AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MENELPON SANTI


__ADS_3

Setelah kedua belah pihak di pertemukan oleh wasit pertarungan.


Pertarungan pun di mulai begitu terdengar bunyi bell.


Para penonton mulai berdiri berjubel jubel di pinggir lapangan, mereka menatap kearah arena pertarungan dengan penuh antusias.


Mereka juga mulai bersiap siap melakukan pertaruhan, dengan memilih jagoan andalan mereka masing-masing.


Suara teriakan riuh rendah mulai mewarnai area di sekeliling arena pertarungan.


Andi yang berdiri di tengah lapangan, hanya menatap tajam kearah pergerakan lawannya.


Lawan Andi yang berjuluk the Razor ,(pisau silet ) mulai bergerak gerak mengelilingi Andi. Sambil mencari posisi yang baik untuk melepaskan serangan nya kearah Andi.


Sebaliknya Andi bersikap tenang, dia tidak merubah posisi kuda kudanya sama sekali, hanya terus melirik pergerakan lawannya.


Saat the Razor berada di belakang Andi, the Razor mulai bergerak dengan kecepatan tinggi menerjang kearah tulang punggung Andi dengan lutut kakinya.


Tubuhnya melayang kedepan dengan lutut sebagai andalan, untuk menghantam tulang belakang Andi .


Andi mendengar desir suara angin di belakangnya.


Dia menggeser kakinya kesamping, sehingga serangan tersebut mengenai tempat kosong.


Di saat bersamaan Andi melakukan tendangan memutar, yang menghantam tengkuk lawannya dari arah belakang.


Tanpa bisa di cegah lagi lawan Andi tersungkur kedepan, dengan wajah menghantam lantai.


Pingsan tidak bergerak lagi.


Sebenarnya sebelum lawan Andi wajahnya menghantam lantai, dia sudah pingsan duluan. Karena pusat syaraf di leher belakang nya, bergetar hebat terkena tendangan keras yang Andi layangkan.


Wajahnya yang menghantam lantai dalam posisi sudah pingsan, sudah tidak dia rasakan lagi sakitnya, sewaktu mukanya menghantam lantai.


Hanya saja kejadian terakhir tersebut memperparah luka yang dia alami.


Wasit buru-buru tiarap di sebelahnya, memberikan hitungan satu sampai sepuluh, setelah itu wasit pun berdiri memberi tanda pertarungan telah berakhir.


Penonton banyak yang berteriak kecewa, karena pertarungan berjalan terlalu cepat, tidak sesuai dengan harapan mereka, yang menginginkan pertarungan sengit dan berdarah-darah.


Sungguh sadis otak para penonton psikopat dan kaya raya ini.


Mereka tidak berpikir sama sekali, bagaimana bila mereka yang maju bertarung dan mendapatkan siksaan seperti itu.


Bila itu terjadi pada mereka, satu pukulan pun cukup membuat mereka menangis sampai terkencing kencing.


Begitulah manusia semakin besar bacotnya, semakin kosong pula isinya, gak berbeda jauh dengan pejabat yang pintar berkoar-koar.


Tapi hasilnya nihil.


Tanpa menghiraukan teriakan kecewa dari para penonton, wasit maju memegang tangan Andi dan mengangkat nya tinggi tinggi.

__ADS_1


Sebagai pertanda Andi lah pemenangnya, Berry dengan wajah kaget bercampur gembira segera berlari memeluk Andi.


Setelah puas melepaskan kegembiraan nya, dia buru-buru menyelimuti Andi dengan mantel handuk.


Lalu membawa Andi meninggalkan arena pertarungan menuju ruang ganti.


Sedangkan si Razor terlihat sedang di gotong keluar dari arena pertarungan.


Andi setelah duduk di ruang ganti langsung berkata,


"Berry cepat daftarkan pertandingan kedua ku.."


"Apa apa,.. maksud mu di...? kamu baru menjalani pertarungan jangan gila di...!"


ucap Berry terkejut dan tidak percaya.


Andi tersenyum lalu menepuk bahu Berry dan berkata,


"Kamu tenang saja,.aku baik-baik saja.."


"Cepat ikuti perkataan ku, pergilah cepat daftarkan babak berikutnya.."


