AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KEDATANGAN VIOLIN DAN KEDUA ORANG TUA NYA


__ADS_3

Viona masih terus mengigit Andi dengan sadis, tapi Andi sengaja membiarkannya.


Bila andi ingin dengan tenaga saktinya, gigi Viona pasti otomatis akan rontok di buatnya.


Tapi Andi memang sengaja membiarkannya, dia sambil menahan nyeri terus membelai kepala Viona dengan lembut dan berkata,


"Vi,.. kamu tenanglah, aku Andi, aku bukan Rio.."


"Aku sangat menyayangi mu, aku tak mungkin menyakiti mu.."


"Bila dengan melukai ku atau pun membunuhku bisa membuat mu tenang."


"Kamu boleh lakukan, aku tidak akan pernah menyalahkan mu."


"Vi,..kamu harus percaya pada ku."


ucap Andi sabar sambil terus membelai kepala Viona dengan lembut.


Perlahan lahan Viona sudah tidak meronta lagi, dia juga mulai melepaskan gigitannya dari dadanya Andi.


Gigi dan mulut Viona yang berlumuran darah terlihat sangat menyeramkan.


Sepasang matanya yang tadinya bergerak gerak liar, kini mulai.terlihat tenang.


Andi pun perlahan-lahan melepaskan rangkulannya, tapi tangannya tetap tidak berhenti membelai rambut Viona.


"Kak Andi apa yang terjadi ?'


"Ahh dada mu terluka.dan berdarah, apa yang terjadi...,?"


tanya Viona yang mulai normal terlihat kebingungan.


"Tidak apa-apa, hanya luka kulit saja, bukan masalah, yang penting kamu sudah sadar kembali, sayang.."


ucap Andi sambil membelai wajah Viona dengan lembut, sekalian diam diam, Andi menghapus noda darah di sudut bibir Viona.


Tapi Viona dengan cepat memegang tangan Andi, memperhatikan jempol Andi yang penuh noda darah.


"Astaga, apa yang telah ku lakukan ?"


"Aku telah mengigit dan melukai mu hingga seperti ini ? ahh maafkan aku di,..maafkan aku.."


ucap Viona panik sambil dengan tangan gemetaran dia memegang dada Andi yang terluka.


Air matanya kembali menetes netes membasahi pipinya,. wajahnya terlihat penuh penyesalan.


Sambil menangis sedih dia berkata,


"Lihat di,..buka mata mu,.. aku bukan Viona mu lagi.."


"Aku tak lebih hanya seorang wanita gila yang menyedihkan.."


"Lihat apa yang telah ku lakukan, bila kamu terus berada di sisi ku, suatu.hari kamu pasti akan tewas di tangan ku.."


"Di ,.. ku mohon jauhilah aku,..jangan lagi mengingat ku,.."


"Aku tidak layak menerima pengorbanan lebih lagi dari mu.."


ucap Viona sambil bergeser mundur menjauhi Andi.

__ADS_1


Dia juga menepis tangan Andi menjauhi dirinya.


Andi tersenyum lembut dan berkata,


"Tidak Vi,..aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi."


"Hanya kematian yang bisa memisahkan ku dari mu.."


Andi menarik paksa Viona kedalam pelukannya.


Bagaimanapun Viona meronta Andi tidak bersedia melepaskannya.


Akhirnya Viona pasrah tidak meronta lagi, dia membalas memeluk Andi dengan erat dan menangis melepaskan semua kesedihannya.


Airmata Viona, yang asin membuat luka di dada Andi terasa perih.


Tapi Andi sama sekali tidak perduli, di luar terasa perih, tapi di dalam nya Andi merasa lega dan sangat nyaman.


Andi membiarkan Viona melepaskan semua beban kesedihannya lewat tangisannya.


Andi tidak berusaha mencegahnya, dia membiarkannya begitu saja.


Dari ucapan Viona saat sedang kambuh tadi, keheranan Andi atas anak yang pernah di kandung Viona terjawab sebagian sudah.


Peristiwa pastinya, Andi belum tahu, yang jelas anak itu meninggal karena Rio dan Vivian Lim itu sudah pasti.


Andi semakin kasihan dengan nasib buruk yang dengan kejam mempermainkan kehidupan Viona.


