
Andi melambaikan tangannya kearah pelayan yang berdiri tidak jauh dari mejanya, setelah pelayan tersebut mendekat.
Andi memesan beberapa macam masakan dan minuman, sambil memesan Andi bertanya pada Violin.
"Lin kamu mau pesan tambahan apa tidak ?"
Violin mencemberutkan bibirnya dan berkata,
"Aku mau foto, bukan mau pesan makanan.."
Andi tersenyum tak berdaya dan berkata,
"Mbak dengarkan pesanannya,? jadi tolong bantu ya, ambilkan beberapa foto, agar dia puas.."
Pelayan itu menahan tawa sambil menutupi mulutnya, tapi dia mengangguk dan menerima HP Andi dan berkata,
"Siap pak saya akan bantu.."
Violin wajahnya langsung berubah cerah, dia segera bangun dari tempat duduknya, lalu menarik tangan Andi untuk mencari tempat berpose.
Dia pula yang mengatur cara berpose Andi, mirip dengan sepasang kekasih yang sedang berfoto mesra.
Ada beberapa gerakan yang terlalu vulgar Andi menolaknya, tapi rata rata bila tidak terlalu vulgar Andi pasti akan menyetujui nya.
Di penghujung gambar, Violin dengan gaya manja dan tatapan penuh harap berkata,
"Satu aja,...satu aja...please ...ok..?"
Andi menggelengkan kepalanya, tapi dia memegang kedua telinga Andi dan menariknya ke bawah secara paksa
Seolah-olah Andi menyetujuinya, dia pun sambil tertawa gembira berteriak
"Horee. !"
"Ayo mbak tolong diambil foto terakhir nya.."
Violin melingkar kan sepasang tangannya, di belakang leher Andi, kemudian sambil berjinjit dengan kaki sebelah sebagai tumpuan.
Sedangkan kaki satunya lagi ditarik kearah belakang di biarkan menggantung agak tinggi.
Lalu Violin menjulurkan bibirnya yang runcing kearah bibir Andi sambil matanya melirik kearah kamera dengan wajah gembira.
Sedangkan Andi terlihat kaget dan panik mundur menjauhi bibir Violin, yang benaran ingin mencium bibir nya.
Saat itulah gambar di ambil oleh si pelayan, kemudian HP Andi di kembalikan kearah Violin sambil tersenyum ramah.
Violin buru buru menerima nya dan berkata,
__ADS_1
"Terimakasih banyak Mbak.."
Violin sambil tersenyum gembira mulai mengirim satu persatu foto foto yang di ambil ke HP nya sendiri.
Setelah puas, dia baru mengembalikannya ke Andi
Andi hanya menggelengkan kepalanya menanggapi gaya dan sikap Violin yang lucu.
bebas dan natural tidaki di buat buat .
Diam diam di dalam hati, Andi harus akui wajah Violin dan Viona semakin lama semakin mirip, yang beda hanya sikap mereka.
Viona lebih jaga sikap, dan pandai menyimpan perasaan, sedangkan Violin lebih terbuka dan berterus-terang.
Saat Andi melihat layar tampilan depan nya yang di ganti Violin dia langsung terbelalak melihat nya.
Violin terlihat sedang menertawai ekspresi Andi bahkan dia mengambil gambarnya untuk di abadikan..
Andi buru-buru menghapus semua Foto vulgar tersebut, lalu menggantinya kembali dengan foto dirinya bersama Viona.
Andi hanya menggelengkan kepalanya menegur Violin, dengan tatapan mata nya saja.
Tapi Violin tidak memperdulikan nya, dia terlihat malah merentangkan. sepasang tangannya, sambil menghirup udara yang sejuk dan segar sepuasnya.
Andi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tak berdaya.
Setelah selesai mereka berdua pun meninggalkan tempat yang bagi Andi menyimpan kenangan yang tak terlupakan bersama Viona.
Sedangkan bagi Violin restoran ini menyimpan kenangan indah nya bersama Andi, mungkin ini adalah terakhir kalinya bagi Violin untuk berjalan jalan berdua bersama Andi.
Karena setelah ini, tepatnya Minggu depan, dia akan mencoba sebisa mungkin menjauhi Andi dan berfokus pada sekolah nya.
