AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PERJUMPAAN MENGHARUKAN


__ADS_3

Tiga petugas keamanan berbadan besar datang mengiringi perawat Lia.


Setelah perawat Lia datang, diapun berjalan paling depan, membuka kunci ruangan tersebut.


Dia masuk duluan kedalam ruangan, setelah mencari cari akhirnya di melihat pasien ruangan tersebut duduk di balkon,.yang di pasangi jeruji besi.


Hal itu di lakukan agar pasien bisa bebas duduk di balkon menghirup udara segar dari luar.


Tanpa harus khawatir pasien melarikan diri, atau bunuh diri melompat dari balkon.


Dengan pasien bisa duduk di balkon, selain mendapatkan udara segar, pasien juga bisa berjemur mendapatkan sinar matahari, tanpa harus meninggalkan kamarnya.


Perawat Lia setelah memastikan pasien ada di balkon, dia baru memberi kode agar yang lainnya satu persatu.masuk.


Andi setelah masuk kedalam ruangan, dia terus menatap tajam kearah pasien wanita yang wajahnya tertutup rambutnya yang sebahu.


Sehingga Andi tidak berhasil melihat wajahnya, tapi mata Andi yang tajam dari jarak jauh bisa melihat pasien wanita itu, seperti sedang menggendong sesuatu.


Dengan penasaran Andi berkata pelan,


"Mbak Lia, maaf apa yang sedang di gendong pasien itu..?"


"Itu adalah patung seorang pria pak Andi,.."


"Ehh bentar,.."


ucap Lia sambil menatap Andi lekat lekat.


Sesaat kemudian dia baru berkata dengan heran.


"Pak Andi ternyata setelah di perhatikan lagi, wajah patung di tangan pasien sangat mirip dengan wajah pak Andi.."


Mendengar ucapan Lia, hati Andi langsung mencelos, seperti.terjatuh ke kolam batu es yang super dingin.


Dengan suara gemetar Andi berkata,


"Siapa,.. nama pasien,.. itu..?"


Sejak awal Andi ada sedikit feeling mungkin wanita di pusat rehabilitasi yang terlantar itu,.ada kemungkinan adalah Viona.


Tapi dia selalu berusaha membantahnya, apalagi setelah mendengar kisah kisah tragis, ya di alami oleh pasien tersebut.


Andi terus berharap semoga itu bukanlah Viona.


Wanita yang pernah sangat di cintai nya itu, sebelum kini hatinya mulai terisi dengan Violin.


Tapi hingga sampai kini pun, sebenarnya Andi masih ragu, sebenarnya yang benar benar dia cintai dengan sepenuh hati adalah Viona atau Violin.


"Viona nama pasiennya pak.."


jawan Lia cepat.


Andi terhuyung mundur hampir jatuh kebelakang, mendengar di sebutnya nama itu.


Nama sakral yang terukir jelas.di dalam hati dan sanubarinya, selamanya tidak akan pernah bisa dia hapus dan lupakan begitu saja.

__ADS_1


Andi merasa kedua kakinya lemas kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya yang terasa sangat berat.


Sementara pandangan matanya sedikit terasa gelap dan berkunang-kunang secara tiba-tiba.


Beberapa perawat dan suster Nani yang mendampingi Andi buru buru membantu menahan tubuh Andi , agar tidak sampai jatuh.


"pak Andi,.. kamu tidak apa-apa ?"


tanya suster Nani, menatap kearah Andi dengan cemas.


Mereka sudah membantu memapah Andi.duduk di kasur tempat tidur pasien.


Andi mengangkat tangannya dan berkata,


"Aku tidak apa-apa, tadi hanya tiba tiba merasa sedikit pusing."


"Tapi kini semuanya its okay, thanx semuanya..."


ucap Andi pelan sambil membuka kembali matanya.


Viona yang duduk di balkon melamun seorang diri, sambil terkadang tertawa dan menangis sendiri.


Mendengar suara ribut-ribut di kamarnya, dia pelan pelan menoleh kearah belakang.


Tadinya dia ingin berteriak memarahi orang yang datang mengusik ketenangannya.


Tapi saat sepasang mata nya bertemu pandang dengan pria yang sedang duduk di kasurnya itu.


Dia jadi bengong, tidak jadi marah, dia hanya terus menatapnya dengan bengong.


