
"Hei kalian berdua kenapa mojok terus ? ayo kemari pemandangan di sini sangat menakjubkan loh..!"
teriak Santi sambil tertawa.
Viona juga terlihat tersenyum menanggapi gurauan Santi.
Andi sambil tersenyum berkata,
"Ayo kita kesana melihat-lihat pemandangan alam.."
Sarah mengangguk kemudian mereka berdua berjalan beriringan mendekati Santi dan Viona yang kini terlihat sudah segar.
Tidak terlihat keletihan seperti tadi sebelum mereka beristirahat.
Mereka berdua terlihat lebih ceria dan bersemangat.
Sambil berjalan Sarah merenungkan ucapan Andi barusan, lalu bergumam dalam hati.
"Andi ..Andi.. kenapa kamu selalu begitu mengagumkan, semua tindakan sikap dan gerak-gerik mu, selalu membuat ku, semakin sulit untuk melupakan mu."
"Andaikan saja kita bisa bersama, meski singkat dan hanya bisa satu hari saja, aku akan merasa puas dan hidup ku tidak akan pernah ada penyesalan lagi.'
Mereka berempat berdiri beriringan menatap kearah pemandangan lembah hijau yang diselimuti kabut tipis, dimana cahaya matahari mulai menembusnya.
Udara yang sejuk dan segar ditambah dengan pemandangan menakjubkan tersebut, membuat pengorbanan rasa capek dan lelah tadi terasa pantas.
Viona Santi Sarah terlihat sibuk mengambil foto, bahkan mereka meminta tolong orang yang lewat untuk membantu mengambil foto kebersamaan mereka berempat.
Setelah mengucapkan terimakasih, mereka berempat pun berlalu dari tempat tersebut, melanjutkan perjalanan mereka.
Kini mereka sudah tidak selelah tadi, karena setelah melewati dua tanjakan pendek, selanjutnya mereka tinggal melakukan perjalanan menuruni bukit D menuju kota L.
Perjalanan menurun tidak semelelahkan perjalanan mendaki.
Tapi Viona dengan manja berkata,
"Di,... aku capek..gendong Ya ?"
Andi tanpa banyak kata, langsung berjongkok didepan Viona.
Viona sambil tertawa langsung nemplok dipunggung Andi meringkuk di sana, sambil tersenyum lebar.
Santi dan Sarah saling pandang keduanya menggelengkan kepalanya, melihat sikap kekanak-kanakan yang di tunjukkan oleh Viona.
"Vi apa loe gak kasihan sama pacar loe, tega banget sih loe..!"
teriak Santi dari belakang.
Viona menoleh kebelakang menjulurkan lidahnya dan berkata,
"Biarin...! bilang aja iri..! makanya cari sono pacar, jangan cuma diem di kamar terus..!"
"Itu si Marcel brokoli terima aja, daripada kagak, ha..ha..ha..ha..!"
teriak Viona sambil menertawakan Santi.
Santi membanting kakinya dengan kesal dan berkata,
"Awas loe Vi... lihat aja pembalasan ku nanti."
__ADS_1
Santi melanjutkan langkahnya dengan bibir cemberut.
Sarah yang melihatnya dari samping hampir kelepasan tidak bisa menahan tawa, akhirnya dia menutupi mulutnya dengan tangan, agar tidak sampai keluar suara tawanya.
"Apalagi..? mau ketawa ketawa lah dengan puas, mau kentut kentut lah sampai puas daripada nanti jadi penyakit..!"
ucap Santi ketus kemudian kembali menghentakkan kakinya dan mempercepat langkahnya meninggalkan Sarah.
Sarah sedikit terkejut, kemudian dia berlari mengejar Santi dan berkata,
"Ehh tunggu San... kok gue juga ikut di labrak..?"
"Ya loe nya sih, bukannya belain malah ikut ngetawain sebel deh.."
ucap Santi nyolot
"Ya..ya..maaf,.. gitu aja ngambek..atu lah.."
ucap Sarah sambil tersenyum kemudian merangkul pundak Santi.
"San kamu serius sama siapa itu..si brokoli dari irian itu..?"
tanya Sarah penasaran.
"Ya gak lah..! gila apa..? itu dasar si gendeng itu aja suka bicara seenak perutnya.."
ucap Santi sewot .
"Tapi gak mungkin ada api tanpa ada asap kan ?"
tanya Sarah memperhatikan sahabatnya.
"Begini ceritanya, si kribo brokoli itu Marcel namanya, dia sekelas dengan gue dan Viona.."
