
Andi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dia terlihat tak berdaya menghadapi tingkah Apek kengkeng, yang sudah bawaan orok itu.
Andi melenggang melewati rombongan mereka , dia langsung naik ke lantai dua, menuju kamarnya, sambil menenteng raket yang baru di belinya tadi.
Tapi baru sampai di depan loteng, Andi terkejut, melihat Viona yang duduk di lantai bersandar di pintu kamarnya.
Viona terlihat sedang tidur, mungkin dia sudah menanti terlalu lama dan mengantuk sehingga tertidur.
Ada apa ini ? pikir Andi dalam hati, tapi kenapa tadi pulang aku tidak melihat ada motor Scoopy nya.
Apa dia kemari diam-diam tanpa bawa motor ? ada apa ini ? batin Andi.
Untungnya dia tidak melihat aku pulang di antar Sarah, bila tidak salah paham ini akan gawat pikir Andi.
Ahh tidak ini terakhir kalinya, aku pergi-pergi dengan gadis lain, lain kali bila Sarah mengajak jalan-jalan lagi, aku pasti akan mengajaknya menemani ku, batin Andi.
Aku tidak boleh biarkan dia bersedih hati, bila melihat ku jalan dengan cewek lain seperti saat aku melihatnya jalan dengan pria lain. gumam Andi membulatkan tekadnya, berjanji dalam hati.
Andi berlutut di samping Viona menyentuh pundaknya dengan lembut.
"Vi...Vi..bangun Vi...jangan tidur di sini..."
"Mmmphh..!"
Viona pelan-pelan membuka matanya, menatap pria yang membangunkannya.
Melihat Andi sudah kembali, Viona langsung tersenyum senang dan berkata,
"Kamu dari mana di ? aku tadi selepas kuliah, langsung mencari mu ke perpus, tapi kamu gak ada disana."
"Lalu aku datang kemari, menurut teman-teman mu, kamu belum pulang dari kampus."
"Karena penasaran aku menunggu di sini, tahu-tahu malah tertidur."
ucap Viona tersenyum malu dengan wajah sedikit merah.
Andi membantu Viona bangun berdiri, Kemudian dia membuka pintu kamarnya.
"Duduk lah dulu di sini, biar aku buka jendela dulu, biar segar udara nya."
Viona menurut duduk di kasur Andi, dia menegakkan bantalnya disandarkan ke dinding, lalu dia menyandarkan punggung nya di sana, sambil menatap bayangan punggung Andi, yang terlihat sedang membuka pintu jendela.
Viona tersenyum sendiri, mengingat kekonyolannya tadi.
Setelah jendela terbuka, udara segar pun langsung masuk, kamar yang tadinya sedikit remang-remang kini menjadi terang.
Andi memilih duduk di karpet di depan Viona dan berkata,
"Aku tadi memang ada di perpus sehabis dari kantin, tapi jam 11 an Sarah datang, meminta aku menemaninya ke toko sport."
"Karena kasihan dengan kakinya yang masih sakit, dan sangat tidak praktis menggunakan kursi roda."
"Jadi aku memutuskan menemaninya pergi."
Viona mengangguk, tapi dari tatapan mata dan ekspresi nya, sepertinya dia sangat kecewa dan kurang senang
"Jadi kamu cuma kasihan dengan dia ? kamu tidak kasihan dengan ku ?"
__ADS_1
ucap Viona sambil memaksa diri tersenyum
"Kamu lupa dengan janji mu, hanya akan menyukai dan mencintai aku seorang selamanya ?"
ucap Viona sambil menatap Andi dan tersenyum kecewa
Melihat hal ini, Andi langsung panik, secara reflek Andi menyentuh tangan Viona dan berkata,
"Vi kamu jangan salah paham, aku hanya kasihan pada Sarah, tidak ada perasaan lain sama sekali."
"Percaya lah pada ku Vi, maafkan aku ya Vi ? aku janji, lain kali siapa pun selain kamu yang mengajak aku pergi."
"Aku akan menghubungi mu untuk pergi bersama-sama."
Viona mencibir dan berkata,
"Untuk apa ? aku tidak mau menjadi tiang lampu merah, untuk kamu dan dia.."
Andi menghela nafas berat dan berkata,
"Kalau kamu tidak bersedia, aku terpaksa menolak ajakan mereka."
