
Patung ini selalu dia simpan dengan hati-hati, agar jangan pernah sampai terlihat oleh suaminya.
Di saat saat hatinya sedang kecewa dan bersedih.
Hanya patung inilah satu satunya teman cerita dan curhatnya.
Viona sambil menatap patung di dalam tangannya, dia bergumam kecil seorang diri.
"Andi bagaimana kabarmu saat ini,? maafkan aku di,.. yang tidak setia dan mengecewakan semua pengorbanan mu.."
"Semua yang ku alami saat ini adalah hasil karma ku sendiri, aku layak menerimanya.."
"Semoga kamu hidup berbahagia di.."
"Aku tahu kita tidak mungkin bisa mengulang kisah cinta kita yang begitu indah seperti dulu lagi.."
"Tapi aku benar-benar sangat merindukan hari hari itu di..."
ucap Viona penuh perasaan sambil termenung dan bercucuran airmata.
"Aku tahu seribu kata maaf tidak akan bisa mengobati perasaan mu yang terluka di.."
"Tapi selain kata itu, aku benar-benar tidak tahu mau berkata apa lagi pada mu di.."
ucap Viona sedih dengan airmata jatuh menetes keatas wajah patung ditangannya.
Tiba-tiba Viona mendengar langkah kaki berjalan mendekati kearah kamarnya.
Viona buru buru menghapus airmatanya dan menyimpannya, lalu menutupi patung ukir itu dengan rapi di dalam laci meja riasnya.
Viona buru buru membalikkan badannya menatap kearah pintu kamarnya.
Sesaat kemudian terlihat pintu kamar terbuka, lalu seorang pria bertubuh tinggi besar berwajah tampan melangkah masuk kedalam kamar.
Dialah suami Viona saat ini Rio, pria yang dulu sangat tidak di sukai oleh Viona.
Bahkan mimpi pun Viona tidak akan pernah menyangka, dia akan menjadi istri pria ini.
Tapi saat ini, itulah kenyataan yang tidak bisa dia hindari, setelah dia berhubungan dan hamil di luar nikah.
Mau tidak mau dia harus menerima nasibnya, menjadi istri pendamping hidup pria ini.
Sambil berjalan menghampiri Viona dengan senyum lembut dia berkata,
"Kamu belum tidur ya Vi,.. kamu pasti sudah mendengar semua pertengkaran konyol ku bersama ayah ya Vi..? maaf ya membuat mu tidak nyaman.."
Rio menghampiri Viona dengan mesra, sambil berlutut di samping Viona, dia memeluk dan menciumi pipi dan perut Viona dengan lembut dan membelai belai perut Viona.
"Apa yang terjadi ? kenapa kalian bertengkar lagi..?"
tanya Viona lembut sambil membelai kepala suaminya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bukan masalah, jangan terlalu di pikirkan.."
"Ayah memang suka seperti itu, beberapa hari kemudian semua juga kembali normal.."
"Besok kita pindah saja dari rumah ini, kita cari rumah kontrakan saja.."
"Jadi kamu tidak perlu khawatir dan sedih lagi.."
ucap Rio lembut.
Viona menghela nafas panjang dan berkata,
"Rio pindah bagi ku bukan masalah, kemanapun kamu pergi sebagai istri mu, aku pasti akan selalu mendukung dan mendampingi mu.."
"Tapi sebagai istri mu, setidaknya kamu harus beritahu kan pada ku."
"Apa alasannya, apakah benar-benar tidak ada kemungkinan berbicara baik baik dan merundingkan lagi dengan ayah mu.."
"Bagaimana pun dia tetap ayah mu Rio.."
"Kamu sering keluar minum, pulang mabuk hingga tidak pergi kerja ke kantor, sebagai ayah juga atasan mu adalah wajar bila dia marah Rio.."
ucap Viona pelan.
"Sudahlah Vi,.. boleh tidak kita tidak usah bahas hal itu, aku sudah capek kamu juga pasti capek.."
"Bagaimana bila kita istirahat saja..?"
tanya Rio lembut sambil menggenggam tangan Viona.
