
Violin sendiri setelah masuk kedalam mobilnya, dia juga tidak bisa menahan lagi suara Isak tangisnya yang meledak.
Airmata nya terus berderai jatuh kebawah, menetes netes di dagunya.
Violin menyetir sambil membuka kaca jendela mobilnya, agar airmata dan seluruh kesedihannya bisa tersapu terbawa angin.
Tapi kenyataannya kesedihan dan airmata nya tetap tidak pernah berhenti.
Perasaan yang sangat menyakitkan itu, selamanya tidak pernah bisa hilang terbawa angin.
Hingga tiba di rumah, Violin, tanpa memperdulikan Do Do yang sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.
Dia langsung berlari masuk kedalam kamar nya, menjatuhkan diri di atas kasur dan meneruskan tangisan kesedihannya.
Ronaldo yang ada di luar sana, tidak berkata apa-apa.
Dia hanya menghela nafas saja tanpa berkata apa-apa.
Kedua orang tua Violin hanya bisa saling melirik, kemudian mama Violin dengan cerdik mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya.
Mencoba menghilangkan suasana canggung yang ada di tempat itu.
Ditempat lainnya, Andi yang sedang menangis sambil berlutut, terlihat Dragon Wong datang menghampiri Andi, kemudian menepuk bahunya dan berkata,
"Lepaskan dan relakan, . itu adalah yang terbaik.."
"Hari hari mu masih panjang, percayalah bila dia jodoh mu.."
"Kalian pasti akan kembali bersama meski terpisah ribuan Li.."
"Tapi bila dia bukan jodoh mu, tiap hari bersama juga pada akhirnya akan berpisah.."
"Suatu hari kamu juga pasti akan menemukan, yang lain yang jauh lebih baik sebagai penggantinya."
Andi terdiam sejenak, setelah itu dia berkata,
"Terimakasih Dragon, kamu benar sekali..'
"Maaf telah merepotkan mu, untuk ikut berkhawatir.."
Andi sengaja pura pura bisa menerimanya dan menyimpan semuanya di dalam hati.
Setelah mengobrol singkat dan mengucapkan terimakasih ke Dragon, Andi pun kembali keruang ganti mandi berganti.
Membereskan semua barang barang nya, kemudian berlalu dari tempat tersebut.
Andi mengendarai mobil nya, kembali ke villa mewahnya, villa yang khusus dia bangun untuk masa depannya bersama Violin.
Tapi kenyataannya selalu tidak seperti yang dia dan Violin harapkan.
Pada akhirnya hanya tersisa dirinya sendiri di rumah besar tersebut.
__ADS_1
Andi setelah kembali kerumahnya, sama seperti kegiatan kegiatan sebelumnya.
Andi mengambil sebotol Jack D, dari lemari kaca di mini bar.
Kemudian duduk seorang diri, di balkon kamar nya yang menghadap kearah laut.
Andi duduk termenung menatap langit gelap di atasnya.
Sambil menghela nafas panjang, Andi berkata,
"Bahkan bintang dan bulan pun tidak bersedia menemani mu.."
"Andi,.. Andi,.. kamu selalu plin plan dalam berhubungan, inilah hukuman yang pantas kamu terima."
"Sekarang menyesal pun tiada guna, semuanya sudah terlambat."
"Terimalah kenyataan, biar minuman ini saja yang menemani mu.."
"Andi,...!! semoga kamu cepat mati cepat reinkarnasi kembali...!!"
teriak Andi kearah laut luas.
Hanya suara debur ombak yang membalas teriakannya barusan.
Andi kembali duduk di lantai bersandarkan kaca pembatas kamar dan balkon.
Dia meminum seteguk minuman yang sangat tidak di sukai nya itu, tapi tiada pilihan hanya minuman ini lah yang bisa membantunya melupakan semua kesedihan nya.
Setelah habis setengah botol dan sudah mabuk berat, Andi baru merangkak masuk kedalam kamar nya.
Saat matahari pagi masuk menyinari wajahnya, Andi baru bangun untuk duduk, sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan pusing.
Setelah meminum sebutir aspirin yang memang di siapin Andi di samping kasurnya.
