AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
ALASAN VIOLIN


__ADS_3

Dokter itu menatap Berry dan Violin dengan serius dan berkata,


"Pasien perlu di lakukan operasi sesegera mungkin di bagian otak, karena di bagian sana pasien mengalami pendarahan di dalam."


"Aku harap kalian berdua, bisa ikut dengan suster Vivi, untuk segera pergi mengurus segala sesuatu nya."


Beery dan Violin buru-buru mengangguk, lalu mereka segera mengikuti suster yang bernama Vivi itu, untuk pergi mengurus masalah administrasi dan pembayaran DP sebelum operasi di jalankan.


Setelah membereskan semuanya dengan buru-buru dan hati cemas, kedua orang itu kembali kedepan ruangan ICU, duduk menanti dengan cemas.


Mereka berdua tidak tahu lagi berapa lama, mereka menanti di sana, akhirnya lampu emergency di depan ruang ICU pun di padamkan.


Beberapa saat kemudian beberapa dokter yang masih mengenakan seragam operasi, berjalan keluar dari dalam ruangan ICU.


Berry dan violin langsung buru-buru berdiri menghampiri mereka.


Salah satu Dokter yang tadi meminta mereka pergi membereskan masalah administrasi.


Melangkah menghampiri Berry dan Violin, kemudian dia berkata,


"Operasi berjalan lancar, pasien sudah melewati masa kritis, saat ini pasien masih belum sadarkan diri.. karena pengaruh anastesi.."


"Bila nanti sudah sadar, suster akan memindahkannya ke ruangan rawat inap."


"pasien untuk sementara waktu harus di rawat di rumah sakit untuk dilakukan pemantauan dan Scan."


"Bila dalam satu Minggu tidak ada masalah, pasien baru boleh keluar dari rumah sakit."


"Tapi ada satu hal yang perlu saya ingatkan pada kalian, pasien tidak boleh lagi mengalami guncangan di kepala nya, selama 3 bulan ke depan."


"Bila itu terjadi, bisa berakibat fatal,


Ringan pasien bisa alami stroke, lupa ingatan, berat pasien bisa mengalami koma, atau bahkan bisa meninggal."


"Jadi tolong perhatikan itu, awasi pasien baik baik."


ucap Dokter itu memberi pesan dengan serius.


Violin dan berry saling pandang keduanya mengangguk setuju.


Mereka secara bergantian menyalami si dokter dan mengucapkan terimakasih.


Dokter itu mengangguk kemudian berlalu dari ruang tunggu, menyusul teman temannya yang lain.


Berry dan Violin kini sudah diijinkan masuk kedalam ruangan ICU melihat keadaan Andi.


Saat melihat keadaan Andi, Violin tidak dapat lagi menahan perasaan nya, dia kembali menangis sedih dalam dekapan Berry.


"Sudahlah Lin jangan nangis lagi, kamu tenanglah, bukankah dokter tadi sudah bilang Andi baik baik saja.."


"Sudah ya,..jangan nangis lagi.."


ucap Berry pelan menenangkan Violin.

__ADS_1


"Kak Berry, kak Andi sudah berkorban terlalu banyak buat keluarga kami,... buat kak Viona.."


"Dia bahkan kini jadi seperti ini, berulang kali keluar masuk rumah sakit dengan taruhan nyawa, hanya demi melunasi hutang ayah ku.."


"Aku sungguh sungguh sedih dan tidak tega melihatnya berjuang seorang diri seperti ini.."


ucap Violin sedih sambil menghapus airmatanya.


Berry menghela nafas panjang, dan berkata,


"Aku juga pernah berbicara dengan Andi, tapi dia mengatakan pada ku, dia melakukan semua ini tanpa penyesalan.."


"Asalkan bisa melihat kakak mu bahagia, dia siap melakukan apapun untuk nya.."


"Aku bisa melihat, kak Andi memang sangat mencintai kakak mu, melebihi dirinya sendiri."


"Jadi kamu tidak perlu bersedih lagi, karena ini memang kemauan Andi sendiri tidak ada yang memaksanya."