"Aku akan beritahu pada mereka, kecuali kamu ikut, bila tidak aku tidak akan ikut pergi."
Viona tersenyum mendengar ucapan Andi yang polos.
"Tapi aku bukan ibu mu, juga bukan istri ataupun pacar mu, buat apa kamu seperti itu.?"
ucap Viona membalas Andi.
"Tidak apa-apa, asal kamu gembira senang dan bahagia, bagi ku itu sudah lebih dari cukup."
Di dalam hati Andi berkata,
"Kamu tidak tahu posisi mu di hati ku Vi, kamu tidak tahu seberapa pentingnya kamu di hatiku.."
"Aku lakukan ini semua, karena aku menyadari satu hal,
di kehidupan berikutnya, belum tentu aku bisa kembali bertemu dengan mu, jadi bagaimana pun di kehidupan ini aku akan selalu ada untukmu."
"Aku akan berusaha sekuat tenaga menjaga perasaan mu, dengan hati-hati, dan tidak akan membiarkan mu menangis sedih."
"Meski harus menghadapi sikap keras kepala, sikap emosi,
sikap suka berbuat onar dan mau menang sendiri, aku akan tetap berusaha menerima nya dengan sabar."
"Apapun sikap mu aku akan menerima semuanya."
Batin Andi dalam hati.
Viona tersenyum, dia menyentuh tangan Andi dengan lembut dan berkata,
"Terimakasih ya di, kamu bisa mengerti dan menerima semua sikap ku yang terkadang suka tidak masuk akal."
Andi tersenyum dan mengangguk sambil berkata,
"Sekali ini murni salah ku, jadi maafkan saya ya Vi ? aku janji tidak akan ada kedua kalinya lagi."
__ADS_1
Viona tersenyum senang dan berkata,
"Lupakan saja, aku tidak apa-apa, aku dari siang belum makan, kita makan yuk ke warung Bu Jawi."
Andi mengangguk cepat dan berkata,
"Jangan warung Bu Jawi Vi, kalau sudah sore gini masakan nya udah kurang enak, dan tinggal sisa-sisa saja."
"Aku akan mengajak mu ke langganan favorit ku yang lain, yuk kita kesana sekarang."
ucap Andi sambil menggandeng tangan Viona membantunya berdiri
Viona tidak menolaknya, bahkan Kemudian mereka berdua terlihat berjalan bergandengan tangan meninggalkan kost Andi.
Andi hatinya sangat gembira dan berbunga-bunga.
Sebelumnya asal bisa ngobrol makan dan jalan bersama. meski ada Santi, diantara mereka dia sudah sangat bahagia.
Kini semakin ada kemajuan, Viona datang mencarinya, mereka berjalan berdua, sambil bergandengan tangan untuk dinner berdua."
Ini sungguh-sungguh luar biasa, bahkan di dalam mimpi sekalipun, Andi tidak pernah terbayangkan akan ada hari seperti ini.
Viona melirik kearah Andi, yang terlihat terus tersenyum sendiri.
"Di kamu mikirin apa ? kenapa terus tersenyum sendiri sepanjang jalan. ?"
Andi tersentak dari lamunannya, dia agak canggung berkata,
"Semua karena ini,"
ucap Andi sambil mengangkat tangan Viona dalam genggaman tangannya.
"Maksudnya ?"
tanya Viona terlihat bingung.
"Vi dulu aku hanya bisa menatap mu dari jauh, benar tidak ?"
"Ya lalu..?"
jawab Viona bingung dan menatap Andi penasaran.
"Lalu kita sudah bisa ngobrol makan dan jalan bersama-sama, dan sekarang aku bahkan bisa berjalan sambil..."
ucapan Andi belum selesai, Viona pun sadar, wajahnya langsung berubah merah.
Viona dengan halus menarik kembali tangannya dan berkata,
"Andi kamu kenapa jadi nakal ?"
Setelah itu Viona mempercepat langkahnya, dengan kepala tertunduk malu meninggalkan Andi.
Andi buru-buru mengejar nya dan berkata,
"Vi maaf aku...aku kurang pandai bicara.."
"Tapi jujur aku benar-benar sangat bahagia, bahkan di dalam mimpi pun aku tidak pernah terbayangkan akan ada hari seperti ini."
__ADS_1