"Langsung ke menengah atau profesional juga gak papa bila gakda lawannya.."


Mendengar ucapan Andi , berry langsung menelan air ludahnya sendiri.


Tapi dia tidak banyak membantah lagi, dia langsung bergegas pergi menjalani pernintaan Andi.


Tak lama kemudian berry telah kembali dan berkata,


"Aku sudah mendaftarkan nya, tapi hati hati lah lawan mu selanjutnya adalah jagoan taekwondo yang belum pernah terkalahkan dalam 5 pertandingan terakhir.."


Andi mengangguk sambil tersenyum tenang dan berkata,


"Tenang saja percayakan pada ku.."


Andi berpikir dalam hati sambil tersenyum, selain James kakak Sarah yang datang.


Baginya tidak ada yang perlu di khawatirkan, Andi yakin James tidak akan datang bukan tanpa alasan.


Santi yang menjadi magnetnya sedang ada di kota B, tidak mungkin si James meninggalkan nya, untuk datang ke kota J, mengikuti pertarungan gelap seperti ini.


Berpikir tentang Santi, Andi jadi teringat dengan rencananya tadi pagi yang batal, karena adanya permintaan bantuan dari Violin.


Andi buru-buru mengeluarkan HP dari tasnya, dan mengirim pesan ke Santi.


"Hallo San apa kabar ? gimana kabar mu sekarang ?"


tanya Andi basa basi sebelum bertanya tentang Viona.


Tidak perlu menunggu lama, Santi langsung membalas pesan Andi dan berkata,

__ADS_1


"Kabar ku Baik di,.. gimana kabar mu di sana ? apakah semua lancar..?'


"Aku baik-baik saja San, semua berjalan cukup lancar kuliah dan kerja sudah ku dapatkan, thanx ya.."


balas Andi.


"Hi...hi...hi...gak usah basa basi , bilang aja mau nanya kabar Viona kan ?"


balas Santi.


"He...He...He.. tahu aja kamu San... ya nih beberapa waktu ini, Viona tidak membalas Chat ku, juga tidak mengirim chat ke aku dia kenapa ya ? apa dia baik baik saja ?"


"Kamu tenang saja, Viona baik baik saja kok.."


"Cuma dia dapat tugas magang mencari dan mengumpulkan data perusahaan PT PC, yang terletak di daerah pinggiran kota B.."


"Sehingga susah sinyal jadi harap maklum aja, bukan cuma kamu yang tidak mendapatkan balasan chat darinya."


"Bahkan pacar kontrak nya yang penasaran langsung berangkat ke sana untuk menemuinya."


"Juga harus pulang dengan memble, karena aturan di PT PC sangat ketat, dia tidak mengijinkan orang luar yang tidak terdaftar, untuk bisa sembarangan keluar masuk pabrik."


"Apalagi Viona di tempatkan di Mess putri yang terletak di posisi paling ujung dari pabrik, tentu saja semakin sulit untuk menemui maupun menghubunginya, karena lokasinya sendiri agak terisolasi dari dunia luar.."


balas Santi memberi penjelasan.


"Lalu kenapa kamu bisa tidak ikut kesana ?"


tanya Andi heran.


Santi tertawa dan berkata,


"Kalau itu aku gak ngerti, kamu harus tanya sama James.."


"Aku hanya tahu, sewaktu, dia tahu aku akan di kirim oleh kampus kesana."


"Dia melakukan satu panggilan telpon, besoknya saya di panggil dosen pembimbing dan dekan kampus."


"Mereka mengatakan padaku, aku batal di berangkatkan ke sana, sebagai gantinya aku di beri tugas merangkum semua data yang berhasil Viona dan kelompoknya dapatkan di sana.."


"Emang kamu tidak tanya ke dosen dan dekan apa alasannya ?"


tanya Andi heran.


"Tentu saja aku sempat menanyakan alasannya, tapi dekan kampus hanya tersenyum dan tidak menjawab ku."


"Lalu apa yang di katakan James.. saat kamu menanyakan hal ini padanya. ?"


tanya Andi lagi.


"Aku juga sudah tanyakan ke James, tapi si menyebalkan itu, cuma membalas ku dengan sebuah senyuman misteri.."

__ADS_1


__ADS_2