"Kamu, kakak mu, maupun keluarga mu dalam hal ini tidak bisa di salahkan, ini adalah kemauan kak Andi sendiri."


ucap Berry berusaha menghibur dan menenangkan Violin.


Saking asyiknya kedua orang itu berbicara, mereka berdua sampai tidak menyadari Andi sudah mulai bisa menggerak gerakkan jari tangannya.


Sesaat kemudian di susul dengan matanya yang perlahan-lahan mulai terbuka.


Andi akhirnya mulai bisa mendengar pembicaraan kedua orang itu, sesaat kemudian Andi berkata,


"Kalian berdua tenang saja, aku tidak apa-apa.."


Beery menatap Andi sambil tersenyum gembira, sedangkan Violin kembali menelungkup di dada Andi dan menangis seperti anak kecil.


Andi sengaja membiarkan Violin melepaskan semua kesedihannya, dia hanya mengelus perlahan rambut Violin.


Setelah tangis Violin rada mereda, Andi baru berkata,


"Lin sudahlah jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa kok, kamu tenang saja."


"Nyawa ku keras, tidak mudah mati, jadi tenanglah.."


Sementara itu Berry sudah menekan tombol menghubungi para suster.


Tak lama kemudian para suster pun datang melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Andi.


Setelah memastikan Andi dalam kondisi baik'baik saja, mereka baru membantu memindahkan Andi ke ruangan rawat inap.


Sesaat setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, dan para perawat medis telah pergi, Andi pun berkata,


"Berry dana kemenangan kita sudah cair belum ? kalau belum kamu harus membantu ku cepat pergi urus.."


Beery menepuk jidatnya sendiri dan berkata,


"Melihat mu dalam kondisi kritis gitu aku sampai lupa, ya udah aku segera pergi urus."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Lin aku titip kak Andi ya..?"


ucap Berry sambil tersenyum.


Violin mengangguk dan berkata,


"Kak Berry pergilah, di sini ada aku yang jaga."


Andi melihat kearah Violin dan berkata,


"Lin apa kamu ada lihat tas ku yang ku taruh di ruang ganti..?"


Violin mengangguk cepat dan berkata,


"Ada kak saya sudah menyimpannya di.lemari, kakak perlu apa..?"


"Lin tolong bawakan HP dan Jam tangan di dalam tas untuk ku, sekalian patung kakak mu.."


Violin mengangguk tidak begitu mengerti, tapi dia menuruti permintaan Andi tanpa banyak bertanya.


Violin segera membuka lemari mengeluarkan tas Andi, kemudian mencari barang yang di minta Andi.


Violin langsung menemukan HP sebuah jam tangan keren dan sebuah patung ukiran kayu yang sangat halus.


Patung tersebut sangat mirip dengan nya, hanya saja di patung tersebut dirinya terlihat jauh lebih dewasa.


Sekali lihat Violin pun sadar, patung itu bukan dirinya melainkan patung kakaknya.


Dengan hati-hati violin mengeluarkan Ketiga benda tersebut.


Lalu dia membawakan nya buat Andi.


Andi pertama tama, melihat jam tangannya, lalu dia mengenakan nya dan berkata,


"Lin kamu dari semalam terus disini dan belum pulang, kedua orang tua mu pasti khawatir."


"Kamu cepat lah pulang kembali ke rumah, aku di sini ada perawat yang jaga."


"Sudah bukan masalah, kamu tenang saja.."


Violin menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kak Andi tenang saja, aku tadi sudah ngabarin mama, aku akan pulang agak siangan."


"Mama juga tahu aku sedang berada di rumah sakit."


ucap Violin santai.


"Kamu bilang apa ke mama mu ? kamu gak bilang di sini sedang menjaga ku kan ?"


tanya Andi sedikit ragu.


"Ya nggaklah kak, aku bilang aku sedang di ajak Ronaldo lihat lihat dan magang di rumah sakit."

__ADS_1


ucap Violin sambil tersenyum.


__ADS_2