"Akhir-akhir ini dia terus mendekati gue, ngirim coklat ngirim bunga, jadi tercipta deh gosip ini."
"Padahal gue udah nolak dengan cara halus ataupun kasar, tapi orang tidak tahu diri itu. Ngotot pantang menyerah terus menggangu ku."
"Akhirnya jadilah aku obyek ledekan teman-teman sekelas."
"Mungkin dia gak ngerti bahasa Indonesia kali..?"
ucap Sarah sambil tertawa.
Ya juga kali ye, kelihatannya gue perlu belajar bahasa irian untuk menolaknya.."
ucap Santi sambil tersenyum.
Kedua orang itu ngobrol sepanjang jalan tanpa terasa mereka berdua sudah memasuki jalan aspal yang rata.
Tapi masih tetap terus menurun jalanya, sedangkan Andi dan Viona juga terlibat obrolan mereka sendiri, seolah-olah dunia milik mereka berdua.
Bila melihat kedekatan kedua orang itu, tidak akan ada yang tahu sebentar lagi mereka berdua bakal berpisah.
Termasuk Santi dan Sarah pun tidak mengetahui hal ini.
Mereka hanya tahu Viona ayahnya terlilit hutang, dan dari pihak orang tua Viona menginginkan Viona untuk dekat dengan Rio.
Tapi tidak ada yang tahu, Viona sudah melakukan pilihannya, sebentar lagi dia akan meninggalkan Andi dan menjadi kekasih Rio.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka berempat tiba di Restoran Susu Murni yang mereka tuju.
Di sini rencananya mereka berempat akan melepas lelah sambil makan roti panggang kentang goreng sosis goreng dan SuSu Murni dengan berbagai macam pilihan rasa.
Restoran yang memiliki saung-saung terpisah-pisah, sangat cocok buat tempat melepas lelah dan mengobrol santai.
Sarah membawa ke tiga temannya menuju sebuah saung, yang di kelilingi kolam ikan hias di bawahnya
Begitu mereka berempat duduk, seorang pelayan datang menghampiri mereka menawarkan menu makanan dengan sopan.
Dia berdiri menunggu mereka berempat menulis menu pesanan mereka.
Setelah memesan beberapa macam menu sesuai keinginan teman-temannya, Sarah mengembalikan daftar pesanan ke pelayan yang sedang menunggu di samping mereka.
Pelayan itu dengan sopan membacakan satu per satu pesanan mereka.
Setelah memastikan tidak ada kesalahan dia pun meninggalkan tempat tersebut.
"Di,... temani aku ke Toilet yuk, kebelet nih.."
ucap Viona manja.
Andi mengangguk kemudian menatap Santi dan Sarah sambil berkata,
"Maaf aku tinggal bentar.."
Santi dan Sarah mengangguk dan berkata,
"Pergilah.. hati-hati.."
Tiba-tiba Santi yang masih menyimpan keki terhadap Viona berkata sambil tertawa.
"Udah cepat anterin tar ngompol lagi tuh nenek.."
"Tapi hati-hati jangan sampai tuh nenek di cium sapi, sapi paling suka tipe pantat nungging gitu.."
Santi dan Sarah kemudian tertawa terbahak-bahak menanggapi ekspresi Viona yang menggembungkan pipinya, lalu meleletkan lidahnya kearah mereka.
"Sudah yuk gak usah ditanggapi.. mereka cuma bercanda.."
ucap Andi sambil tersenyum dan merangkul bahu Viona meninggalkan kedua temannya.
Tak lama Viona pergi pesanan mereka pun datang, melihat Viona dan Andi tidak ada ditempat.
Sambil tersenyum nakal Santi menatap Sarah penuh arti.
Sarah buru-buru menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
Tapi Santi tidak memperdulikan tanggapan Sarah, dia sangat dendam terhadap Viona, yang tadi menjadikannya sebagai obyek ledekan, dengan membuka rahasia tentang si brokoli.
Santi dengan sadis menaburkan bubuk merica dan Saos sambal kedalam isi roti bakar selai nanas milik Viona.
Setelah itu dia meletakkan kembali ke posisi awal dengan rapi, seakan-akan belum tersentuh.
Sambil tertawa sadis dia mengedipkan matanya kearah Sarah.
Sarah hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia memanggil pelayan yang baru lewat memesan satu porsi tambahan buat cadangan dan segelas Es teh manis buat berjaga-jaga bila Viona tersedak kepanasan.
Santi bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, dengan santai dia makan kentang goreng di hadapannya.
__ADS_1