Memilih menikah dengan Rio adalah karena anak itu, tapi pada akhirnya kehilangan anak itu, juga karena Rio.


Pada akhirnya yang tersisa hanya penderitaan yang berkepanjangan.


Semua orang kembali mengundurkan diri dari ruangan tersebut.


Hanya tersisa Andi seorang diri yang duduk termenung, menatap arloji di tangannya dengan sedih.


Menjelang malam Viona baru terbangun dari tidurnya, tapi sekali ini dia tidak lagi histeris.


Kondisinya sudah jauh lebih stabil dan normal.


"Vi aku pergi sebentar buat masak kan pangsit rebus kesukaan mu ya ?"


ucap Andi lembut sambil membelai kepala Viona.


Viona menggeleng pelan dan berkata,


"Tidak di,.. aku gak lapar, sebaiknya kamu harus pergi rawat luka mu, jangan sampai infeksi nantinya.."


Andi tersenyum dan berkata,


"Baiklah sayang, aku akan meminta dokter merawat luka.."


"Kamu istirahat dengan tenang, jangan berpikir yang bukan bukan lagi.."


"Aku cuma sebentar, tidak akan lama, "


ucap Andi sambil menciumi kening Viona dengan lembut.


Viona mengangguk pelan dan berkata,

__ADS_1


"Di,.. boleh tidak kamu sekalian bawakan, alat rias parfum dan pakaian bagus untuk ku.."


Andi tersenyum dan mengangguk,


"Tentu saja boleh, kapan aku pernah bisa menolak permintaan mu ?"


Andi menyentuh ujung hidung Viona dengan lembut, seperti kebiasaan mereka dulu.


Setelah itu Andi pun berlalu dari kamar Viona.


Viona menatap bayangan punggung Andi, sambil berusaha tersenyum menahan haru, mengingat semua perlakuan Andi berikan padanya.


Bila teringat semua perlakuannya dulu pada Andi, dia sungguh sungguh merasa sangat menyesal.


Bila waktu itu, dia konsisten memilih Andi, meski dia sudah mengandung anak Rio.


Pasti ceritanya akan sangat berbeda, mungkin saat ini, anak itu sudah besar.


Dia dan Andi akan hidup bahagia bersama, Andi tidak perlu, jatuh koma dan berakhir dengan kehilangan ingatannya.


Viona menghela nafas panjang dan berkata,


"Terlalu banyak andai, yang tidak mungkin bisa di putar kembali."


"Seorang wanita, bila satu kali salah langkah, maka dia sudah kalah.dalam seluruh permainan itu."


"Sudah tidak punya kesempatan untuk memperbaikinya kembali."


"Dari awal dia juga tahu Rio adalah pria brengsek, dia terlalu banyak menaruh harapan kosong padanya.."


"Berharap dengan pengorbanan dia akan menukarnya dengan ketulusan cinta.."


"Ternyata dia salah, yang Rio inginkan bukan cinta, tapi kebebasan.."


Viona perlahan-lahan turun dari kasurnya, pergi ke kamar mandi membersihkan diri.


Ini adalah kali pertamanya, Viona perduli untuk mengurus diri, dan ingin tampil cantik.


Saat Viona keluar dari kamar mandi, Andi sudah kembali ke kamarnya.


Wangi pangsit kuah memenuhi ruangan kamar tiba tiba membuat perut Viona terasa lapar.


Andi sambil tersenyum berkata,


"Ayo temani aku makan Vi, aku juga mulai lapar.."


"Ayo kita makan sama sama lagi, sudah lama kita gak makan sama-sama sejak.aku pindah ke kota J.."


"mungkin ada 10 tahun kali ya,..?"


ucap Andi sambil tersenyum, bersiap dengan mangkuk dan sendok kuah ditangannya.


Viona sambil tersenyum duduk di hadapan Andi, dia membiarkan Andi menyuapi dirinya sesendok demi sesendok hingga semangkok pangsit kuah itu berpindah kedalam perut mereka berdua.


Baru saja mereka berdua selesai makan dan ingin duduk santai berdua.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dari luar melangkah masuk mama dan papa Viona, diikuti oleh Violin di belakang mereka berdua.


Melihat kedatangan papa mamanya, Viona hanya bisa memandang mereka berdua dengan mata terbelalak tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2