
Violin sesekali melayangkan pandangan nya, menatap wajah Andi dari samping.
Meski terlihat sedih dan sedang muram, bagi Violin Andi tetap sangat tampan.
Hatinya berdebar-debar memikirkan apa yang kira kira akan Andi ucapkan padanya.
Panggilan Andi membuyarkan lamunannya.
"Lin..aku tahu dan mengerti apa yang sedang kamu pikirkan dan harapkan.."
"Mengenai kejadian beberapa waktu yang lalu, sekali lagi kakak minta maaf.."
"Sepanjang perjalanan kemari kakak selalu memilih menjauhi mu, itu bukan berarti kakak membenci dan tidak menyukai mu.."
"Kakak harap kamu mau mengerti, kakak melakukan semua itu demi kebaikan mu."
"Kakak takut, kakak tidak bisa mengontrol diri dan perasaan kakak, sehingga menjadikan mu sebagai tempat pelarian.."
"Itu sangat tidak benar tidak pantas dan tidak patut apa kamu mengerti..?"
"Itu adalah tindakan sangat tidak bertanggungjawab, memalukan dan sangat tidak adil bagi mu.."
ucap Andi sambil menatap lurus kedepan kearah air terjun.
"Kak,.. Violin rela menerima semuanya, asal bisa sedikit menghibur hati kakak, Lin rela kak.."
"Lin tidak akan menuntut apapun dari kakak, Lin tidak mempermasalahkan semua yang kakak sebutkan tadi.."
"Bagi Lin asal bisa menghibur kakak, Lin sudah senang dan bahagia.."
ucap Violin mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Andi memejamkan matanya sesaat, kemudian dia berkata,
"Lin kamu dengarkan kakak, kakak hanya punya satu harapan dari mu.."
"Kakak ingin kamu fokus sekolah dan menjadi dokter hebat kebanggaan kakak.."
"Kakak tidak bisa janji pada mu, kakak bisa melupakan Kakak mu Viona, meski dia telah menghancurkan harapan dan impian kakak.."
"Kakak tetap tidak bisa melupakannya, dan masih tetap sangat mencintainya, dan itu adalah kenyataan yang tidak mungkin bisa di ubah sampai kapan pun.."
"Kecuali kakak mengalami amnesia, bila tidak kakak akan terus mencintai nya, hingga akhir hayat kakak.."
"Kamu mengerti kan maksud kakak..?"
ucap Andi masih tidak menoleh melihat kearah Violin.
"Lin mengerti kak, Lin sangat mengerti.. makanya Lin sangat kagum dengan kakak dan Lin sangat iri dengan keberuntungan kak Viona.."
"Tapi sayang nya kak Viona malah memilih melepaskan kakak begitu saja, demi dia.."
"Tapi itu hak kak Viona, Lin tidak akan ikut campur dengan pilihan hidupnya.."
"Saat ini yang Lin inginkan hanya satu, Lin ingin menggantikan kak Viona mengobati hati kakak yang terluka.."
Andi mengangguk dan berkata,
__ADS_1
"Terimakasih Lin, terimakasih.. bila kamu ingin menghibur hati kakak."
"Maka jangan kecewakan harapan kakak pada mu, jadilah dokter terbaik.."
"Maka dengan begitu, hati kakak akan terobati dan berbahagia.."
"Kakak berjanji pada mu, bila kamu berhasil memenuhi harapan kakak, kakak akan penuhi satu permintaan mu.."
"Apapun itu, kakak akan meluluskan permintaan mu.."
ucap Andi sambil termenung.
Violin seketika berbinar matanya mendengar ucapan Andi, sambil tersenyum gembira dia mengangguk cepat.
Lalu mengulurkan jari kelingkingnya kehadapan Andi dan berkata,
"Baiklah kak,.. ayo kita berjanji.."
Andi mengerti maksud Violin, Andi mengulurkan tangannya membiarkan jari kelingkingnya dan jari kelingking violin saling mengikat.
Andi tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Violin saat ini.
Tapi dia sengaja menjanjikan hal ini, untuk membantu memacu semangat belajar Violin.
Andi yakin bila kelak violin sukses, dan sudah lebih dewasa dan pikirannya sudah jauh lebih matang.
