
Orang itu sangat terkejut, dia buru-buru menutupi wajahnya, dengan lengan baju atasnya.
Lalu dia melarikan diri kearah lapangan yang gelap dan menghilang di sana.
Andi hanya berdiri mencelos ditempatnya, menatap kepergian penyerangnya tadi.
Meski orang itu buru-buru menutupi wajahnya dan pergi dari sana, Andi sempat melihat wajahnya dengan jelas.
"Orang itu Rio pikir Andi dalam hati, tidak salah lagi itu pasti dia, dan orang-orang yang sedang di ringkus polisi ini pasti orang suruhannya."
pikir Andi dalam hati.
Andi tidak habis pikir, kenapa orang itu bisa begitu jahat, dan selalu suka berbuat kriminal dan kekerasan.
Andi jadi khawatir dengan nasib Viona, bila berdekatan dengan pria seperti itu.
Andi sempat di tanya-tanya oleh polisi, tapi dia tidak mengungkapkan soal Rio, hanya mengatakan dirinya tiba-tiba diserang kelima orang itu, tanpa tahu apa motivasi mereka menyerangnya.
Polisi menyalami Andi kemudian mereka pun pergi meninggalkan lokasi.
Andi langsung dipeluk oleh Viona yang menangis ketakutan dalam dekapan nya.
"Sudah Vi jangan nangIs lagi, aku tidak apa-apa kok tenang saja.."
ucap Andi berusaha menenangkan Viona.
"Di kamu tidak apa-apa kan? ada yang terluka ? perlu di antar kerumah sakit tidak ?"
tanya Sarah hati-hati.
Andi Tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil berkata,
"Gak usah Sar aku baik-baik saja kok, yuk kita pulang saja sekarang.."
"Tapi kamu kan belum makan, kita cari makan dulu ya ? baru ku antar pulang.."
"Aku juga sedikit lapar.."
ucap Sarah menepuk perutnya yang kempes sambil tertawa.
"Vi,...gimana kalau kita pergi makan dulu baru pulang ?"
tanya Andi sambil mengelus rambut Viona yang masih terisak dalam pelukannya.
Viona mengangguk kecil dan berkata,
"Terserah kalian, tapi kalau bisa cari tempat yang agak ramai dan aman, aku masih sedikit trauma dengan kejadian tadi.."
Andi menatap kearah Sarah dengan tatapan mohon pengertiannya.
Sarah Tersenyum dan berkata,
"Tenang saja tempat itu cukup ramai, ada petugas keamanan nya, juga bersebelahan dengan kantor polisi.."
Sarah hanya tidak mengatakan secara terus terang saja, bahwa ibunya bertugas di kantor polisi tersebut.
Takut di kira pamer jabatan orang tua, dan Sarah sendiri paling pantang ada temannya yang tahu latar belakang keluarganya.
__ADS_1
Dia kurang suka hidupnya di bayang-bayangi oleh kesuksesan keluarga nya.
Andi mengangguk dan berkata,
"Baik kita ikut saja Sar.."
Saat berada di dalam mobil Sarah sambil menjalankan mobilnya berkata,
"Di,.. cek ini buat kamu saja, sedangkan pialanya buat kenang-kenangan ku boleh.?"
"Sar piala nya kalau kamu minat ambil saja, tidak masalah, hanya saja cek ini kan separuhnya adalah hak mu mana boleh aku mengambil semuanya.."
ucap Andi merasa tidak enak hati, padahal dia sebenarnya sangat membutuhkannya.
"Bagaimana kalau aku bantu cairkan kemudian transfer ke rekening mu, kamu tinggal kasih aku rekening mu saja.."
ucap Andi menawarkan.
Sarah Tersenyum dan berkata,
"Bisa berteman dengan kalian, aku sudah sangat senang.."
"Mengenai uangnya tidak perlu sungkan, ambil saja aku ikhlas kok santai aja.."
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi, tapi makan malam ini biar aku yang traktir ok.."
Sarah tertawa dan berkata,
"Boleh saja aku ikut aja.."
Viona mendumel dalam hati,
"Kenapa gak bilang aja loe senang dekat-dekat dengan pacar ku.."
