kamu tidak apa-apa ?"
tanya Andi cemas.
Viona sambil meringis menahan nyeri, menggelengkan kepalanya ke arah Andi sambil berusaha tersenyum.
Wajahnya terlihat pucat dengan butiran keringat menghiasi keningnya yang halus.
Tiba-tiba Rio datang menarik Viona kedalam pelukannya, sambil menendang Andi menjauh.
Karena tidak siap, Andi terdorong mundur kebelakang hingga jatuh terduduk di atas tanah.
Viona menjerit kecil karena terkejut melihat Andi terjatuh, dia ingin meronta dan berlari kearah Andi.
Tapi pergerakan nya tertahan oleh pegangan tangan Rio di lengan dan bahunya.
Viona tidak berdaya melepaskan pegangan tangan Rio, akhirnya dia hanya bisa menatap Andi dengan perasaan sedih kasihan dan merasa bersalah.
Andi menggelengkan kepalanya memberi kode kepada Viona agar bersabar.
Setelah berdiri, Andi menghampiri Rio dan berkata,
"Rio bila di teruskan kamu bisa membahayakan nyawa para peserta, kita di sini bukan sedang lomba."
"Kita di sini adalah sedang melakukan wisata hiking, menikmati wisata alam.."
"Sebaiknya ijinkan mereka semua beristirahat, bila kamu ingin terus kamu terus aja sendiri.."
"Kami di sini semua ingin beristirahat.."
ucapan Andi di sambut peserta lain nya, dengan anggukan kepala menyetujuinya.
Mimi dan Maya juga maju ikut mendukung Andi dengan berkata,
"Kak Rio, bila anda tidak memikirkan keselamatan peserta, kami berdua akan melaporkan anda ke Kak Bobby.."
Rio tersenyum sinis dan berkata,
"Kalian tidak perlu mengancam ku dengan nama Bobby, bila ingin lapor silahkan saja.."
"Kalian ingin istirahat, istirahat lah dengan puas, bila tersusul oleh rombongan kedua, atau malah tertinggal dan terjebak, tidak bisa turun gunung karena kabut keburu turun."
"Kalian tanggung sendiri akibatnya, terutama kamu dan kamu berdua.."
tunjuk Rio kearah Andi dan Mimi Maya.
Lalu sambil tersenyum sinis, Rio merangkul Viona membawanya ke bawah sebuah pohon dan beristirahat berdua di sana.
__ADS_1
"Vi kamu tidak apa-apa ? Ada yang lecet atau cedera ? sini biar saya bantu obati."
ucap Rio sambil mengeluarkan sebuah kotak P3K.
"Maaf ya Vi, aku tidak menjaga mu dengan baik, sehingga kamu sampai tergelincir."
Viona tidak menjawab, dia hanya membiarkan Rio merawat luka lecet di siku dan dengkulnya.
Setelah Rio selesai mengobati Viona, Viona baru berkata,
"Tidak apa-apa Rio.. makasih banyak.."
Viona di dalam hati sangat mangkel ke Rio, dia hanya berusaha menahan diri agar tidak memaki-maki Rio.
Makanya dia juga membatasi pembicaraan, agar tidak tersulut pertengkaran
Ayahnya masih membutuhkan bantuan Rio, dia tidak boleh cek cok dan bertengkar dengan Rio.
Hal itu tidak baik buat dirinya, maupun keluarganya.
Di tempat lain, Andi sesekali memperhatikan Viona dan Rio dari jarak jauh.
Andi sebenarnya sangat kesal dengan ketidak berdayaan nya, yang membuat Viona harus menanggung semua ini.
"Andai saja kamu lebih berguna, tentu Viona tidak perlu menahan siksaan seperti ini.."
gumam Andi dalam hati.
Setelah beristirahat cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Akhirnya berubah menjadi perjalanan yang membosankan dan tidak menarik, karena tingkah laku Rio yang egois dan sombong.
Setelah menempuh perjalanan dengan susah payah, akhirnya mereka tiba di.pos satu, masing-masing bisa beristirahat dengan tenang.
Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil bercerita dan ngobrol dengan seru.
Untuk melupakan semua kepenatan dan kejengkelan dalam perjalanan tadi.
