AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KESEDIHAN MAMA VIOLIN


__ADS_3

Setelah nyasar kesana kemari, dan bertanya jalan kesana-kemari, akhirnya, Andi berhasil kembali ke kost nya.


Di tempat lain, Violin setelah tiba di rumah, dia langsung masuk kedalam kamar kedua adiknya yang sedang asyik bikin PR.


"Dodi Rina lihat kakak bawa apa untuk kalian ?"


ucap Violin sambil tersenyum lembut.


"Hore kakak pulang bawa makanan...!"


teriak kedua adiknya gembira sambil maju memeluk Violin.


"Ayah Ibu sudah pulang ?"


tanya Violin sambil mengelus kepala kedua adiknya dengan penuh kasih sayang.


"Ayah belum, tapi ibu sudah, mungkin sekarang sudah tidur karena ibu tadi terlihat lelah."


ucap Dodi.


"Kak Lin Rina lapar.."


ucap Rina sambil menatap bungkusan di tangan Violin dan menelan ludahnya sendiri.


"Ya sudah ikut kakak kedapur, kakak siapkan makanan, kalian cuci tangan yang bersih baru makan.."


ucap Violin sambil membimbing kedua adiknya berjalan menuju dapur.


Violin duduk termenung menatap kedua adiknya yang sedang makan dengan lahap.


Meski orangnya duduk di sana, tapi pikiran violin kemana mana.


Sebentar ke kakaknya, ke kedua orang tuanya adik adiknya dan terakhir ke Andi.


Meski belum yakin 100% tapi hati kecil Violin kini condong ke Andi.


Violin sangat berharap Andi memang orang yang baik dan bisa di andalkan, sehingga bisa bersanding dengan kakaknya.


Kelak mereka bisa hidup bersama saling mencintai dengan bahagia.


Selain itu Violin juga berharap Andi bisa membantu menyelesaikan problem keuangan yang di hadapi keluarga nya.


Meski hal ini terdengar egois, tapi selain Andi, Violin tidak menemukan orang lain yang bisa di harapkan.


Tadinya dia sempat berharap banyak pada Rio, tapi setelah kembali ke kota B, Rio tidak pernah terdengar lagi kabarnya.


Satu satunya hal bermanfaat yang Rio lakukan untuk keluarganya, hanya menangguhkan masa jatuh tempo ayah nya.


Hal lain tidak ada, bahkan menelpon menanyakan kabar pun tidak.


"Kakak gak makan..?"


tanya Dodi, membuyarkan lamunan Violin.


"Ehh ohh.. tidak usah kamu makan saja, kakak sudah makan tadi.."

__ADS_1


ucap Violin gugup.


"Kakak dari tadi terus melamun, kakak sedang memikirkan apa ?


ucap si kecil Rina dengan tatapan matanya yang indah dan polos.


Violin tersenyum lembut dan berkata,


"Tidak ada apa-apa, kakak cuma sedang mikirin pelajaran sekolah kakak saja.."


"Ayo cepat makan, setelah habis bisa melanjutkan menyelesaikan PR kalian, habis itu cepat tidur."


"Biar besok pagi gak kesiangan saat ke sekolah.."


ucap Violin mengingatkan adik adiknya penuh kasih sayang.


"Ya kak..."


jawab kedua adiknya patuh.


Keesokan paginya, saat bangun tidur, Violin buru-buru keluar dari kamar nya, saat mendengar suara teriakan dari ibunya.


"Lin. Lin...! ayo bangun...bantuin mama...!"


"Aduh lihat papa mu, ..aihhh...sungguh merepotkan nih orang...!"


"Ya ma ada apa ?"


ucap Violin mendekati namanya, yang suaranya berasal dari depan rumah.


Saat tiba di depan rumah Violin buru-buru maju membantu mamanya memapah ayahnya, yang teler karena kebanyakan minum, sehingga tertidur di depan pintu rumah mereka.


Setelah berhasil memapah ayahnya dan menidurkan nya di ranjang.


Ibu Violin pun berkata, sambil menangis.


"Lihat kelakuan ayah mu ini, sudah tua masih aja bikin capek..."


