
Bila tidak kita buka restoran, pasti akan jauh lebih baik penghasilan kita, ketimbang saat ini."
"Investor bukan, pemegang saham juga bukan, melarat ma ya.."
ucap Andi sedikit kecewa dengan pencapaian nya saat ini.
Berry memilih tidak terlalu menanggapinya, karena dia tahu suasana hati sahabat nya pasti sedang buruk.
Akibat ucapan nya yang menyinggung tentang Violin, Berry yang selalu bersama Andi selama satu tahun ini.
Tentu dia hapal betul bagaimana perasaan Andi terhadap Violin, Andi tidak pernah sedetikpun pernah bisa melupakan gadis itu dari hidupnya, meski mereka sudah datang ke Amerika hampir setahun lebih.
Berry menundukkan kepalanya dan terus makan bubur ikan yang ada di hadapannya tanpa banyak bicara.
Andi sendiri hanya makan beberapa suap saja, dia sudah kehilangan moodnya untuk makan.
Andi menggunakan plastik Wrap untuk menutupi sisa bubur ikannya di mangkuk.
lalu membawanya untuk di masukkan ke dalam kulkas.
Berry hanya melirik sejenak, gerak gerik sahabatnya.
lalu dia kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan makannya.
Dia tahu ini salahnya, ucapan nya tadi mengenai violin, telah menoreh luka lama di hati sahabat nya itu, yang tidak pernah sembuh.
Tidak heran Andi langsung drops semangatnya, dalam kondisi seperti ini, paling baik adalah diam.
Jangan pernah mencampuri, apapun yang Andi lakukan.
Andi Setelah menyimpan bubur ikannya kedalam lemari es, dia kembali kemeja makan duduk di hadapan Berry dan berkata,
"Berr menurut mu harga penawaran Mr Bronson gimana ?"
Berry menggelengkan kepalanya sambil menghabiskan sisa bubur di mangkuknya, lalu berkata,
"Harga yang sangat tidak masuk akal, kamu tahu tidak semalam Lia bicara apa pada ku..?"
"Lia aslinya bukan sekretaris Marco, dia hanya DJ diskotik yang di sewa Marco untuk jadi sekretaris nya satu atau dua hari saja.."
"Sifatnya on call bukan pegawai tetap."
Andi sedikit terkejut mendengar ucapan Berry, dia buru-buru menegakkan badannya dan mendengar kan dengan serius.
"Kamu serius Berr, lalu siapa Marco
itu ? masa seorang manajer keuangan tidak punya sekretaris ataupun asisten nya?"
ucap Andi mulai tertarik dan kembali timbul semangatnya.
Melihat reaksi temannya, Berry pun berkata,
__ADS_1
"Siapa Marco ? Lia juga tidak tahu, dia hanya tahu dia di bayar cukup besar oleh Marco, yang merupakan salah seorang pengunjung di diskotik tempat dia kerja.."
"Saat dia datang ke pabrik, pabrik juga kosong gakda yang kerja, mesin mesin juga gak ada yang di hidupkan.."
ucap Berry sambil menatap Andi.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum mengejek, lalu berkata.
"Ayo kita cari tahu sendiri Berr, sekarang kita coba main kesana lihat lihat.."
ucap Andi penuh semangat.
"Tapi kita gak bisa masuk di,.. gimana bisa lihat lihat, kalau gerbang nya di tutup. ?"
ucap Berry mengemukakan pendapat nya.
Andi tersenyum dan berkata,
"Buat apa kita masuk kedalam, nanti yang masuk dan ambil gambar cukup mainan mu ini saja."
"Biar mainan ini ada manfaatnya, dibanding hanya di gunakan untuk ngintip kamar mandi dan apartemen orang.."
ucap Andi sambil tersenyum.
Berry tersenyum canggung dan berkata,
"Dasar sialan loe di,.."
ucap Berry sambil membawa laptop dan drone mainannya yang sudah lama gak dia mainkan, karena stress dengan kondisi keuangan mereka sekarang.
Dulu saat pertama tiba di New York, benda ini memang menjadi benda favorit nya.