Setengah jam kemudian rombongan kedua muncul dengan James, menggendong Santi yang bertengger di punggungnya.
James berjalan paling depan memimpin rombongan nya.
Berbeda dengan rombongan Rio yang terlihat lelah dan kusut, sebaliknya rombongan James terlihat santai dan cukup menikmati perjalanan mereka.
Para anggota rombongan mulai membanding-bandingkan Rio, dengan Andi sambil berkasak kusuk.
Saat perjalanan berikutnya dimulai, Rombongan Rio yang bergerak duluan mulai menuju pos dua.
Tiba-tiba anggota rombongan melakukan protes ke panitia, mereka ingin mengganti Rio dengan Andi yang memimpin perjalanan mereka.
Panitia awalnya tidak setuju, tapi karena peserta rombongan berkata,
__ADS_1
Bila dipaksakan mereka akan memilih bergabung dengan rombongan James.
Atau mereka mengancam akan bubar sampai di sini saja.
Karena tidak punya pilihan, akhirnya panitia menghubungi Rio dan menjelaskan situasi.
Rio tentu sangat kesal, tapi dia tidak berdaya melawan suara orang banyak, yang tidak menghendaki dirinya.
Akhirnya dia dengan kesal harus merelakan Andi menjadi ketua rombongan.
Memimpin rombongan nya menuju pos dua.
Setelah perjalanan di pimpin oleh Andi, perjalanan menjadi lebih menyenangkan dan santai.
Saking santainya, mereka sampai tersusul dan di lewati oleh rombongan kedua.
Saat rombongan kedua melewati mereka, Andi dan Sarah saling tersenyum, melihat Santi yang masih saja nemplok di punggung James dengan manja.
Mereka berdua terlihat asyik menikmati perjalanan sambil ngobrol dengan akrab.
Perlahan-lahan rasa canggung Santi ke James mulai hilang, kini mereka terlihat lebih akrab.
Menyadari perjalanan mereka sudah terlalu santai, Andi mulai meminta rombongannya mempercepat perjalanan, sebelum kabut turun menutupi arah jalan mereka.
Rombongan Andi pun mempercepat perjalanan mereka, akhirnya mereka tiba di jalan bercabang dua.
Menurut petunjuk peta dari panitia, jalan sebelah kiri jaraknya lebih dekat, jalannya lebih bagus dan mudah.
Tapi daerah yang dilalui sangat tidak aman, sedangkan jalan sebelah kanan jalannya agak sedikit mutar dan jauh.
Tapi di sini jalan nya sangat aman, banyak melewati perkebunan teh dan perkampungan masyarakat setempat.
Sedangkan jalan pertama yang lewat sebelah kiri, mereka harus melewati hutan-hutan, tidak ada rumah penduduk yang tinggal di sana.
Rio ingin mengambil jalan kiri, sedangkan Andi memutuskan mengambil jalan sebelah kanan.
Mereka berdua kembali berselisih pendapat, akhirnya rombongan pun terpecah menjadi dua.
Andi bersama 9 anggota lainnya memutuskan mengambil jalan sebelah kanan yang aman.
Sedangkan Rio bersama 4 anggota lain termasuk Viona memilih jalan sebelah kiri.
Memilih jalan ini, Viona bukan nya suka, tapi dia lakukan dengan terpaksa, karena harus mengikuti pilihan kekasih kontraknya itu.
Andi diam-diam sangat mengkhawatirkan Viona, tapi dia tidak berdaya untuk mencegah Viona mengikuti Rio, mengambil jalan sebelah kiri.
Karena tidak punya pilihan lain, Andi Hanya bisa mempercepat pergerakan rombongan yang di pimpinnya menuju pos 2.
Sedangkan terhadap keselamatan Viona, Andi hanya bisa berdoa sepanjang jalan, semoga Viona dan rombongannya tiba dengan selamat dan sampai lebih dulu di pos 2 ketimbang rombongan mereka.
Rio memimpin rombongan nya, melewati jalan yang cukup lebar dan rata, tidak banyak tanjakan maupun turunan.
__ADS_1
"Jalan sebagus ini, aku sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka.."
ucap Rio melepaskan uneg-uneg di hatinya.