Tak lama kemudian Andi pun berjalan sambil berpegangan pada dinding, pelan pelan turun kelantai dasar menuju dapur.
Andi mengambil berbagai jenis sayuran dari kulkas mencuci kemudian memotong dan semua di masukkan ke dalam mesin blender, setelah menambahkan dua butir telur dan air.
Andi pun memblender semuanya hingga menjadi juice, lalu meminum semuanya hingga habis, lewat gelas besar wadah blender.
"Ahhhh,.."
Desah Andi yang merasa enek harus menghabiskan makanan seperti itu.
Tapi justru itulah penyeimbang kesehatan dan kebugaran tubuh nya.
Andi melanjutkan dengan mandi berganti pakaian rapi, menyalakan laptopnya.
Kemudian dia mulai mengadakan konferensi video call dengan kedua manajer kepercayaan nya di Nan Jing.
Lewat laporan mereka, Andi memantau kegiatan usahanya di sana.
__ADS_1
Setelah mendengarkan seluruh kesulitan mereka, Andi baru memberikan solusi dan masukkan untuk mereka, mencatatnya di agenda.
Sebagai patokan untuk melihat hasil pelaksanaan mereka beberapa waktu kemudian.
Melakukan evaluasi ulang bila ada yang kurang.
Begitulah cara kerja Andi memantau kinerja usahanya lewat jarak jauh.
Sejauh ini semua berjalan cukup lancar dan masih dalam track kerja yang dia buat.
Setelah menyelesaikan konferensi nya.
Andi melanjutkan dengan mengecek laporan saham saham yang dia miliki.
Memutuskan membeli dan melepasnya, dengan mempertimbangkan berbagai informasi yang dia ketahui lewat berbagai berita di media informasi.
Setelah semua sudah beres, melihat jam yang melingkar di lengannya sudah pukul 11 siang.
Andi pun meneruskannya dengan berolahraga di lantai 3 hingga jam 3 sore, mandi beristirahat sebentar, jam 5 sore Andi mendorong sepedanya keluar dari villa mewah nya.
Lalu naik sepeda berkeliling keliling menikmati udara sejuk dan segar.
Ketika hari mulai gelap, ini lah puncak kondisi kesepian yang paling Andi tidak suka.
Tapi tidak punya pilihan lain, Andi tetap harus menghadapi nya.
Lagi lagi Andi mengeluarkan teman rahasianya untuk menemaninya.
Hari demi hari terus berlalu dengan hambar dan penuh kesepian.
Tidak terasa hari itu akhirnya tiba, Andi kembali berpakaian rapi layaknya pengantin pria, untuk hadiri acara pemberkatan pernikahan Violin.
Ini adalah untuk yang kedua kalinya, Andi harus hadapi peristiwa seperti ini.
Andi berdiri di depan cermin menatap dirinya sendiri, sambil menghela nafas sedih.
Tak lama kemudian Andi pun langsung meninggalkan kediaman nya.
Andi berangkat jauh lebih pagi dari jadwal, karena sebelum Violin dan DoDo masuk kedalam ruang pemberkatan, Andi ingin melihat Violin dalam pakaian pengantin sekali lagi.
Hanya ada dua kesempatan terakhir di mana Andi bisa melihat, gadis yang sangat dia cintai itu mengenakan pakaian pengantin.
Satu di acara pemberkatan pagi ini, yang kedua nanti di acara resepsi pernikahan nya.
Setelah itu dan untuk selanjutnya, Violin secara sah adalah milik orang lain.
Tidak ada sangkut paut dan hubungan apapun dengan dirinya lagi.
Oleh karena itu Andi tidak mau sampai telat dan melewatkan kesempatan terakhir itu.
Andi ingin mengucapkan selamat secara langsung untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
Andi tiba di tempat pemberkatan jauh lebih awal,.di mana ada pasangan lain yang lebih dulu menjalani jadwal pemberkatan.
Pengantin pria yang agak lebih tua dari pengantin wanita, sempat menatap Andi yang tampan dan berpakaian layaknya pengantin pria, dengan tatapan penuh curiga.