Tapi kini benda ini sudah lama dia tinggalkan, sejak saham saham yang di invest nya, banyak yang anjlok dan bangkrut perusahaannya.
Berry sudah kehilangan mood untuk bersenang-senang.
Tidak lama kemudian terlihat mobil Mustang butut Berry, membawa dia dan Andi meninggalkan tempat tinggal mereka.
Saat mereka tiba di pabrik yang terlihat sepi dari luar.
Andi meminta Berry memutar menuju ke bagian samping pabrik.
Berry memarkirkan mobilnya, di bawah sebuah pohon, di bagian samping pabrik.
Lalu dia mulai mengoperasikan drone nya terbang masuk kedalam pabrik.
Dia dan Andi mulai memperhatikan layar monitor laptopnya Berry, di sana terlihat jelas tidak ada satupun mesin yang beroperasi.
Juga tidak terlihat ada karyawan yang sedang bekerja.
Setelah mengambil beberapa gambar, lewat drone nya.
__ADS_1
Berry pun menarik balik pesawat drone nya.
Merapikannya lalu mereka meninggalkan tempat itu.
Tapi Andi tidak langsung pulang dia masih meminta Andi mengantarnya berkeliling ke beberapa kantor urusan pertanahan daerah setempat.
Berry tidak tahu apa yang Andi lakukan dengan penuh semangat, meski harus turun naik mobil berulang kali.
Selain itu Andi juga berkunjung dan mengobrol dengan penduduk dan beberapa pemilik tanah yang memiliki lahan cukup besar.
Selesai dari sana Andi masih pergi ketempat pelelangan dan penampungan mesin pabrik bekas.
Baru mereka kembali pulang kerumah, Andi memilih tidur sepanjang perjalanan pulang kerumah.
Tapi saat tiba dirumah, Andi kembali memilih larut dalam kesibukan dengan Komputernya.
Sedangkan Berry langsung memilih pergi tidur.
Andi sendiri selama 3 hari hampir tidak pernah jauh dari komputernya.
Sedangkan Berry lebih banyak keliling di lapangan mencari informasi informasi yang Andi perlukan.
Terutama informasi seputar bisnis dan aset Mr Bronson, termasuk mencari informasi lewat beberapa teman dunia malam Berry, yang bekerja di perbankan.
Tepat hari ketiga Andi sudah mengumpulkan data yang cukup banyak.
Tapi dia sama sekali tidak pergi menghubungi Mr Bronson.
Andi malah memanfaatkan waktunya bersama Berry, pergi mengunjungi rumah dan kantor orang kaya di New York, Andi berusaha mencari investor yang cocok dan bersedia mendukung rencana proyek nya.
Meski lebih banyak di usir ketimbang di biarkan bertemu, apalagi yang bersedia mendengarkan penjelasan proyek Andi .
Tapi Andi tetap pantang menyerah, dia terus dengan gigih berusaha bertemu dan sebisa mungkin memperoleh kesempatan untuk menjelaskan rencana proyek nya ke mereka.
Dari hampir 100 konglomerat yang berhasil Andi temui, hanya ada sepuluh yang bersedia meluangkan waktu mendengarkan penjelasan rencana proyek Andi.
Itupun karena mereka kasihan dan kagum dengan daya juang Andi, di mana dalam kondisi duduk di kursi roda.
Andi masih terlihat begitu antusias, percaya diri, dan pantang menyerah.
Semangat juang Andi lah yang membuat mereka luluh, dan bersedia mengorbankan waktu mereka yang berharga, untuk dengarkan penjelasan Andi.
Tapi dari 10 calon investor itu, 5 di antaranya hanya mendengarkan penjelasan Andi tidak sampai setengah, sudah menghentikan presentasi Andi.
Mereka langsung menyatakan mereka tidak tertarik, dengan rencana proyek yang Andi tawarkan.
Hanya 5 yang bersedia meluangkan waktu mereka, mendengar kan penjelasan Andi hingga selesai.
Dan dari ke 5 investor itu hanya 3 investor yang tertarik,
Investor pertama adalah Wang dari China yang bersedia memberikan dukungan investasi US$ 100 juta.
__ADS_1