Violin pasti akan menemukan pasangan yang lebih cocok dengan nya.
Sehingga dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan perasaan violin terhadap dirinya yang keliru itu.
Biarlah Viona menjadi kenangan pertama dan terakhir untuk nya.
"Kak,. tujuan ku sudah jelas, bagaimana dengan tujuan kakak kedepannya..?"
tanya Violin sambil menatap Andi.
Andi tersenyum lembut menoleh kearah Violin dan berkata,
"Tentu saja menyelesaikan skripsi ku, sampai sidang selesai, setelah itu aku akan kembali ke kampung menjenguk kedua orang tua dan kakek Ku."
"Kak aku boleh ikut tidak ke kampung mu, untuk berkenalan dengan keluarga kakak ?"
tanya Violin penuh semangat.
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Lin, kakak' ingin kamu fokus saat ini."
"Bila kamu sudah tamat dan jadi Dokter sukses, kemanapun kamu ingin, kakak janji akan menemani mu pergi."
"Ini di luar janji kita tadi.."
ucap Andi mencari alasan.
Violin mengangguk kecewa, tapi dia tidak membantah.
"Ayo.kita pulang,.. hari udah mulai sore, kurasa kedua adik mu dan papa mama tentu sedang menanti kita.."
__ADS_1
ucap Andi sambil berdiri, kemudian mengulurkan tangannya membantu Violin untuk berdiri.
Violin menyambut uluran tangan Andi sambil tersenyum riang.
Mereka berdua lalu meninggalkan tempat wisata air terjun yang mulai sepi itu.
Baru jam 4 lebih tapi kabut sudah mulai turun menyelimuti jalan pulang Andi dan Violin.
Violin sedikit takut sehingga dia memilih memepetkan tubuhnya ke lengan Andi.
Andi tetap bersikap tenang, membawa Violin kembali ke tempat Panggung Cowboy Show yang masih ramai pengunjungnya.
Setelah berkumpul kembali, mereka semua pun melanjutkan perjalanan pulang ke kota J.
Doddy dan Rina sudah tertidur pulas dalam pangkuan ibunya.
karena kelelahan dan mengantuk.
Dalam perjalanan pulang kedua orang tua Viona kembali saling pandang sambil tersenyum, karena putri mereka kembali cerewet dan ceria.
Setelah mengantar keluarga Viona hingga tiba di rumah, Andi pun langsung pamit dan kembali ke kostnya.
Setelah mandi, Andi langsung melanjutkan menyelesaikan skripsinya.
Dalam beberapa hari kedepan nya, Andi memilih menenggelamkan diri nya dalam lautan buku, untuk secepatnya menyelesaikan skripsi yang sedang dia kerjakan.
Andi melakukan gerak cepat dalam satu bulan, akhirnya Andi berhasil merampungkan seluruh skripsinya hingga ke sidang.
Setelah selesai dan di nyatakan lulus dengan hasil sangat memuaskan.
Andi pun langsung berkunjung ke rumah orang tua Viona sore itu juga.
Di sana Andi bermain bersama Doddy dan Rina sambil menunggu kepulangan Kedua orang tua Doddy dan Rina.
Sedangkan Violin tidak terlihat, karena dia sedang pergi kursus bahasa Inggris bersama teman temannya.
Saat hari mulai gelap, kedua orang tua Viona baru pulang kerumah, hampir berbarengan dengan Violin yang juga pulang dari kursusnya di rumah temannya.
Letak tempat kursusnya masih di sekitar komplek perumahan elite itu juga.
Komplek perumahan mewah yang rata rata semua rumah disana di bangun menghadap kearah laut.
Melihat Andi di sana Violin dengan riang berkata,
"Kak Andi tunggu ya, Lin mandi bentar setelah itu kita makan malam bersama."
Andi mengangguk sambil tersenyum berkata,
"Pergilah..kakak tunggu .."
"Pa Ma,.. apa kabar kalian berdua ? lama tidak bertemu papa mama terlihat semakin mesra dan awet muda..?"
tanya Andi sambil menyalami kedua orang tua Viona sambil bercanda.
"Kamu bisa aja, melebih lebihkan,.."
tegur mama Viona tersipu malu , tapi hatinya gembira karena di puji awet muda.
__ADS_1