""Mama sungguh lelah rasanya ingin mati saja..."


ucap mama Violin kesal sambil menangis dan memukuli dadanya sendiri.


Violin hanya bisa duduk di samping namanya sambil mengurut punggung mamanya sambil berusaha menenangkan mamanya dan berkata,


"Tenang ma... tenangkan diri mama...sabar ma...sabar..."


Violin sendiri ikut sedih dan berurai airmata melihat kondisi ibunya.


"Tenang,..? kamu suruh ibu bagaimana bisa tenang..?"


"Sabar...sabar...mau sampai kapan mama harus bersabar.... lelah Mama sungguh lelah menghadapi keadaan keluarga ini..."


"Ingin rasanya mama mati saja...biar tidak usah melihat lagi semua ini..."


ucap mama Violin sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kalau tidak berpikir Rina dan Dodi masih kecil-kecil, sudah lama,...mama pengen mati saja...mama sungguh-sungguh sudah sangat lelah...mama sangat lelah nak...hu...hu...hu..hu..!"


ucap mama Violin menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Mama. jangan berkata seperti itu ma... Violin kak Viona Dodi dan Rina juga papa...kami semua sangat membutuhkan mama...jadi mama harus kuat ma.."


ucap Violin sedih.


"Mama sudah bekerja pagi siang malam demi keluarga ini, tapi hutang kita tetap saja ada di mana mana..."


"Mama sampai malu mau belanja karena apa ? karena semua warung di sini tidak ada lagi yang tidak punya catatan hutang kita.."


"Kalau mereka tidak bersedia lagi memberi hutang belanjaan ke kita, terus kita semua mau makan apa ?"


ucap mama Violin melepaskan kekecewaan dan emosinya.


"Lihat papa mu,. setelah bisnisnya gagal ketipu orang, dia bukannya pergi bekerja atau melakukan sesuatu yang berguna buat keluarga.."


"Dia malah memilih teler dan larut dalam minuman laknat itu, setelah sadar dari mabuk dia bisa apa ? selain marah marah dan melampiaskan emosinya pada mama..."


"Belum lagi kakak mu Viona, yang punya tunangan orang kaya, selain menangguhkan jatuh tempo ayah mu, apa yang dia bantu untuk keluarga..?"


"Dia di sana hanya tahu bersenang-senang, dan malah diam diam bercinta cinta an dengan si parasit Andi bajingan itu.."


"Sehingga tunangannya marah dan tidak mau memberikan bantuan pada kita..."


"Lin Mama sungguh lelah rasanya kepalaku mau pecah, memikirkan kondisi keluarga ini.'


"Tapi kenapa mereka satupun tidak mau mengerti dan berusaha mengulurkan tangan mereka buat bantu mama...?"


"Hu...hu...hu..! Mama benar benar lelah nak...!"


ucap Ibu Violin sambil telungkup menangis di kasur di sebelah ayah Violin yang tertidur pulas, karena mabuk tidak sadar kejadian yang terjadi di sekitarnya.


Violin tidak tahu mau berkata apa,


Dia hanya bisa berdiri diam dan terus menatap kearah ayah ibunya, dengan cucuran air mata yang tidak berhenti.


Tiba-tiba Dodi dan Rina masuk kedalam kamar dan berkata,


"Kakak apa yang terjadi,? Mama kenapa ? kenapa mama menangis kak ?


Kedua anak itu mulai terlihat mewek ingin menangis.


Violin buru-buru menghapus airmatanya dan berkata,


"Tidak apa-apa, mama hanya lelah saja, Ayuk ikut kakak, pergi mandi.."


Violin sambil berusaha tersenyum , dia membimbing kedua adiknya pergi mandi.


Setelah membantu kedua adiknya mengenakan seragam dengan rapi, dia pun pergi kedapur menyiapkan sarapan nasi goreng alakadarnya, untuk sarapan dan bekal kedua adiknya di sekolah.


Setelah itu dia sendiri baru mengganti baju tidurnya dengan seragam sekolah.


lalu mengajak kedua adiknya pamit ke mama nya sebelum berangkat.

__ADS_1


"Ma Violin Dodi dan Rina berangkat kesekolah dulu ya ?"


ucap Violin berpamit dari depan kamar mamanya.


__ADS_2