
"Kamu, ahh Lin mengapa kamu harus seperti itu..?"
ucap Andi menatap Violin penuh haru.
Violin tetap dengan senyum lembutnya dan berkata,
"Kak aku tidak akan mundur dalam hal ini, kakak masih ingat pembicaraan kita saat di air terjun taman safari dulu..?"
Andi mengigit bibirnya sendiri menganggukkan kepalanya, dia sudah kesulitan menahan airmatanya yang runtuh.
Andi kesulitan menjawab, karena rasa haru memenuhi rongga dadanya saat ini.
"Kak kakak pernah berjanji pada ku, bila kelak aku berhasil memenuhi harapan kakak, menjadi seorang dokter sukses, kakak akan mengabulkan satu permintaan ku."
Andi hanya bisa menganggurkan kepalanya, tentu dia ingat dan dia tidak akan pernah melupakannya.
"Kakak apakah aku kini sudah termasuk seorang dokter sukses ?"
tanya Violin sambil tersenyum dengan mata sedikit berkaca kaca.
Andi kembali hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menatap Violin dengan tatapan bangga dan kagum.
"Kakak hari ini Violin akan menagih janji kakak itu.."
ucap Violin sambil menatap mata Andi lekat lekat.
Andi sambil tersenyum tak berdaya berkata,
"Baiklah katakan saja,.. kakak pasti akan berusaha memenuhinya."
Violin sambil tersenyum penuh kemenangan berkata,
"Aku ingin setelah kakak keluar dari rumah sakit, kakak datang ke orang tua ku, melamar ku menjadi istri kakak.."
"Aku mau kita menikah dan hidup bersama sampai tua, kakak mau kan memenuhi harapan ku ini ?"
Andi menatap Violin dengan tatapan haru, akhirnya dia membentangkan sepasang tangannya dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Melihat hal ini, Violin dengan senang langsung maju memeluk Andi, dia bahkan ikut naik keatas kasur pasien, berbaring dalam pelukan Andi.
Violin kembali bisa merasakan sikap Andi yang kembali mesra dan hangat.
Tidak sekaku dan secanggung seperti sebelumnya.
Hal ini membuat Violin kembali merasa sangat nyaman dan bahagia.
Andi juga merasakan kebahagiaan yang sudah lama hilang, kini perlahan lahan secercah harapan mulai hidup kembali.
Adalah keteguhan ketulusan dan rasa cinta Violin yang begitu besar, akhirnya meruntuhkan pertahanan terakhir Andi.
Tidak ada lagi alasan baginya, untuk menolak cinta tulus gadis kecil itu.
Andi kini hanya bisa berjanji di dalam hati semoga dia bisa sepenuh hati mencintai Violin, tidak akan menyakiti perasaan gadis itu.
Perlahan-lahan lupakan Viona, sepenuh hati hanya memberikan perasaan cintanya hanya untuk Violin.
"Tok,..tok,.tok,..!"
__ADS_1
terdengar bunyi ketukan di pintu.
Seorang suster muda membuka pintu kamar berjalan masuk kedalam ruangan.
Saat mendengar bunyi ketukan di pintu Violin buru buru turun dari ranjang Andi, dia merapikan pakaian dan rambutnya, dengan wajah merah dan bibir tersenyum bahagia.
Perawat itu saat masuk kedalam kamar Andi sangat kaget dan berkata,
"Ehh Dokter Violin sudah visit kemari, maaf menganggu dokter."
"Saya hanya ingin mengecek air infus, sekalian mengantarkan obat dan makanan untuk.pasien..."
ucap Perawat itu penuh hormat.
Di rumah sakit ini, siapa yang berani bersikap kurang hormat dengan Violin ? sama aja sudah bosan bekerja dan ingin di pecat.
Dari atas hingga bawah semua orang sangat segan dengan Violin.
Violin boleh di bilang adalah anak masnya prof Peter dan para dewan direksi rumah sakit.
Violin termasuk salah satu aset yang selalu mendatangkan keuntungan besar buat rumah sakit.
Pasiennya sangat banyak, dan rata rata pelanggannya adalah kalangan atas golongan mampu.
Yang mereka cari adalah kesehatan, uang bukan masalah.
Apalagi violin hampir tidak pernah libur kecuali hari Minggu.