Dia tidak mau menjadi pengganggu hubungan kakaknya dengan Andi, yang hanya akan menimbulkan kesulitan buat Andi nantinya.
Inilah keputusan yang diambil oleh Violin, makanya tadi dia bersikap narsis dan nekad.
Karena dia pikir ini adalah untuk kenangan terakhirnya.
Dia akan menggunakannya sebagai kenangan terakhir yang terindah bersama Andi.
Andi mengantar Violin hingga depan kamarnya, setelah memastikan Violin masuk kedalam kamar dengan aman.
Andi baru kembali ke kamarnya sendiri yang terletak persis bersebelahan dengan kamar Violin.
Setelah masuk kedalam kamar, Andi pun mandi membersihkan diri, berganti pakaian tidur, mematikan lampu duduk bersila mengatur pernafasan untuk meningkatkan kekuatan nya.
Keesokan paginya, Andi bersama ko Ahong Berry Violin dan kru yang di bawa ko Ahong, pagi pagi sudah hadir di acara timbang badan.
__ADS_1
Mereka harus menunggu cukup lama, hingga akhirnya Ginting muncul bersama manajer dan kru nya.
Saat sesi timbang badan, semua berjalan cukup lancar dan teratur.
Tapi saat sesi ambil foto bersama antara kedua petinju.
Sedikit terjadi kericuhan antara ko Ahong dan Ginting yang pintar memprovokasi dan memancing emosi orang.
Saat foto bersama antara kedua petinju yang harusnya adalah mereka berdua cukup berdekatan dan saling menempel kan sarung tinju mereka.
Tapi Ginting merubahnya dengan memasukkan tinjunya kearah rahang Andi, meski tidak serius dan hanya berpura-pura.
Tapi tindakan itu menunjukkan Andi terkena pukulannya, ini sangat tidak baik untuk promosi nama Andi..
Ko Ahong tentu tidak setuju dan melakukan protes, tapi bukan nya minta maaf, Ginting malah melontarkan tantangan kata kata rasis dan tidak sopan.
Sehingga ko Ahong meledak emosinya, dan hampir menyerang Ginting, untungnya Andi berhasil menenangkan ko Ahong.
Andi memilih mengalah dan tidak memperpanjang urusan, memilih menggiring ko Ahong kembali ke kamar hotel.
Tidak memberikan komentar apapun atas pertanyaan yang di lontarkan oleh kru wartawan, yang ingin memancing di air keruh mencari berita sensasi.
Akhirnya konferensi pers, di berikan kepada Ginting, untuk berkoar-koar sepuasnya.
Wartawan yang tidak mendapat respon dari Andi, memilih mengagungkan sosok Ginting dan menjatuhkan Andi dengan komentar komentar miring.
Ko Ahong yang melihat siaran live nya di TV sempat emosi dan marah-marah.
tapi Andi bersikap santai, tidak terlalu menanggapinya.
Andi memberi kode agar Maria membantu menenangkan ko Ahong, dengan menggiringnya menuju kamar.
Andi berpikir saat ini paling tepat, Maria lah yang menjadi pil penenang buat libido Ahong, yang sedang mengebu gebu.
Karena ko Ahong tidak membawa istrinya turut serta, dengan alasan anaknya masih kecil kecil, Andi terpaksa menyerahkan Ahong ke tangan Maria.
Andi tidak terlalu menanggapi gaya Si Ginting, bukannya Andi takut dengan nya.
Justru Andi sedang membiarkan dia menggali lobang kuburnya sendiri
Membiarkan publik yang menilainya, saat nanti Ginting kalah, dia pasti akan di tertawakan dan di cemooh habis habisan oleh publik, karena sikapnya itu.
Andi justru sedang menunggu momentum tersebut, karena Andi sadar betul Ginting itu bukan lawannya.
Di bandingkan dengan lawan lawannya di arena underground Ginting itu tidak ada apa-apa nya.
Hanya satu yang perlu di waspadai oleh Andi, adalah di sini lebih banyak peraturan permainan nya, sehingga Andi tidak bisa bebas bertindak sesuka hati.
__ADS_1