Santi yang melihat sikap mencibir Viona, dia hanya menyikut lengan temannya sambil tertawa tanpa suara.
Viona tidak menghiraukan candaan Santi, dia melengoskan wajahnya melihat kearah jendela.
Andi tentu tahu sikap Viona kekasihnya di belakang sana, Andi tak berdaya.
Dia hanya bisa menanggapinya dengan positif, bila Viona bersikap seperti itu hanya berarti Viona sangat mencintainya.
Akhirnya mereka tiba ditempat makan yang di sebutkan oleh Sarah tadi.
Ternyata tempat makannya adalah sebuah restoran Sop buntut.
Dari depan restoran tersebut sudah terlihat sangat mewah, dengan lampu kuning terang benderang di depan.
Sedangkan bagian dalam di dekor dengan mewah dan elegan, dihiasi lampu berwarna kuning sedikit redup, sehingga berkesan romantis dan elegan.
Santi dan Viona sangat terpesona dengan keindahan restoran mewah tersebut.
Sedangkan Andi bersikap biasa saja, dia sudah beberapa kali bergaul dengan Sarah, dia tidak heran Sarah mengajak mereka ketempat seperti ini.
Dia justru akan heran, bila Sarah mengajak mereka makan di pinggir jalan.
Mereka bertiga berjalan masuk kedalam Restoran Tersebut mengikuti Sarah.
__ADS_1
Sarah memilih tempat duduk yang menghadap kearah taman, di mana taman tersebut di hiasi lampu warna-warni yang sangat indah.
Selain itu kolam ikannya juga di hiasi lampu yang tertanam di dasar kolam, sehingga kolam ikan hias itu terlihat terang.
Ikan hiasnya yang berseliweran terlihat dengan jelas.
Tempat yang di pilih Sarah sangat nyaman, sirkulasi udara yang keluar masuk pun sangat segar.
Begitu mereka ber4 duduk, dua orang pelayan datang mengantarkan 4 buku menu pesanan buat mereka.
Andi yang melihat daftar menu makanan banyak yang berbahasa asing, yang tidak dia mengerti.
Selain itu harga makanan pun tidak di cantumkan, Andi langsung menelan ludahnya sendiri.
Jangan jangan uang di dompet nya, tidak cukup untuk bayar makan malam mereka berempat.
Sarah yang bermata jeli menyadari ke khawatiran Andi.
Dia pun berkata,
"SOP buntut di sini sangat enak harganya juga wajar cuma 50.000 perpaket lengkap dengan nasi putih sambal dan es jeruk."
"Aku pilih itu saja mbak."
ucap Sarah sambil menyerahkan daftar menu ke pelayan yang berdiri di sampingnya.
Pelayan itu mengangguk sopan dan mencatat pesanan Sarah.
Andi pun buru-buru berkata sambil mengembalikan menu ditangannya.
"Aku juga samakan saja dengan dia.."
Melihat Andi sudah pesan, Viona yang takut Andi bayar mahal, dia segera berkata,
"Aku nasi putih dan air putih saja, aku masih kenyang dengan bakso di GOR tadi.."
"Sopnya tar kongsi dengan Andi saja.."
Santi mengembalikan daftar menu ke pelayan disebelahnya sambil berkata,
"Aku kentang goreng sama cola aja.."
Kedua pelayan itu mengangguk hormat, Kemudian mereka membacakan ulang menu pesanan tamunya agar tidak salah.
Setelah itu mereka pun mohon diri permisi dari sana pergi menyiapkan pesanan.
"Para pelayan sampai manajer di restoran ini, terlihat sangat mengenal mu, kamu sering ya makan di sini ?"
tanya Andi penasaran.
Sarah menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Gak juga cuma sekali-sekali saja.."
Sarah sengaja berbohong agar teman-teman nya tidak merasa ada kesenjangan, yang jauh diantara mereka dengan dirinya.
Padahal bila bicara jujur tentu saja mulai dari dia kecil, hingga besar Sarah hampir tiap hari makan di sini.
__ADS_1
Karena tempat kerja ibunya, letaknya bersebelahan dengan restoran ini.