Wanita yang terlihat sangat menyedihkan, jauh sekali dari bayangan wajahnya dulu.


Itu adalah benar, wanita yang pernah sangat dia cintai, dia kagumi dan selalu mengisi seluruh pikiran dan perasaan nya.


Hingga sampai kini pun, tidak pernah bisa hilang tuntas dari pikiran dan perasaannya.


Karena semua tentang gadis itu, telah terukir begitu dalam di hati nya.


Demi kebahagian gadis itu, dua bahkan rela menukarkan nyawanya untuk gadis itu.


Tapi ternyata yang dialami.oleh gadis yang sangat dia cintai itu malah seperti in nasibnya.


Takdir sungguh kejam terhadap mereka, dan benar'benar mempermainkan jiwa dan raga mereka habis habisan.


Viona tiba tiba membuang muka menutupi wajahnya dengan rambut.


Lalu dia membalikkan badannya, bersimpuh diatas lantai, menghadap ke pojok dinding.


Andi memberi kode kepada semua yang hadir disana dan berkata,


"Tolong tinggalkan kami berdua, jangan khawatir aku dan dia kenalan lama.."


"Tapi pak,..bapak yakin,.?"


tanya Lia ragu.

__ADS_1


Andi mengangguk dan berkata


"Trust me i know i'm doing..ok,..?"


Dengan sedikit ragu mereka semua mengangguk menurut pada Andi, mereka pun meninggalkan Andi di ruangan tersebut bersama Viona.


Andi turun dari kasur kemudian melangkah pelan pelan menghampiri Viona yang sedang duduk bersimpuh memunggunginya dengan sepasang bahu bergetar.


Sekali lihat pun Andi tahu, Viona sedang menangis dalam diam.


"Di,.. jangan mendekat,...ku mohon menjauhlah,.."


"Aku tidak ingin kamu melihat ku,..yang seperti ini.."


"Jangan merusak bayangan ku dulu, dengan bentuk rupa ku saat ini.."


"Aku tidak mau di,... hu,..hu,,hu,..! aku benar benar tidak mau di,.."


ucap Viona sambil menangis sedih.


Andi berlutut di belakang punggung Viona dan berkata,


"Tidak Vi,... sekali ini aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi.."


"Kamu jadi seperti ini, semua salah ku, aku terlalu menuruti permintaan mu, aku kurang tegas, kurang gigih memperjuangkan mu, mempertahankan mu untuk tetap di sisi ku.."


"Seandainya waktu itu aku lebih gigih lebih ngotot, memaksa mu, menjadi istri ku, menolak semua permintaan mu, lebih baik kamu membenci ku, daripada harus melihat mu jadi seperti ini.."


"Maka semua ini tidak mungkin bakal terjadi hingga jatuh ketahap seperti ini.."


Andi menyentuh bahu Viona yang kurus kering, dengan lembut.


Viona sedikit terkejut, dia buru buru menarik diri menghindar.


Tapi Andi tetap mengejarnya tidak mau melepaskannya begitu saja.


"Di,.. ku mohon jangan,.di,..ku mohon jangan sentuh aku,.. menjauh lah dari ku.."


"Aku sudah bukan Viona mu lagi,..jangan lagi di,..tinggalkanlah aku sendiri,. ku mohon pada mu,..sekali ini saja dengarkan permintaan terakhir ku..."


"Jalani kehidupan mu dengan baik, lupakanlah aku, jangan pernah mengingat ku lagi,..tinggalkanlah aku seorang diri.."


"Kamu mau kan di,..memenuhi permohonan terakhir ku ini,..?"


Andi menghela nafas sedih dengan airmata bercucuran tak tertahankan lagi.


Dia memegang kedua bahu Viona yang kurus ceking dengan erat.


Lalu memaksa memutar tubuh Viona agar menghadap kearahnya, Andi menggunakan sepasang tangannya dengan lembut.


Menyibak rambut Viona kesamping, mengagkat dagu Viona agar Viona melihat kearahnya.


Tapi Viona malah memilih memejamkan sepasang matanya rapat rapat.


"Vi,..tataplah aku, tatap mata ku, kamu dengar baik baik, kecuali aku mati, kecuali kamu tikam pisau ini tepat ke jantung ku, hingga berhenti berdetak, aku mungkin baru akan sepenuhnya melepaskan mu.."

__ADS_1


__ADS_2