Violin menanggapi penjelasan perawat itu dengan anggukan kepala dan berkata,
"Tinggalkan saja semua, biar aku yang mengurusnya."
ucap perawat itu bingung dan ragu..
"Kenapa ? kamu pikir aku tidak bisa ?'
tanya Violin sambil memeriksa obat obat yang di bawakan oleh perawat itu.
Perawat itu menjadi serba salah, ini adalah tugasnya.
Bila ketahuan oleh manajemen, dia melemparkan tugas dan tanggungjawab nya, ke seorang dokter.
Dia bisa langsung di pecat,secara tidak hormat.
Apalagi dalam kasus ini adalah Violin, bisa lebih fatal lagi akibatnya.
Di saat perawat itu semakin bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Andi yang melihatnya menjadi kasihan Andi pun ikut berkata,
"Suster jangan khawatir, tinggalkan saja kami, Dokter Violin adalah calon istri ku.."
Mendengar penjelasan Andi, perawat itu sangat kaget, dia buru-buru menatap kearah Dokter Violin dengan tatapan mata tak percaya.
Tapi melihat dokter Violin tidak membantah dan hanya tersenyum dengan wajah sedikit merah.
Perawat itu mulai yakin dengan ucapan Andi.
__ADS_1
Sambil menganggukkan kepalanya dengan hormat kearah Andi dan Violin, dia pun buru-buru meninggalkan tempat itu.
Setelah perawat itu pergi, Violin sambil tersenyum lembut, dia menyuapi Andi makan.
"Maaf ya Lin, aku tadi spontan tanpa berpikir panjang langsung berkata begitu.."
"Aku tadinya cuma bermaksud agar dia tak perlu khawatir untuk tinggalkan kita berdua.."
"Aku gak kepikiran kalau gosip ini beredar, kamu pasti akan malu.."
ucap Andi merasa tidak enak hati.
Mendengar ucapan Andi, Violin malah tersenyum lebar dan berkata,
"Tidak apa-apa lagi, aku malah senang kalau semua orang tahu."
"Biarin aja kak, kenyataan nya kan emang begitu.."
ucap Violin santai sambil terus menyuapi Andi.
Andi menerima suapan dari Violin sambil menatapnya dengan penuh rasa haru dan berterimakasih.
Selesai membantu Andi makan dan minum obat, Violin membantu Andi berbaring, menurunkan tempat tidur kembali ke posisi normal.
Lalu memeriksa dan mengganti cairan infus Andi.
"Sayang habis minum obat, sebentar lagi pasti ngantuk, kamu tidurlah dengan tenang.."
"Aku mau pergi temui prof Peter, urus ijin cuti ku dulu."
ucap Violin lembut.
Andi mengangguk sambil tersenyum berkata,
"pergilah, tenang saja.. aku tidak apa-apa.."
Violin menatap Andi dengan tidak rela, dia membungkukkan badannya memberikan Andi kiss mesra, baru dia meninggalkan kamar Andi.
Setelah Violin pergi, Andi pun bangkit turun dari ranjangnya, Andi berjalan menuju lemari pakaian.
Andi membuka pintu lemari pakaian, mengeluarkan sebuah patung ukir kayu dari dalam tasnya.
Andi menatapnya dengan cukup lama, sambil menghela nafas panjang Andi berkata,
"Selamat tinggal Vi, demi kebahagiaan Violin, mulai hari ini aku harus belajar melupakan mu.."
"Semoga kamu hidup berbahagia, "
ucap Andi pelan, kemudian dia melepaskan jam tangan yang hampir tidak pernah jauh darinya.
Andi memasukkan sekalian jam tangan itu kedalam tas, setelah itu Andi menguburnya di bagia paling bawah pakaiannya.
Menutup kembali resleting tasnya, menutup pintu kembali pintu lemari.
Kemudian dengan pelan pelan Andi kembali lagi ke kasurnya, mencoba berbaring sambil memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
Setelah memperoleh cuti panjangnya tanpa kesulitan, Violin pun buru buru kembali ke kamar Andi.
__ADS_1
Saat kembali menemukan Andi sedang tertidur tenang, sambil tersenyum bahagia.
Violin pun ikut tersenyum bahagia.