Setelah berdiam beberapa saat, akhirnya Viona tidak bisa menahan diri dan kembali berkata,
"Rio ceritakan pada ku, mengapa akhir akhir ini kamu dan ayah sering bertengkar.."
"Kamu sendiri juga memilih bermabuk mabukkan dan tidak pergi bekerja..?"
Rio menghela nafas panjang berulang kali seperti berat bercerita, kemudian dia berkata,
"Vi tidakkah bisa kita lupakan saja, aku berjanji pada mu, setelah pindah dari sini aku akan cari kerja baru ditempat lain..'
"Aku tidak akan pernah keluar malam meninggalkan mu pergi mabuk lagi, gimana ?"
Viona menggelengkan kepalanya, dan berkata,
"Kamu bisa mandiri dan berubah tentu aku senang Rio.."
"Tapi setidaknya biarkan aku untuk tahu dan berbagi suka duka dengan mu, karena aku kini adalah istri mu.."
"Dan satu hal perlu kamu ingat Rio, aku sudah tidak pegang uang sama sekali, bagaimana kita bisa melanjutkan hidup diluar tanpa punya uang.."
"Aku tanya pada mu berapa uang yang kamu punya saat ini..?"
__ADS_1
ucap Viona sambil bangun menatap suaminya dengan serius.
Rio menatap Viona dan tersenyum masam, lalu berkata.
"Maaf Vi aku benar-benar suami tak berguna yang hanya bisa membuat mu berkhawatir untuk ku saja.."
"Harusnya dulu aku tidak menganggu mu, tentu kamu akan hidup lebih berbahagia bersama dia."
"Maafkan aku Vi.."
ucap Rio tertunduk lesu.
Viona menyentuh tangan Rio dan berkata,
"Rio kamu tidak pantas berkata seperti itu, aku memilih mu menjadi suami ku.."
"Tentu saja aku dan dia sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.."
"Semua sudah masa lalu bagi ku, saat ini yang terpenting dalam hidup ku adalah kamu.."
"Karena kamu saat ini adalah suami ku, calon ayah dari anak yang sedang ku kandung ini.."
Rio menatap Viona kemudian menariknya ke dalam pelukannya dan berkata,
"Terimakasih Vi..aku sungguh beruntung bisa menjadi suami mu.."
"Kamu adalah anugrah terbaik dalam hidupku.."
"Vi terus terang saja, selain kartu kredit ku ini, di tabungan ku sama sekali tidak ada uangnya lagi.."
"Kamu ingin tahu yang sebenarnya, baiklah kurasa hari ini, mulai malam ini aku tidak akan menutupinya lagi dari mu.."
Rio terlihat menghela nafas berat Sebelum melanjutkan perkataannya.
"Vi ketahuilah,. semua biaya pernikahan kita dan semua pengeluaran resepsi kita, ayah ku tidak bersedia menanggung sepeserpun.."
"Karena aku menolak untuk menikah dengan Vivian Lim, putri konglomerat sahabat ayah ku itu.."
"Penolakan ku yang lebih memilih menikahi mu, membuat ayah ku kehilangan sejumlah proyek penting dari ayah Vivian Lim.."
Viona sangat terkejut mendengar cerita Rio, dia benar-benar tidak menyangka ada cerita sebesar ini, dibaliknya yang selama ini di rahasiakan oleh Rio darinya.
Pantas saja ayah Rio terlihat sangat antipati dengan nya sejak awal pernikahan hingga saat ini.
Rupanya karena masalah kehilangan proyek besar yang merugikan bisnis nya itu.
Rio tersenyum pahit melihat reaksi Viona kemudian melanjutkan berkata,
"Karena aku juga tidak memiliki banyak tabungan cukup untuk pesta dan resepsi.."
"Aku terpaksa menggunakan kartu kredit ini.."
__ADS_1
"Saat jatuh tempo dan aku mulai di kejar kejar hutang, aku terpaksa membohongi mu dengan berbagai alasan bisnis.."
"Mengambil uang mu untuk menutupi hutang hutang ku.."